PIRATES OF THE CARIBBEAN: SALAZAR'S REVENGE (2017)

Berbarengan dengan Jack Sparrow yang ditelan Kraken pada akhir Dead Man's Chest, daya pikat Pirates of the Caribbean turut lenyap, bak ikut terbenam di Davy Jones' Locker. Ketika At World's End merupakan petualangan terlalu panjang yang melucuti pesona tokoh-tokohnya, On Stranger Tides menjadi installment yang demikian mudah terlupakan. Namun franchise ini mesti berlanjut. Selain didorong terus meningkatnya pendapatan tiap seri, sang bintang utama, Johnny Depp butuh kendaraan solid pasca rentetan film gagal, image buruk akibat kasus kekerasan terhadap Amber Heard, serta kesulitan finansial yang perlahan mendera karena gaya hidup super mewah yang konon memakan biaya $2 juta tiap bulan.

Melanjutkan tren film-film sebelumnya, Salazar's Revenge (berjudul Dead Men Tell No Tales untuk peredaran di Amerika Utara) menyertakan mitologi yang telah dikenal masyarakat, yakni segitiga Bermuda (disebut Devil's Triangle di sini) dan Trisula Poseidon. Alkisah, Kapten pasukan angkatan laut Spanyol bernama Armando Salazar (Javier Bardem) terjebak di Devil's Triangle akibat perbuatan Jack Sparrow. Bersama para awak kapalnya, Salazar pun dikutuk menjadi hantu, menanti saat balas dendam tiba. Demi melawan Salazar, Jack, dibantu oleh Henry Turner (Brenton Thwaites) yang ingin membebaskan sang ayah, Will Turner (Orlando Bloom) dari kutukan Flying Dutchman dan Carina Smyth (Kaya Scodelario), ahli astronomi yang dituduh penyihir.
Salazar's Revenge diniati sebagai awal petualangan baru berisi darah baru, di mana Henry dan Carina ditugaskan mengikuti jejak Will dan Elizabeth (Keira Knightley). Namun sejatinya poros cerita berkutat di formula familiar. Tidak peduli apa bentuk harta buruan, petualangan berlangsung serupa, seolah ada ketakutan jika menghilangkan satu saja unsur, kutukan bakal menghampiri. Terlihat pada naskah Jeff Nathanson yang walau tak banyak menambah sub-plot dan menjaga alur dari kesan penuh sesak macam film ketiga, masih mengikutsertakan angkatan laut dalam peran kurang penting. Momen penutup klimaks yang dimaksudkan menambah bobot emosi urung berdampak, sebab di tahap ini penonton tahu, baik kematian atau kutukan dapat diakali melalui beragam cara. Pun post-credit scene yang meski berpotensi memuaskan penggemar atas siratan kembalinya tokoh lama, membuktikan franchise ini enggan berlayar jauh, memilih berputar di lautan yang sama.

Setelah 14 tahun, tentu Jack Sparrow sudah menyatu, muncul bagai naluri dalam diri Johnny Depp. Namun daripada performa alamiah, penonton justru disuguhi penampilan sang aktor yang terlihat tanpa tenaga, entah dipengaruhi usianya yang tak lagi muda (53 tahun) atau Depp memang sudah malas dan kembali semata-mata demi bayaran besar. Hilang gerak lincah hingga tindak tanduk tak terduga sang kapten. Di film kelimanya, Jack Sparrow sekedar hiasan yang ada hanya karena merupakan maskot franchise. Depp justru mengesankan tatkala beberapa menit tampil sebagai Jack versi muda yang lebih tenang, menebar pesona melalui senyum penuh percaya diri. 
Saat Brenton Thwaites kekurangan karisma, Kaya Scodelario meniupkan semangat memberontak sebagaimana Keira Knightley dahulu menghidupkan seorang wanita kuat pendobrak tradisi. Geoffrey Rush sebagai Barbossa tidak segila dulu yang mana bukan kekeliruan sang aktor, melainkan tuntutan naskah. Barbossa tanpa teriakan "You bloomin' cockroaches!" memang kurang lengkap. Untungnya Bardem (disempurnakan balutan CGI tepat guna) menyajikan penampilan mengerikan sebagai Salazar, hantu kejam yang enteng melakukan pembantaian, juga intimidatif kala berbicara. Setiap kata terucap dari mulut makhluk kegelapan ini, secercah cahaya menyinari filmnya, memberi kekuatan. 

Kursi penyutradaraan ditempati duet Joachim Rønning dan Espen Sandberg (Kon-Tiki), meramaikan jumlah sineas independen yang berkesempatan menggarap blockbuster. Beberapa set-piece "kelas menengah" digarap baik, sebutlah pencurian brankas (atau bank) yang ibarat Fast Five versi masa lampau, di mana mobil mewah digantikan barisan kuda. Adegan sewaktu Jack terjebak dalam guillotine berputar pun seru sekaligus sanggup mengocok perut. Dua contoh sequence tersebut  seperti mayoritas adