JACKIE (2016)

Pada 14 Februari 1962, Jacqueline "Jackie" Kennedy lewat acara "A Tour of the White House with Mrs. John F. Kennedy" mengajak pemirsa televisi berkeliling Gedung Putih supaya publik tahu seperti apa rupa tiap sudut kediaman Presiden Amerika Serikat tersebut. Kini giliran Pablo Larrain membawa kita memasuki ruang personal Jackie, menyingkap isi hati Ibu Negara termuda ketiga ini pasca pembunuhan terhadap John F. Kennedy. Ketimbang merangkum seluruh perjalanan hidup sang titular character, "Jackie" mengetengahkan bagaimana ia menghadapi duka atas kematian sang suami yang oleh filmnya dikemas jujur, apa adanya, menghormati tanpa pernah mengultuskan. 

Keabsahan cerita film ini mungkin bisa diperdebatkan, namun layaknya catatan sejarah mana pun, tiada kebenaran hakiki melainkan satu versi yang disepakati bersama. Di awal film, Jackie (Natalie Portman) menegaskan pada seorang jurnalis (Billy Crudup) yang hendak melakukan wawancara bahwa kisah yang akan si jurnalis dengar dan tulis adalah versinya. Kalimat itu seolah digunakan Noah Oppenheim selaku penulis naskah guna menegaskan perspektifnya kepada penonton. This is a story about Jackie Kennedy from Jackie Kennedy herself. Beberapa bagian naskah sendiri dibangun berdasarkan wawancara Theodore H. White dari majalah Life dengan Jackie. 
Pendekatan konvensional akan memposisikan kisah ini sebagai setup dengan puncak berupa pembunuhan John F. Kennedy. Oppenheim memilih jalan lain. Peristiwa tersebut tetap ditampilkan, tapi sekilas saja. Bukan untuk tujuan akhir melainkan pemicu gejolak yang mesti ditemui protagonis. Alurnya bergerak acak memperlihatkan Jackie sebelum kematian John (pengambilan gambar tur Gedung Putih) sampai setelah, ketika status First Lady memaksanya berurusan dengan tetek bengek urusan seremonial, kenegaraan, serta intensi beragam dari bermacam pihak alih-alih bebas membenamkan diri dalam kesedihan. Semua menghampiri Jackie begitu cepat, dengan jangka waktu teramat singkat. Poin ini jadi titik penting naskahnya, menjelaskan mengapa dia sangat terpuruk. 

Keterpurukan Jackie menghasilkan observasi kompleks seputar pilu akibat kehilangan orang tercinta. Umumnya, ketika seseorang meninggal, kerabat yang ditinggalkan bakal bermulut manis, mendeskripsikan sosok almarhum bak manusia sempurna. Jackie awalnya mengembangkan kesan serupa termasuk kala kukuh memaksakan prosesi pemakaman besar-besaran demi menghormati jasa John sebagai Presiden. Tapi seiring waktu berjalan, semakin sering Jackie mengungkapkan perasaan baik verbal maupun respon dalam keheningan, timbul ambiguitas. Apakah Jackie melakukan semua bagi mendiang sang suami, atau untuk dirinya sendiri yang mencintai glamoritas? "Jackie" tidak ragu memancing pertanyaan tersebut, membungkusnya jadi studi terang-terangan tanpa perlu terkesan menyerang objek penceritaannya. She's lovable but not a saint. She loves her late husband but doesn't think that he was perfect. 
Jacqueline Kennedy bukan saja Ibu Negara. Berkat figur feminin, paras cantik dan busana modis, ia juga merupakan fashion icon, membuat para pria tersenyum jatuh hati pula diidolakan wanita. Termasuk melalui program "A Tour of the White House with Mrs. John F. Kennedy", figur politik tak lagi membosankan karenanya. Sehingga menarik ketika wanita yang dikenal mempesona dan menghembuskan nyawa ke Gedung Putih ini ditampilkan dalam fase sedemikian berbeda, diselimuti amarah, kesedihan, putus asa, hilang arah. Walau untuk penonton di luar Amerika yang kurang familiar dan tidak merasa "memiliki" Jackie, penggambaran itu takkan seberapa menusuk.

Mewakili kesan glamor dan kegemaran Jackie kepada seni, filmnya menonjolkan estetika tiap sisi departemen artistik. Desain produksi buatan Jean Rabasse piawai mereplikasi interior mewah Gedung Putih termasuk detail ornamen yang apabila anda bandingkan dengan footage "A Tour of the White House with Mrs. John F. Kennedy" nampak persis. Scoring orkestra gubahan Mica Levi (mendapat nominasi Oscar) mengiringi nyaris di tiap situasi, berfungsi mendramatisasi, megah, sanggup menyiratkan ironi suatu tragedi. Sedangkan desain kostum dari Madeline Fontaine (also an Oscar nominee) sukses mereka ulang busana-busana Jackie Kennedy yang khas berhiaskan warna-warni memikat mata.
Pengadeganan Pablo Larrain kerap mengandalkan close-up agar mendekatkan penonton pada ekspresi Jackie, memaksimalkan observasi. "Jackie" lebih banyak disusun oleh presentasi momen-momen personal saat sang tokoh utama membenamkan diri dalam beragam rasa daripada suguhan narasi linier konvensional di mana keheningan sering mendominasi ketimbang paparan aksi. Bahkan kalau mau, Larrain bisa saja menjadikan film ini tontonan kontemplatif "Malick-esque". Larrain memamerkan kapasitasnya bertutur mengandalkan gambar tanpa perlu deskripsi verbal gamblang atas sebuah situasi. Pergerakan alur acak pun dapat ia tangani, tersusun rapi, walau keputusan berfokus pada curahan emosi Jackie makin lama terasa repetitif. 

Disokong jajaran nama besar yang bermain baik sesuai porsi masing-masing seperti Peter Sarsgaard, Greta Gerwig, sampai John Hurt dalam salah satu peran terakhirnya sebelum meninggal awal tahun ini, "Jackie" tetaplah panggungnya Natalie Portman. Sang aktris mampu "menghidupkan kembali" Jacqueline Kennedy. Coba saksikan footage lawas yang menampilkan Jackie, maka anda bakal melihat ketepatan Portman berekspresi dan bergerak, bahkan hingga gestur kecil semisal gerakan kepala. Cara bicaranya pada adegan tur Gedung Putih mungkin terdengar bagai imitasi belaka, namun tak sampai jatuh ke ranah parodi. Seringnya kamera menyoroti wajahnya dari dekat Portman manfaatkan sebagai sarana berbicara memakai mimik wajah kuat, membuat penonton mudah menangkap betapa kalut dan rumitnya isi hati Jackie. Karena duka dan kematian bukan hal sederhana, terlebih jika anda wanita nomor satu negara adidaya.  

RINGS (2017)

Let's admit that "Ring" is product from the past. Konsep penyebaran kutukan melalui VHS hanya bisa efektif di masa ketika transfer informasi belum secepat dan semudah era digital. Sekarang, kecuali mengambil setting masa lalu, kesulitan karakter melepaskan diri dari kutukan terasa konyol daripada mengerikan. Tinggal unggah video ke media sosial atau YouTube, dalam sekejap masalah terselesaikan. "Sadako 3D" (plus sekuel yang sama buruknya) coba melangkah ke tahap itu namun gagal, sebab poin utama franchise buatan Koji Suzuki ini terletak pada kecemasan korban mencari "tumbal" ditambah ketidaktahuan atas video tersebut. Ditambah lagi, Sadako  atau Samara dalam versi remake Amerika  sudah kerap jadi bahan parodi.

Pergantian jadwal rilis mencapai tiga kali (November 2015 ke April 2016, ke Oktober 2016, hingga akhirnya Februari 2017) tentu merupakan sinyal buruk bagi "Rings" yang bertempat 13 tahun pasca film pertama, tak menganggap keberadaan "The Ring Two" (2005). Bagai membuktikan kekhawatiran itu, opening yang menampilkan teror Samara Morgan (Bonnie Morgan) di atas pesawat langsung menyalahi rule. Aturan ini penting. Tanpanya, kemunculan sesosok entity selaku villain dapat tak berarti, melucuti intensitas. Coba bayangkan mendadak Freddy Krueger bisa membunuh di dunia nyata. Aturan main Samara jelas; calon korban menonton video, tujuh hari kemudian mati apabila tidak menyalin video dan mempertontonkannya pada orang lain. 
Mengapa seluruh penumpang yang baru saat itu menonton video seketika terkena kutukan Samara lalu tewas? Adegan ini eksis hanya demi satu tujuan, yakni menciptakan pembuka bombastis. Celakanya, F. Javier Gutierrez gagal menghadirkan kengerian akibat kurang memahami pemicu rasa takut. Kenapa kecelakaan pesawat, kutukan Samara, dan secara umum kematian, dianggap menakutkan. Dia sekedar menyuguhkan, lalai menyeret penonton dalam rasa takut serupa yang dialami tokoh-tokohnya. Kegagalan ini bertahan hingga film berakhir, menjadikan 102 menit durasi "Rings" sebagai obat tidur mujarab meski sejatinya Gutierrez mengusung niat mulia untuk membuat horor tanpa eksploitasi jump scare berlebihan. 

Naskah tulisan David Loucka, Jacob Aaron Estes, dan Akiva Goldsman punya niatan serupa, hendak menekankan investigasi berbalut twisted drama seputar keluarga bahkan agama. Julia (Matilda Lutz) menjadi tokoh sentral sewaktu ia mendapati sang kekasih, Holt (Alex Roe) yang tiba-tiba tidak memberi kabar telah terjebak dalam lingkaran setan kutukan Samara pasca mengikuti "eksperimen" sang dosen, Gabriel (Johnny Galecki). Demi menghentikan kutukan tersebut, Julia dan Holt melakukan penyelidikan yang membawa mereka pada masa lalu Samara serta kasus hilangnya wanita misterius bernama Evelyn (Kayli Carter). 
"Rings" tersusun atas rangkaian investigasi seputar misteri amat sederhana tapi terlalu berusaha tampil kompleks hingga menjadi "bumerang" tatkala trio penulis naskahnya kewalahan menangani benang kusut alurnya. Bahkan nihil substansi, tanpa ikatan pasti dengan first act serta konklusi yang bak berdiri sendiri-sendiri. Para penulis nampak terbebani merangkai tiga poin; teror video kutukan selaku ciri franchise-nya, masa lalu Samara, dan menjembatani sekuel. Begitu asal cara penyatuannya, motivasi tiap karakter pun mengundang pertanyaan, termasuk Samara. Perlukah makhluk macam dia mempunyai motivasi? Baik Samara maupun Sadako bergerak didasari dendam, bertujuan menebar ketakutan memakai banyak cara, bukan sekedar mesin pembunuh. Di sini, Samara bagai anak bodoh yang bertindak serampangan pula gemar pamer kekuatan. 

Proses investigasi suatu film bertujuan mengundang rasa penasaran penonton, dan "Rings" tak memilikinya karena kita pun tidak dipancing supaya ingin tahu. Filmnya membeberkan fakta demi fakta, namun tidak demikian alasan mengapa itu diungkap, ke mana semuanya bakal bermuara dan kenapa penonton mesti peduli. Terlebih dalam perjalanan Julia dan Holt unsur kecemasan kala berpacu dengan waktu sebelum kutukan menghampiri  yang mana merupakan pondasi utama seri "The Ring"  malah dilupakan. Paparan mengenai keluarga disfungsional yang esensial menyokong kisah Samara (dan Sadako) urung mencengkeram sebab naskahnya terlampau jinak, takut melewati batasan rating PG-13. Padahal terdapat daya tarik di penceritaan soal figur agamawan yang didukung performa kuat Vincent D'Onofrio. 
Ada niat baik menggiring "Rings" ke ranah psychological horror-mystery yang tak hanya gemar mengageti, tetapi selain penelusuran teka-teki hambar sekaligus karakterisasi dangkal, Gutierrez juga tak piawai membangun kesan atmosferik, di mana usaha sang sutradara justru berakhir menyeret jalannya tempo adegan, menciptakan kebosanan. Sederet jump scare yang semestinya jadi hentakan penawar kantuk berlalu begitu saja akibat kesan repetisi adegan mimpi atau halusinasi. Saat penonton tahu sebuah kengerian merupakan kepalsuan, jangan harap rasa takut sanggup menjalar. 

Gutierrez sesungguhnya memiliki insting visual mumpuni. Dibantu sinematografi garapan Sharone Meir, beberapa peristiwa unnatural tampak memikat di layar, begitu pula footage video berisi creepy imageries yang tetap menghipnotis. Namun sewaktu rasa takut gagal dibangun di sisa momen lainnya, visual tersebut sekedar menjadi parade gambar memikat mata belaka. It could be a creepy, fascinating surreal clips or horror music video though. "Rings" adalah usaha putus asa mengais kejayaan masa lalu yang makin mencoreng kebesaran namanya. Butuh kreatifitas ekstra untuk modernisasi, lebih dari sekedar transformasi VHS ke video digital, menyertakan internet selaku penyesuaian bagi generasi millenial atau upaya menangkis olok-olok kemunculan Samara melalui smartphone (baca: media elektronik berlayar mini) yang justru memancing kekonyolan serupa parodi tersebut.

JOURNEY TO THE WEST: THE DEMONS STRIKE BACK (2017)

Sekuel bagi "Journey to the West: Conquering the Demons"  film terlaris China tahun 2013 sekaligus salah satu yang terbaik  ini mempertemukan Tsui Hark si "Raja Wuxia" dan "Raja Komedi", Stephen Chow. Sebelumnya, Hark sempat muncul selaku cameo di "The Mermaid" buatan Chow yang juga merupakan film berpendapatan terbesar sepanjang masa di "Negeri Bambu" tersebut. Kelihaian Hark mengkreasi adegan aksi dipadukan absurditas komedi Chow yang kali ini sendirian menulis naskahnya tentu menjadi magnet kuat. Terbukti lewat keberhasilan melampaui pendapatan film pertama. It's definitely bigger, but is it better?

Kisahnya melanjutkan perjalanan Tang Seng (Kris Wu) mencari kitab suci ke India bersama ketiga muridnya, Sun Wukong si Raja Kera (Lin Gengxin), siluman babi Zhu Bajie (Yang Yiwei) dan siluman air Sha Wujing (Mengke Bateer). Guna bertahan hidup mereka menawarkan jasa mengusir siluman dan memamerkan atraksi di kelompok sirkus. Namun perselisihan antara Wukong dan Tang Seng kerap menyulitkan perjalanan. Wukong jengah atas perlakuan seenaknya dari sang guru (memanggilnya "kera nakal", mencambuk dan menyanyikan lagu anak sebagai hukuman). Tang Seng pun kewalahan menghadapi kenakalan Wukong, dan masih menyimpan amarah akibat murid pertamanya itu membunuh Duan (Shu Qi), cinta sejati Tang.
Meneruskan jejak "Conquering the Demons", "The Demons Strike Back" walau kental komedi merupakan presentasi versi kelam "Journey to the West". Unsur kekerasan dan kematian tidak sekental film pertama, namun ada kompleksitas soal hubungan guru-murid khususnya Tang Seng dan Sun Wukong. Sebagai bekas siluman kejam, tentu logikanya mereka takkan semudah itu patuh. Chow menekankan itu ketika Wukong benar-benar membenci Tang, bahkan sekali waktu berniat membunuhnya dengan Bajie dan Wujing memberi dukungan. Layaknya proses alamiah, ketika "Conquering the Demons" adalah pertemuan, maka sekuelnya ini berfungsi menyatukan keempat protagonis, hingga apabila kelak ada installment ketiga, kita akan bertemu dengan tim yang telah solid. 

Chow menempatkan banyak pertengkaran sebagai rintangan, alat memaparkan konflik. Masalahnya, pemaknaan Chow pada istilah "konflik" terlampau dangkal, yaitu saling berteriak, mengeluh, dan dilakukan berulang kali, berujung repetitif pula menyebalkan ketimbang menghasilkan cengkeraman kuat drama seputar love/hate relationship. Biksu Tang versi Chow adalah sosok kompleks. Penyebar ajaran Buddha, tetapi bodoh dan terjebak dalam duka duniawi akibat cinta. Berbeda dibanding Wen Zhang pada film pertama yang simpatik, akting Kris Wu membuatnya bagai pemuda manja, hanya bisa merengek, tak berguna, seperti minta dihajar habis-habisan. The relatable, more human version of Tang Sen from the previous movie is gone, replaced by this spoiled brat
Tidak biasanya pula Chow miskin ide merangkai narasi ringan. "The Demons Strike Back" ibarat gabungan kasar dari berbagai story arc perjalanan Biksu Tang ketimbang satu skema besar yang saling berkaitan meski bagi penonton yang familiar terhadap kisahnya, kemunculan Siluman Laba-Laba dan Siluman Tengkorak dapat memunculkan nostalgia. Chow nampak memaksakan diri memanjangkan cerita dengan setumpuk filler tak substansial dan membosankan seperti beberapa sekuen pasca pertempuran di istana. Tapi bukan semata-mata kesalahan naskah, sebab penyutradaraan Tsui Hark turut berpengaruh. 

Penonton masih disuguhi kekonyolan komedi khas Stephen Chow dan beberapa momen sanggup memproduksi tawa, hanya saja urung mencapai titik tertinggi serta banyak humor berakhir datar. Lagi-lagi kegagalan tersebut disebabkan interpretasi dangkal. Hark sekedar mengundang kekacauan dan keramaian sebanyak mungkin dalam menangani komedi, tanpa ketepatan timing atau pilihan shot mendukung. Tidak seperti Chow, Hark kurang pandai bermain komedi visual, alhasil yang penonton dapatkan tak lebih dari slapstick konyol yang mudah terlupakan. 
Battle sequence-nya didominasi CGI yang mengemas seluruh aspek, mulai karakter sampai setting. Pertempuran di istana dan klimaks hampir 100% memakai CGI. Kesan cartoonish akibat kualitas tak seberapa bisa dimaklumi mengingat ini bukan produksi Hollywood, walau pilihan full CGI mengundang dipertanyakan mengingat bujet film ini setara pendahulunya ($64 juta dollar). Di sini barulah Tsui Hark unjuk gigi mempertontonkan kepiawaian merangkai hiburan penuh warna. Dibantu desain produksi mumpuni, Hark sukses mewujudkan visi menghadirkan visual spectacle berisi kostum pula tata set dan properti meriah sebagaimana diperlihatkan opening dan setting istana, bak membawa keramaian produksi Bollywood berskala besar. 

Skala pertarungan pun lebih besar dan pengemasan Hark terbukti kreatif. Berbagai adegan aksi khususnya klimaks memiliki apa yang jarang kita temui pada Hollywood blockbuster, yakni imajinasi. Bayangkan pertempuran Wukong dan Tang Seng melawan "tiga Buddha" di tengah samudera itu didukung efek visual mahal Hollywood. Epic. Sayangnya rangkaian action sequence-nya terasa artificial karena Hark sekedar menaruh fokus pada menumpahkan visual semeriah mungkin tanpa membangun ketegangan atau meyakinkan penonton bahwa yang tersaji di layar adalah makhluk hidup, bukan saling serang antar tokoh kartun. It looks cool, but nothing at stake there, no life. 

GUNUNG KAWI (2017)

Kita tahu track record Nayato Fio Nuala. Sepanjang karirnya selama hampir 14 tahun, telah 83 kredit penyutradaraan didapat (plus berbagai posisi lain). Bersama Sultan KK Dheeraj, Baginda Nayato selalu jadi bahan bulan-bulanan akibat karya mereka yang selalu "aneh bin ajaib". Tapi kita sering lupa bahwa sejatinya Nayato menyimpan passion besar terhadap sinema. Seleranya pun bagus, setidaknya dibanding sutradara-sutradara penghasil film buruk lain. Saya cukup yakin, mayoritas sutradara tersebut jangankan suka, belum tentu mereka pernah menonton karya-karya Wong Kar-wai, influence terbesar Baginda Nayato khususnya dari segi teknis. Dia tak menyukai "The Godfather" karena cara bertuturnya, tapi itu lain cerita.

"Gunung Kawi" ditinjau lewat aspek mana pun bukanlah film bagus. Merupakan sekuel bagi "Dilarang Masuk..!" (review di sini). "Gunung Kawi" membawa konsep komedi-horor serupa film pendahulunya menerapkannya pada formula klasik berupa para remaja yang diteror makhluk gaib di tengah hutan. Tentu naskah garapan Ery Sofid ("Kastil Tua", "Pocong Pasti Berlalu", "Di Sini Ada Yang Mati") sama sekali belum layak disebut solid merajut cerita pula menggampangkan resolusi konflik, tapi setidaknya enggan mencoba sok pintar dengan kejutan dipaksakan misalnya. Semua disusun seperlunya walau logika bertutur kerap dipertanyakan. 
Adit (Maxime Bouttier) mendapati sang ayah, Drajat (Roy Marten) bertingkah aneh, sering berhalusinasi akibat tak lagi memberi tumbal sebagai syarat pesugihan yang ia dapat di Gunung Kawi. Pabrik rokok selaku sumber mata pencahariannya pun bangkrut seketika. Merasa iba, Adit memilih mengajak teman-temannya pergi ke Kawi guna mencari obat bagi Drajat. Kenapa ia repot-repot menantang bahaya alih-alih mencari dukun sakti di sekitar? Karena kalau begitu filmnya takkan bisa dibuat. Sebagaimana manusia waras pada umumnya, teman-teman Adit awalnya menolak, terlebih trauma kejadian di film pertama belum hilang. Namun didorong rasa setia kawan, mereka memutuskan bersedia menemani Adit ketimbang meyakinkan ada cara lain yang lebih mudah dan aman. 

Serupa film pertama, kebanyakan sentuhan komedinya cenderung mengesalkan daripada menyenangkan, khususnya saat melibatkan karakter Bang Jono (Reymon Knuliqh), satpam sekolah yang tak pernah serius, selalu asal bicara. Film ini total berkomedi, di mana para hantu pun tak ketinggalan mengumbar aksi konyol. Menurunkan kadar kengerian, namun Nayato seperti sadar akan ketidakmampuan mengemas penampakan seram, lalu memilih pendekatan "so-bad-and-stupid-it's-good". Berhasil? Pastinya tidak. Sepertiga akhir durasi ketika filmnya mengembalikan setting ke perkotaan jadi rutinitas jump scare berisik yang diperparah tata suara perusak gendang telinga. Paling tidak Nayato dan rekan sudah jujur, sadar, dan tahu film macam apa ini.
"Gunung Kawi" walau dipenuhi sinematografi gelap tak kreatif standar suguhan horor berlokasi di hutan, sempat mengembalikan ingatan atas kepiawaian Nayato mengemas gambar apik. Cuma sekali, tepatnya sewaktu Roro (Roro Fitria) menari. Adegan itu menggelikan akibat akting over-the-top layaknya sinetron kolosal Indosiar dari sang aktris, tetapi warna-warni tata artistiknya cukup menghibur mata. Sekilas potensi Nayato turut tampak kala protagonis mulai memasuki area Gunung Kawi. Kamera menangkap sedikit suasana hutan diiringi versi lambat lagu "Aku Tak Biasa". Menggarap ulang lagu lama dengan tempo lambat tengah menjadi tren di Hollywood. Bukan fakta mencengangkan bagi pembuat film, tapi membuktikan Nayato "melek" akan perkembangan film. Adegannya sendiri sejenak terkesan creepy, menyiratkan misteri yang segera menghampiri walau segera dirusak oleh dipaksakannya humor hadir di segala situasi.

Ditutup oleh ending yang memperlihatkan kebingungan penulisnya menutup cerita, "Gunung Kawi" meski buruk merupakan peningkatan kecil dibanding beberapa film terakhir Nayato yang mengingatkan betapa ia bukan seutuhnya sutradara nihil talenta, berpotensi menghasilkan karya mengesankan apabila didukung naskah kuat. Nayato bisa membuat film bagus. Usahanya di awal karir dahulu kentara mengarah ke sana. Sayang, deretan karya buruk dan pengaruh industri semakin mengikis potensi serta usaha tersebut. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

GENERASI KOCAK: 90AN VS KOMIKA (2017)

Bayangkan anda membeli sarden, lalu begitu kalengnya dibuka isinya ikan teri, cuma seekor pula. Sama-sama ada ikan di dalamnya tapi pasti anda kesal, merasa tertipu. Bukan saja berbeda, kualitasnya pun di bawah barang yang seharusnya. Begitulah rasanya menonton mayoritas film produksi Sultan KK Dheeraj (KKD) misal "Pocong Mandi Goyang Pinggul", "Rintihan Kuntilanak Perawan", sampai yang paling menghebohkan, "Mr Bean Kesurupan Depe". Hal sama terulang pada "Generasi Kocak: 90an vs Komika" yang bagaikan penghinaan untuk kata "kocak", era 90an dan para komika. 

Mungkin KKD membenci istilah "kocak" sebab karyanya tak pernah layak mendapat sebutan itu. Dia pun bak membenci 90an karena begitu dikenang hingga membuat film-filmnya terlupakan, juga komika yang dewasa ini meraih kesuksesan, dipuja melebihi dirinya. Seperti Dewa yang tidak lagi disembah, lalai diberi sajen, wajar beliau marah kemudian bersabda "Wahai rakyatku dan saudara-saudaraku. Janganlah kita larut dalam demokrasi yang menyesatkan (fitnah). Masih banyak cara yang lebih ksatria menuju satu tujuan". Ah, maaf. Sepertinya saya keliru mengutip sabda dari Sultan berbeda.
Siapkan mental anda, karena saya segera membeberkan salah satu sinopsis paling absurd semenjak kata "sinopsis" pertama kali diperkenalkan. Allan (Afif Xavi) adalah anggota Gangster Komika yang dipimpin Naga Komika (Anyun Cadel), sementara teman masa kecilnya, Dellon (Adi Bing Slamet) berasal dari kelompok musuh, Gangster 90an milik Si Naga 90an (Kadir). Keduanya bekerja sama mengkhianati geng masing-masing, mencuri emas batangan kepunyaan Si Naga 90an, membuat mereka menjadi buronan. Suatu hari Allan kelimpungan saat kedua orang tuanya (Jaja Miharja dan Hj. Tonah) datang ke Jakarta, sebab ia mengaku berprofesi sebagai dokter. Dibantu Dellon serta pacar masing-masing, Susi (Arafah Rianti) dan Mia (Resti Wulandari), Allan menciptakan sandiwara guna menipu ayah dan ibunya. 

Menyebut lubang logika bodoh dalam naskah garapan Herry B. Arissa ("Hantu Juga Selfie", "Pelet Kuntilanak") seperti mencari banci di Taman Lawang. Mudah ditemukan, tapi saya enggan melakukannya. Walau demikian beberapa poin mesti diutarakan. Pertama dan paling utama tentu ketiadaan momen Gangster 90an melawan Gangster Komika sebagaimana tertuang di judul. Ya, mereka diceritakan bermusuhan, tetapi cuma sekali berbagi screentime, Konteksnya pun bukan pertempuran. Dalam interpretasi "versus" paling asal sejak "Batman v Superman" ini, keduanya justru memburu Allan dan Dellon, dua gangster yang sama sekali tak pernah diperlihatkan beraksi sebagai gangster. Saya gagal pula memahami definisi "gangster" film ini. Kegiatan pihak komika sepanjang film hanya mendengar lawakan tak lucu sang bos, sedangkan Si Naga 90an asyik bermain arcade "Street Fighter". 
Jangan harap menemukan paparan menarik soal gesekan dua generasi di saat referensi budaya populer 90-an yang ada ditempatkan sedemikian asal. Herry B. Arissa dan sutradara Wishnu Kuncoro ("Dendam Arwah Rel Bintaro", "Jeritan Danau Terlarang Situ Gintung") sekedar membuat checklist barang populer di masa itu (tazos, game boy, walkman, yoyo, telepon umum dan lain-lain), menampilkannya tanpa substansi. Bagi pembuat film ini, seorang gangster bermain tazos di cafe, atau memainkan walkman di mobil yang di dalamnya pasti terdapat pemutar kaset adalah hal wajar. 

Berkedok nostalgia, "Generasi Kocak: 90an vs Komika" mengumpulkan sosok komedian tersohor yang lagi-lagi hanya bertugas melontarkan referensi. Sebutlah Mandra sebagai supir taksi. Kehadirannya sekedar untuk memfasilitasi dialog tentang Munaroh dan oplet (referensi perannya di "Si Doel"). Kadir urung bertutur memakai logat Madura ciri khasnya. Sementara Jaja Miharja kebagian satu adegan yang paling mendekati taraf lucu, namun gagal memancing tawa akibat telah diungkap dalam trailer. Satu poin positif dari para legenda tersebut yakni mereka berusaha sekuat tenaga melucu, memberi effort yang harus dicontoh komika junior. They belong to something better and more respectful than this.
Ketimbang nostalgia, "Generasi Kocak: 90an vs Komika" cenderung membuat gila. Apalagi kala caranya mengakhiri kisah menganut ilmu yang tertuang pada kitab storytelling Sultan KKD, yang berbunyi "Jika ceritamu belum usai ketika durasi mencapai 80 menit, alangkah baiknya engkau selesaikan saja memakai narasi singkat, dengan begitu penghematan biaya mampu didapat." Apabila anda belum dan hendak menonton film ini, jangan baca kalimat di bawah, sebab saya akan menuliskan SPOILER berupa ending. Tetapi jika tidak, selamat menikmati dan mencerna absurditas yang ditawarkan. SPOILER DIMULAI. Setelah klimaks saat Allan dan Dellon tertembak oleh geng 90an dan komika, keduanya dirawat di rumah sakit. Lalu kita mendengar voice over yang menuturkan bahwa mereka mengembalikan emas curian, bertobat, dan Allan akhirnya benar-benar lulus sebagai dokter, sedangkan Dellon menjadi polisi. SPOILER BERAKHIR

Anu, maaf, bagaimana? Saya kurang paham. SPOILER DIULANG. Kita mendengar voice over yang menuturkan bahwa mereka mengembalikan emas curian, bertobat, dan Allan akhirnya benar-benar lulus sebagai dokter, sedangkan Dellon menjadi polisi. SPOILER BERAKHIR. Maaf, saya pasti salah dengar, bisa diulang sekali lagi? SPOILER DIULANG SEKALI LAGI. Kita mendengar voice over yang menuturkan bahwa mereka mengembalikan emas curian, bertobat, dan Allan akhirnya benar-benar lulus sebagai dokter, sedangkan Dellon menjadi polisi. SPOILER BERAKHIR LAGI. Ya. Terserah kau sajalah Sultan. Hamba bukan apa-apa dibandingkan Sultan. 

Beberapa penonton (sekitar tujuh sampai delapan orang) yang memenuhi baris di belakang saya kerap tertawa sepanjang durasi. Mereka memasuki studio sambil berteriak, tertawa sendiri, bicara menggunakan bahasa kasar, bahkan ketika film telah dimulai, juga duduk sembari mengangkat kaki ke sandaran kursi di depannya. Tidak ada sopan santun. Seenaknya. Begitu pula cara film ini melontarkan humornya. Asyik bergurau sendiri tanpa mempedulikan ketepatan penempatan, melontarkan komedi-komedi tasteless nan menyakitkan. Lucu atau tidaknya komedi memang subjektif. Sah-sah saja apabila anda terhibur oleh "Generasi Kocak: 90an vs Komika". Silahkan bergabung dengan golongan penonton seperti di atas selaku target pasar film ini. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

MANCHESTER BY THE SEA (2016)

"Life is a comedy written by a sadistic comedy writer". Baris kalimat dari "Cafe Society" milik Woody Allen tersebut cocok menggambarkan perjalanan Lee Chandler (Casey Affleck), protagonis dalam "Manchester by the Sea". Film yang disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Kenneth Lonergan ("You Can Count On Me", "Margaret") ini sejatinya bukan komedi. Sebaliknya, sarat akan tragedi. Namun layaknya kisah tragicomedy kebanyakan, penderitaan dan situasi tak nyaman justru sumber kejenakaan. Lonergan memang "kejam" menempatkan karakter di tengah kepedihan, menggiring pada kesadaran bahwa posisi kita selaku observer, pihak ketiga yang tak terlibat langsung dengan satu peristiwa dapat memancing perspektif berlainan.

Filmnya mengawali narasi dengan memperlihatkan keseharian Lee Chandler yang bertanggungjawab merawat apartemen tempatnya menetap, mulai membersihkan salju, memperbaiki keran bocor, hingga sedot WC. Walau sigap bekerja, kita (dan para tetangga) mendapati Lee sebagai pria yang pendiam dan tidak ramah. Bahkan ia sempat berucap kasar pada pemilik apartemen, juga memicu perkelahian di bar. Suatu hari ia menerima kabar duka yang mengharuskannya pulang ke kampung halaman di Manchester-by-the-Sea, Massachusetts. Di sana Lee mesti menatap trauma akibat tragedi masa lalu sembari membantu keponakannya, Patrick (Lucas Hedges) menghadapi hal serupa.
Harmonisasi vokal sopran pada adegan pembuka mengingatkan saya akan cara quirky comedy ala Wes Anderson mengawali kisah (kelak juga terdengar megah menguatkan dramatisasi), dan sungguh "Manchester by the Sea" dipenuhi kecanggungan menggelitik. Lonergan membawa penonton memandang situasi "sulit" seperti pewartaan berita duka atau pemberitahuan jika seseorang menderita penyakit fatal dari kacamata berbeda. Tentu segala situasi itu tidak nyaman dan Lonergan berniat menunjukkan betapa kesan awkward menyimpan nuansa begitu kaya, bukan sedih belaka. It could be funny, dramatic, tragic, heartbreaking, lovely. Butuh kepekaan plus kejelian tinggi untuk menyulap tragedi menjadi tawa, dan keduanya dipunyai Kenneth Lonergan. 

Penonton dibuat ikut merasakan tapi dibatasi supaya tak merasuk terlampau dalam agar tetap bertindak selaku pengamat (tidak terlibat langsung), menjaga objektifitas, memungkinkan kita menangkap beragam rasa tersebut. Demi menghasilkan itu, Lonergan kerap menggunakan medium long shot (seluruh badan aktor terlihat) dan mid-shot (setengah badan) dipadukan kamera statis juga pengambilan gambar tanpa putus yang memfasilitasi observasi penonton secara jelas nan menyeluruh. 
Lonergan memakai quick cuts mendadak untuk menyusun pergerakan alur yang bisa tiba-tiba pindah dari masa kini menuju flashback, menampilkan perbedaan dalam diri Lee. Dahulu ia adalah bad boy, hidup bahagia bersama sang istri, Randi (Michelle Williams) dan tiga buah hati. Apa yang mendorongnya berubah menjadi sosok tak ramah merupakan misteri, keping demi keping puzzle yang perlahan mulai terisi lengkap, menjaga atensi penonton melalui pertanyaan. Quick cuts-nya memiliki beberapa fungsi lain: menguatkan dinamika, intensitas, bahkan kejenakaan. Gaya itu turut menyebabkan pergerakan alur terasa chaotic, suatu kesengajaan guna mewakili kekacauan hidup Lee. 

Naskahnya membentuk studi kokoh seputar proses karakter berurusan dengan trauma. Lee harus membantu Patrick melewati tragedi, tapi ia pun dipaksa menghadapi kepedihan masa lalunya. Lee menyamakan kondisi sang keponakan dengan dirinya, menyeret Patrick pergi, bersembunyi, menjauh sebisa mungkin dari sumber duka. Suatu hal yang selama ini ia perbuat. Padahal Patrick ingin menjalani hari seperti biasa, bermain band, hockey, dan bercinta dengan dua kekasihnya. Sadar atau tidak, Lee bukan menolong Patrick, melainkan dirinya sendiri. Lee ingin membawa Patrick pergi supaya ia pun dapat menjauh dari duka. Walau menyiratkan harapan termasuk dalam dua kalimat terakhir saat Lee dan Patrick saling melempar bola ("Just let it go", "Heads up"), konklusinya enggan memaksakan akhir bahagia, bergerak natural sebagai hasil yang pantas didapat dari proses sang tokoh utama. 
Di balik paparan mengenai duka dan tragedi, "Manchester by the Sea" juga merupakan studi manusia sebagai makhluk sosial yang takkan pernah lepas dari interaksi antar sesamanya. Apa pun kondisinya kita pasti menemui itu, harus menjalaninya. Karenanya kecanggungan sebagaimana banyak muncul dalam film ini acap kali tercipta. 

Cara bicara menggumam, mata sendu, sampai aura kerapuhan adalah beberapa aspek yang jamak dijumpai dari performa Casey Affleck. Typical from Casey, but he's so good at those things. Penampilan Casey di sini bagai kulminasi atas gaya aktingnya tersebut, tampak alamiah, kaya akan gestur dan ekspresi wajah yang meski kecil, teramat kuat mewakili emosi. Lancar pula Casey memainkan dua sisi berlawanan (sebelum dan sesudah tragedi) milik Lee. Punya porsi sedikit, Michelle Williams tetap mencuri perhatian, menyentuh hati ketika Randi mengungkapkan kepedihan terpendamnya pada Lee secara emosional. Kyle Chandler sebagai Joe, kakak Lee, mungkin tak banyak mendapat sorotan di award season, namun kemunculannya memenuhi tugas selaku peran pendukung, membuat penonton mudah percaya akan kasih sayang dan ikatan kuat dua saudara. 

LION (2016)

Tahukah anda bila banyak anak kecil di India menghilang? Jika ya, tahukah bahwa jumlahnya mencapai 80.000 tiap tahun? Tahukah pula anda soal perjalanan hidup Saroo Brierly yang terpisah dari rumah dan keluarga kemudian terus mencari keberadaan mereka meski sudah puluhan tahun? Kisah luar biasa (kerap disebut "inspiratif") serta fakta-fakta mencengangkan terkait isu sosial yang relevan merupakan beberapa pertanda suatu film layak dikatakan penting, tentunya dengan tetap memperhatikan kualitas. Apakah "Lion" selaku debut penyutradaraan Garth Davis sekaligus adaptasi buku non-fiksi "A Long Way Home" karya Saroo Brierly dan Larry Buttrose layak dikategorikan penting? 

Seorang bocah bernama Saroo (Sunny Pawar) tinggal di perkampungan kumuh, rutin membantu sang ibu (Kamla Munshi) mengumpulkan batu atau bekerja bersama Guddu (Abihshek Bharate), kakaknya. Di suatu pagi buta, Saroo menanti kakaknya bekerja di stasiun sambil tidur. Ketika Guddu tak kunjung datang, Saroo pun panik dan tertidur dalam kereta. Begitu terbangun kereta tersebut telah pergi jauh, membawanya hingga Calcutta yang asing baginya. Di sana Saroo menemui setumpuk rintangan mulai perbedaan bahasa, menghadapi cengkeraman pelaku penjualan anak sampai panti asuhan yang tidak layak. 
Babak awal "Lion" tak lain adalah panggung bagi Sunny Pawar. Banyak pemeran cilik berbakat, namun sedikit yang sanggup berakting subtil layaknya aktor berusia 8 tahun ini. Pawar mampu berteriak, meluapkan ketakutan dan putus asa seperti saat Saroo terus memanggil nama Guddu di atas kereta. Tapi puncak penampilannya terletak pada keterampilan berekspresi mikro. Pawar mungkin sekedar diam menatap, berbagi rasa lewat mata tanpa kata, atau sesekali berbagi senyuman, tetapi mudah memahami yang coba ia sampaikan. Termasuk tatkala perlahan senyum simpul nampak di bibir Saroo melihat seorang anak jalanan berbagi kardus untuk tidur. Indah, menyentuh. 

Babak berikutnya dalam kehidupan tokoh utama ditandai kedatangan John (David Wenham) dan Sue (Nicole Kidman), sepasang suami istri dari Tasmania, Australia yang bersedia mengadopsinya. Mendapat kasih sayang plus kehidupan layak, 20 tahun kemudian Saroo (Dev Patel) pindah ke Melbourne, berkuliah di jurusan manajemen hotel. Di sana ia bertemu sesama mahasiswa dari India, juga gadis asal Amerika bernama Lucy (Rooney Mara) yang kelak menjadi kekasihnya. Dari kawan-kawannya itu, Saroo mendapat cara supaya bisa menemukan lagi rumah beserta keluarganya. 
Satu hal yang sedari awal mencuri perhatian yaitu sinematografi Greig Fraser. Gambarnya tak sekedar indah menangkap hamparan padang tandus pinggiran India dan bentangan alam lain, namun turut menyimpan substansi dalam banyak landscape dengan karakternya menyempil mungil, memaparkan betapa manusia begitu kecil dibandingkan alam raya, menggambarkan tersesatnya tokoh utama di tengah dunia luas yang asing. Sedangkan naskah Luke Davies apik menuturkan pergulatan karakter yang ditandai putaran ekstrim nasib. Di satu waktu Saroo tampak mendapat secercah harapan, tak lama kemudian justru nasib buruk diperoleh. Tidak lupa Davies megkritisi institusi atau dalam film ini panti asuhan yang memperburuk kondisi anak. Di sisi lain naskahnya turut berpesan soal "embrace your opportunity". Saroo berhasil bukan saja karena ia beruntung mendapat orang tua angkat, juga karena bersedia memanfaatkan kesempatan, bergerak maju dalam hidup.

Sukses di banyak sisi, Davies justru gagal menyampaikan poin utama mengenai pencarian. Filmnya boleh bercerita tentang berbagai kisah sarat makna, namun semua tetap bermuara di konklusi selaku puncak pencarian Saroo. Momen puncak itu terasa manipulatif sebab antisipasi gagal dibangun. Penonton urung diajak menduga-duga, "Apakah ibu dan kakak Saroo masih hidup? Benarkah tempat yang ia kunjungi?". Kita hanya berulang kali melihat Saroo sibuk mengulik Google Earth. Kentara, Davies ingin mengutamakan drama manusia ketimbang menjalin ketegangan investigasi, termasuk saat romantika Saroo dan Lucy sering diketengahkan. Masalahnya selain kisah cintanya terburu-buru (berganti fase sebelum penonton sempat terpikat), mereduksi eksplorasi pencarian Saroo menjadikan hasil akhir  yang mana merupakan klimaks sekaligus tujuan  kurang bermakna. 
Di paruh klimaks tersebut Dev Patel berusaha keras menyalurkan emosi. Begitu pun Nicole Kidman yang tiap kehadirannya memancarkan kehangatan kasih tulus yang memancing haru. Kidman sempat pula menghantarkan sebuah monolog powerful selaku curahan hati seorang ibu atas sikap anak-anaknya. Sayangnya momentum terlanjur melemah, diperparah kesan cringe nan berlebihan saat sekumpulan warga bersorak sorai. Garth Davis sendiri tak mampu berbuat banyak sewaktu harus menangani situasi klise semacam itu. 

Namun serupa penulisan naskah, penyutradaraan Davis berhasil di banyak sisi. Beberapa momen terasa menggetarkan berbekal sensitivitas mengemas adegan "mentah", piawai menyentuh saat minim dramatisasi. Sebutlah ketika Mantosh kecil (Keshav Jadhav), adik angkat Saroo, meledak emosinya. Perasaan saya terguncang mendapati ungkapan jujur penuh rasa sakit seorang bocah malang yang mengalami penderitaan berkepanjangan. Davis juga memamerkan kreativitas saat tampilan Google Earth dan scene dunia nyata muncul silih berganti, menciptakan dinamika daripada gimmick belaka. Keseluruhan "Lion" sendiri berakhir menjadi kisah spesial yang eksekusinya  walau solid  takkan lama membekas. Still an important story that you need to watch though

THE LEGO BATMAN MOVIE (2017)

Dark, brooding, and gritty. Kita mengenal Batman dengan gambaran tersebut. Wajar dan masuk akal mengingat sang kesatria kegelapan beraksi berbekal modus operandi menebarkan ketakutan bagi penjahat. Namun jangan lupa bahwa waktu mempengaruhi perspektif publik terhadap karya. Perlu diketahui sempat tiba masa tatkala Batman mencapai puncak popularitas bersenjatakan nuansa campy pada era Silver Age komik (1960-an) dikarenakan masyarakat haus akan hiburan selaku escapism. Sekarang, pasca trilogi milik Nolan dan obsesi Warner Bros pada tone kelam untuk DCEU makin memuakkan, film Batman yang menyenangkan kembali dibutuhkan sebagai penyegaran. 

Tokoh Batman dalam "The Lego Movie" tiga tahun lalu amat mencuri perhatian, sehingga perilisan spin-off "The Lego Batman Movie" adalah langkah logis. Batman di sini masih pahlawan pujaan Gotham, menghabiskan malam menumpas aksi kejahatan Joker beserta puluhan villains bernama konyol lain (Condiment King, Polka-Dot Man, Egghead, Calendar Man). Tapi itu bukanlah permasalahan terbesar The Caped Crusader. Sebagaimana diketahui, Batman a.k.a. Bruce Wayne kehilangan orang tua di masa kecil mendorongnya menjadi penyendiri, menciptakan trauma akan kata "keluarga". Kini ia harus belajar menjadi ayah bagi Dick Grayson alias Robin dan berusaha mengesampingkan ego untuk bekerja sama dengan Barbara Gordon, komisaris baru kepolisian Gotham. 
Naskahnya digarap keroyokan oleh Seth Grahame-Smith, Chris McKenna, Erik Sommers, Jared Stern, dan John Whittington. Perlukah lima orang penulis mengerjakan satu animasi kental unsur komedi berdurasi hanya 104 menit? Menengok materi yang coba diangkat jelas perlu. Serupa "The Lego Movie", referensi budaya populer (WB, DCEU, Marvel, and many more) tumpah ruah mengisi porsi humor dan perlu banyak kepala guna menangani itu, belum lagi ditambah kewajiban mengawinkannya dengan kisah Batman. They have to make a good Batman movie and a good Lego movie at the same time. Hebatnya, "The Lego Batman Movie" sanggup melakukan kemustahilan itu.

Tidak perlu menunggu adegan pembuka, sejak layar hitam pun olok-olok menggelitik telah dimulai, dilanjutkan lelucon (ala Cinemasins) soal logo-logo perusahaan yang terlampau panjang mengawali film. Selanjutnya gelak tawa dipancing tanpa henti berkat komedi cerdas nan tepat sasaran yang demikian kaya menebar referensi sehingga bakal lebih efektif bekerja bagi penonton dengan pengetahuan mencukupi soal pop culture dan Batman. Tapi jangan khawatir sebab film ini tidak segmented. Sutradara Chris McKay memastikan humor universal-nya bekerja baik melalui visualisasi konyol serta penempatan timing sempurna. Beberapa pelesetan pintar (Puter, Mee-ouch, etc.) pun sanggup mengocok perut. Tawa saya meledak tiap kali filmnya bercanda, penurunan tensi beberapa menit kala menuturkan fase transformasi karir vigilante Batman (banyak materi telah dipakai di trailer) jadi amat bisa dimaafkan. 
Film Batman versi mana pun selalu mengusung duka Bruce kehilangan orang tua, perseteruan dengan Joker, sampai dilema warga Gotham menyikapi keberadaan sang pahlawan. "The Lego Batman Movie" punya semuanya, tetapi dihubungkan lewat tema kebersamaan dan keluarga. Komiknya mengenal istilah Bat Family (Batman, Robin, Nightwing, Red Hood, Batgirl, Red Robin, Duke Thomas, dan lain-lain). Walau disebut "family" Batman selalu melakukan hal sama, yakni menjauhkan mereka dalam kondisi bahaya. Film ini mengangkat isu tersebut, menghadirkan eksplorasi karakter yang (surprisingly) mendalam di tengah segala kebodohan menyenangkan. Kita bisa merasakan alasan kuat di balik tindakan Batman, kemudian mendapati prosesnya memahami pentingnya bantuan orang lain ketika filmnya jeli mempertanyakan "jika Batman begitu hebat, mengapa penjahat selalu lolos?".

Penggalian pintar terhadap love/hate relationship antara Batman dan Joker layaknya komedi-romantis twisted semakin membantah anggapan cerita kompleks khususnya dalam film superhero selalu bersinonim dengan suasana kelam, realistis, dan dewasa. Penggarapan drama yang tak main-main berujung terciptanya situasi langka di mana tawa dan haru berpadu. Saya tergelak saat close-up menangkap perubahan ekspresi Joker mendengar "penolakan" Batman, namun di sisi lain perasaan getir ikut menusuk. Begitu pula sewaktu Robin (or should we call him Reggae-Man?) mencurahkan isi hati soal kesendirian tanpa keluarga. "The Lego Batman Movie" menegaskan bahwa penceritaan solid dan menjadi keren tidak harus melupakan bersenang-senang. Batman can be cool while having fun. 
Batman movie can be fun! Kegagalan "Batman & Robin" meninggalkan trauma bagi DC dan Warner Bros, menjauhkan keduanya dari upaya menyuntikkan keceriaan dalam film si manusia kelelawar. "The Lego Batman Movie" mestinya telah meruntuhkan ketakutan itu. Visual penuh warna plus desain karakter unik (memanfaatkan fakta jika Batman dipenuhi villain berkostum aneh) masih berhasil menyegarkan mata, walau keriuhan luar biasa kerap berdampak pada shot demi shot penuh sesak hingga sulit memilah apa saja yang tengah muncul di layar. Di samping itu, walau dibentuk dari Lego, detailnya mengesankan, semisal goresan di topeng Batman yang terpampang jelas. Pilihan soundtrack-nya menyenangkan, bakal membuat anda tergoda ingin menghentakkan kaki sekaligus ditempatkan tepat sesuai kebutuhkan bak memberi contoh pada "Suicide Squad" bagaimana memakai musik asyik tepat guna. 

"The Lego Batman Movie" sukses menggabungkan kreativitas dalam Lego, keramaian dan kelucuan animasi, sekaligus kesan epic sajian blockbuster. Klimaksnya jadi bukti kala cerdik menyatukan aksi Batman menyelamatkan Gotham diiringi dentuman scoring Lorne Balfe dengan teknik bermain Lego selaku resolusi menggelitik. This is the funniest Batman movie since the 1966 version with Adam West as its titular character. Go watch this, and have a good movie time

BOVEN DIGOEL (2017)

Kita acap kali mendengar cerita mengenai sulitnya dokter atau petugas medis lain dalam memperkenalkan praktik pengobatan modern di daerah pedalaman Indonesia yang lebih percaya pada dukun serta kepercayaan mistis untuk menangani penyakit. Tidak jarang nyawa mereka terancam akibat penolakan keras warga setempat, menyisakan problematika yang menarik dikulik seputar usaha penyesuaian adat tradisional dengan ilmu sains pula perjuangan melayani di tengah keterbatasan. Kisah serupa dialami John Manangsang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia kala menjalani WKS (Wajib Kerja Sarjana) di Boven Digoel, Papua pada medio 90-an. 

Salah satu yang paling diingat tentang John Manangsang yakni ketika ia terpaksa melakukan operasi sesar menggunakan silet, yang pernah diangkat oleh sutradara Henry W. Muabuay dalam "Silet di Belantara Digoel Papua", peraih film daerah terpilih ajang Piala Maya tahun 2015. Bermodalkan produksi lebih matang serta nama-nama besar seperti Joshua "JFlow" Matulessy, Christine Hakim, dan Edo Kondologit, "Boven Digoel" selaku debut penyutradaraan FX Purnomo ini tak lain usaha mengenalkan kisah dr. John Manangsang ke khalayak luas. 
Terbukti, naskah hasil tulisan FX Purnomo bersama Jujur Prananto ("Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara") memilih pendekatan standar film biografi  yang dewasa ini digandrungi penonton tanah air  menuturkan perjalanan hidup John Manangsang (Joshua Matulessy) dari kecil saat bercita-cita menjadi pilot. Akibat ketidakmampuan secara finansial, John harus tekun belajar sembari membantu sang mama (Christine Hakim) bekerja sepulang sekolah. Namun disebabkan fisik kurang mencukupi ditambah prihatin menyaksikan sulitnya akses pelayanan kesehatan di Papua (banyak warga terlanjur meninggal di perjalanan menuju Rumah Sakit/puskesmas), John pun beralih ingin menjadi dokter. 

Momen "operasi silet" ditempatkan selaku klimaks, di mana segala keterbatasan John, beberapa kasus, serta kemunculan Markus (Edo Kondologit) dibangun agar nantinya bermuara di kejadian tersebut. Masalahnya, pilihan merangkai alur memakai template "from-zero-to-hero" nampak kurang tepat, terasa menyederhanakan pergulatan dokter di pedalaman. Menilik sekilas perjalanan John, sederet kasus sempat ia tangani, sebutlah pasien digigit ular berbisa, terkena panah, dan berbagai kondisi lain yang identik dengan warga daerah terpencil. Semua itu urung dikupas, bahkan sewaktu John dan para perawat dituding mendatangkan sial (konflik sains kontra mistis) selesai begitu saja. Terlalu menggampangkan. 
Sebagai biopic formulaik pun, "Boven Digoel" buru-buru ingin sampai ke titik John tiba di Digoel, meringkas perjuangan meraih gelar dokter. Filmnya berupaya menceritakan proses namun tak sabar mencapai fase puncak. Berasal dari keluarga miskin, kita tak tahu bagaimana ia mencukupi biaya kuliah kedokteran yang tinggi. Hanya lewat narasi "akhirnya aku berhasil" tiba-tiba pendidikannya usai, kembali ke Papua, tiba-tiba sudah beristri. Padahal bila hendak merangkum detail hidup sang tokoh (bukan satu momen tertentu), paparan tersebut substansial guna mengenalkan dan mendekatkannya dengan penonton. Naskahnya kebingungan memilih fokus. Sempat hadir konflik kecil saat Yvonne (Ira Damara) merasa sang suami sibuk membantu orang lain namun melupakan keluarga. Alih-alih memberi sentuhan personal justru terkesan dipaksakan karena tampil sambil lalu, tidak berdampak, urung pula diberi resolusi. 

Berkat production value memadahi, aspek artistik lain "Boven Digoel" tergolong lumayan. Yudi Datau tahu bagaimana menangkap gambar-gambar bagus lewat sinematografinya, sedangkan musik garapan Thoersi Argeswara sedikit memberi nuansa tradisional setempat. Walau demikian, keduanya  plus penyutradaraan FX Purnomo  kurang piawai berkontribusi membangun tensi serta emosi. Paling kentara tentunya di third act seputar "operasi silet". Pasca membawa penonton menanti selama satu jam lebih, babak puncak itu dibawakan datar. Pemilihan musik, shot, serta permainan temponya tak memperhatikan pembangunan intensitas. Berlarut-larut memperlihatkan persiapan, tentu mengecewakan saat gelaran puncaknya tak menggigit, kemudian melompat ke ending yang gagal memanfaatkan satu baris kalimat pedih yang puitis.
Bagai sebuah kebiasaan, Christine Hakim menghadirkan akting mumpuni, lancar melafalkan logat lokal dan (yang selalu membuat saya kagum) bagai efortless menyalurkan emosi mendalam, menyulap momen sederhana jadi penuh keintiman hangat. Walau harus diakui kini peran seorang ibu tegar dari keluarga kelas bawah sudah seringkali dimainkan sang legenda hidup. Joshua Matulessy seperti halnya di "Salawaku" enak disaksikan penampilannya ketika menangani pembicaraan santai, tapi masih perlu mengasah diri menghadapi adegan dramatis (terlebih soal gestur) seperti saat John bermimpi didatangi sang ibu di puskesmas. 

Andai menggali lebih jauh mengenai gesekan budaya antara dokter dan warga lokal, bukan mustahil "Boven Digoel" menjadi karya penting, bahkan bisa jadi bahan rujukan para calon dokter sebelum bertugas di remote area. Sayang, penyajian klise melucuti potensi tersebut. Bagi yang telah mengetahui kisah "operasi silet" pun filmnya urung menawarkan pemahaman baru, entah tentang sisi medis maupun daerah Boven Digoel sendiri. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

SURGA YANG TAK DIRINDUKAN 2 (2017)

Coba saksikan trailer "Rudy Habibie", "Surga yang Tak Dirindukan 2", dan "Kartini". Selain sama-sama hasil karya Hanung Bramantyo, ketiganya menyimpan persamaan lain, yakni drama yang berniat tampil megah, sampai-sampai musiknya sedemikian membahana, berdentum layaknya iringan bagi sajian epic atau thriller. Blockbuster dramatis nan megah memang jadi salah satu "wajah" Hanung dewasa ini. Menggantikan Kuntz Agus di kursi sutradara, gaya tersebut merupakan pembeda "Surga yang tak Dirindukan 2" dari pendahulunya. Semakin mewah berkat setting luar negeri (Budapest) yang tengah jadi tren perfilman Indonesia, serta kehadiran Reza Rahadian guna menambah nama besar dalam jajaran cast

Di beberapa review telah saya ungkapkan betapa Hanung amat memahami formula, tahu cara memikat pangsa pasar seluas mungkin. "Surga yang Tak Dirindukan" mengharu biru, tapi selain air mata, penonton juga menyukai tawa. Satu hal yang tidak dimiliki film pertama adalah keceriaan, dan sedari menit-menit awal, sekuelnya ini telah menyelipkan humor berupa kekhawatiran Pras (Fedi Nuril) saat sekali lagi menemui kecelakaan, takut bakal terbentur persoalan serupa dengan yang dialaminya dan Meirose (Raline Shah). Hadir pula tokoh Panji (Muhadkly Acho) selaku guide konyol hanya berfungsi memancing tawa. Bahkan Amran (Kemal Palevi) yang sebelumnya bersama Hartono (Tanta Ginting) mewakili dua sudut pandang soal poligami di sini sekedar menjadi comic relief.
"Surga yang Tak Dirindukan 2" berusaha tampil lebih ringan melalui komedi serta mengesampingkan pokok bahasan poligami, beralih fokus menuju disease porn. Alkisah, dalam perjalanannya ke Budapest untuk promosi buku, Arini (Laudya Cynthia Bella) mendadak jatuh pingsan, dan berdasarkan hasil pemeriksaan Dr. Syarief (Reza Rahadian), kanker rahim yang ia derita telah mencapai stadium 4 dan menjalar hingga otak. Menyadari hidupnya tak lama lagi, Arini berharap jika Meirose  yang ternyata telah tiga tahun tinggal di Budapest  bersedia menggantikan posisinya sebagai istri sekaligus ibu bagi puteri Pras. Tanpa ia ketahui Meirose tengah menjalin asmara dengan Dr. Syarief. 

Meski pola lama menggunakan kanker sebagai alat memanipulasi kesedihan penonton jadi andalan, namun keklisean masih lebih baik daripada penuturan khayalan "negeri dongeng" mengenai poligami layaknya film pertama. Biar begitu, eksploitasi ketegaran berlebih macam penolakan Arini menjalani pengobatan karena enggan melawan takdir Allah (seriously?) tetaplah mengganggu. Demikian pula beberapa konsep tentang pernikahan dan tanggung jawab memenuhi amanah yang mengesankan wanita tak lebih dari barang kepunyaan suami, dilucuti haknya untuk memilih sesuai isi hati. 
Satu hal yang perlu diakui yakni production value-nya mumpuni, memfasilitasi usaha filmnya tersaji mewah. Penonton diajak berjalan-jalan mengitari Budapest, memposisikan filmnya di jalur serupa "99 Cahaya di Langit Eropa" maupun "Bulan Terbelah di Langit Amerika". Sebuah perjalanan mahal dibalut sinematografi apik Ipung Rachmat Syaiful scoring orkestra menggelegar Tya Subiakto plus beberapa soundtrack berirama pop catchy melankolis macam "Dalam Kenangan" milik Krisdayanti. Lucunya, meski dapat mengambil gambar-gambar bagus di Budapest, bandara Adisucipto justru direka ulang seadanya dengan penataan kursi minimalis pula CGI kasar. Ironis pula tatkala detail kecil lalai diperhatikan, sebutlah CT Scan Arini yang kentara milik seorang bapak, atau saat WhatsApp Meirose hanya berisi satu pesan dari Syarief. Oh, mungkin saja ia rajin menghapus chat history. Entahlah.

Tidak peduli terasa cheesy, Hanung sejatinya ahli mendramatisasi, tahu cara menempatkan momen emosional. Contohnya adegan menjelang akhir yang melibatkan Pras dan solat berjamaah. Jelas berlebihan, tapi powerful, efektif menumpahkan air mata mayoritas penonton. Masalahnya, naskah yang ia tulis bersama Alim Sudio dan Manoj Punjabi minim kreatifitas menjalin penceritaan menarik. Mereka sekedar bertutur tanpa dinamika, kedalaman, atau intrik memadahi. Terlalu banyak juga flashback untuk penggambaran memori, seolah film ini sulit berdiri sendiri tanpa pendahulunya. Kelemahan ini berujung repetisi Hanung kala susah payah mengangkat tensi melalui slow motion diiringi musik bergemuruh di momen tak perlu sekalipun. 
Di antara kuartet pemeran utama, Reza Rahadian paling mencuri perhatian. Ketenangannya menangani bermacam situasi, charm-nya, kemampuannya berbicara memakai Bahasa Hungaria, membuktikan sang aktor dapat sedikit mengangkat kualitas film seperti apa pun, setidaknya menjadikan momen kemunculannya enak dinikmati. Fedi Nuril masih pria alim dambaan "wanita solehah" walau di tahap ini aktingnya makin mengalami stagnansi. Bella seperti biasa piawai melakoni momen emosional, menggaet atensi kala tokoh Arini dengan "impiannya" tak lagi simpatik. Raline Shah pun watchable meski transformasi Meirose tidak memaksanya mengeluarkan totalitas performa serupa film pertama. 

"Surga yang Tak Dirindukan 2" sebenarnya sudah berprogresi ke arah tepat dalam perannya selaku tontonan pemuas pangsa pasar terbesar. Pengemasan lebih ringan melalui selipan humor hingga turut membuatnya lebih menghibur bagi semua kalangan. Begitu filmnya usai terdengar tepuk tangan dan isak tangis (sejauh ini di tahun 2017 yang mendapat kehormatan serupa hanya "La La Land"). Tentu kesan sappy, klise, cheesy dan lain-lain yang identik dengan opera sabun akan mengganggu bagi beberapa pihak termasuk saya, namun apa daya ketika target penontonnya sedemikian terpuaskan? 

JOHN WICK: CHAPTER 2 (2017)

Sekilas, "John Wick"  yang di luar dugaan menuai sukses secara komersial maupun critical  adalah sajian aksi sekali jalan macam "Taken". Apabila sekuel film yang dibintangi Liam Neeson mencuatkan pertanyaan sarkas "siapa lagi yang diculik?", maka "John Wick", bermodalkan premis seorang pembunuh bayaran kembali dari masa pensiun setelah anjing kesayangannya dibunuh telah membuat publik bergurau "anjingnya dibunuh lagi?" menanggapi perilisan chapter keduanya. Namun sejatinya film karya Chad Stahelski dan David Leitch tersebut menyimpan materi kaya berupa pembangunan dunia dan mitologi, memfasilitasi pengembangan kisah secara lebih jauh. 

Spoiler alert: tidak ada anjing dibunuh kali ini. Pasca mengambil kembali mobilnya dalam 15 menit kebisingan adegan pembuka yang menegaskan kebrutalan film pertamanya tak diturunkan bahkan ditingkatkan, John Wick (Keanu Reeves) berharap dapat kembali menikmati masa pensiun damai di rumah bersama anjing barunya. Tapi harapan itu segera pudar tatkala mafia bernama Santino D'Antonio (Riccardo Scamarcio) menagih hutang budi John, memintanya membunuh sang adik, Gianna (Claudia Gerini). Sisanya adalah rutinitas biasa. John berburu, menghabisi setiap lawan termasuk sederet pembunuh bayaran yang mengincarnya. 
Kembali, ditinjau selintas, "John Wick: Chapter 2" hanyalah full throttle action movie nihil landasan cerita solid, sebab Derek Kolstad sukses melanjutkan pekerjaanya di film pertama yaitu membangun detail dunia lewat jalan sederhana tetapi efektif. Tanpa perlu berbelit dan mencuri fokus (berfungsi sebagai latar, bukan pusat cerita), Kolstad menambah pemahaman bagaimana setting, tata aturan, pula modus operandi para pembunuh. Setelah Hotel Continental selaku tempat bernaung, cleaner, dan koin khusus untuk alat transaksi, kita diperkenalkan pada metode "sayembara". Dunia di mana filmnya bertempat bagai adaptasi buku komik yang imajinatif, kreatif, dan terancang sedemikian mapan. Interaksi antar-tokoh dikemas berdasarkan code of honor, menjelaskan ada aturan dan nilai bagi para pembunuh tersebut, melengkapi bangunan latar di atas. 

Pintar pula cara Kolstad memanfaatkan lingkaran setan dunia kriminal yang tak mengenal kata "istirahat" supaya sang titular character selalu punya alasan kembali, dengan kata lain materi bagi sekuel. Selalu ada sisi baru untuk digali yang tak terasa dipaksakan sebab dunia "bawah tanah" memang penuh rahasia serta misteri yang baru sekali waktu mencuat ke permukaan. Selaku penambah daya tarik adalah sederet karakter pendukung (baca: pembunuh) unik mulai gelandangan, pengamen bersenjatakan biola, hingga pria bertubuh besar dengan dandanan bak pesumo. 
Stahelski selaku sutradara tunggal (Leitch berposisi produser) meningkatkan dosis kebrutalan. Masih mengandalkan gun-fu, sequence aksinya menampilkan kelincahan John melepaskan tembakan jarak dekat mematikan tanpa quick cut atau shaky cam memusingkan. Kreativitas Stahelski menambah kesan badass sang protagonis ketika John tak hanya menembak, juga menabrakkan mobil ke tubuh lawan, menghempaskannya ke dinding dan menghabisi dua pembunuh dengan sebatang pensil. Dipadukan sound mixing mumpuni, deru mesin mobil dan letusan peluru terdengar bombastis, menciptakan mimpi indah bagi penikmat kegilaan action. Dan Laustsen mempertahankan sinematografi artistik film pendahulunya, menempatkan warna-warna berbeda di tiap sudut ruangan, menyalakan gemerlap neon yang bakal membuat Nicolas Winding Refn sekalipun tersenyum senang menyaksikannya.

Melakoni banyak adegan tanpa stuntman, Keanu Reeves terbukti masih aktor laga reliable, piawai menghadapi rangkaian koreografi, memainkan pistol bak sosok "boogeyman" yang berpengalaman, ahli menangani senjata. Sedangkan Laurence Fishburne dalam penampilan singkatnya terjebak pada akting "heeheehaahaa" klise seorang villain, menghadirkan tanya soal pemilihannya selain reuni "The Matrix" dengan Reeves. "John Wick: Chapter 2" diakhiri lewat tease akan film ketiga yang lebih besar, menempatkan John di posisi tersulit. Sepanjang tetap konsisten menjalin aksi tingkat tinggi over-the-top sekaligus kreatif dan eksplorasi atas universe miliknya, berapa chapter pun saya tak keberatan.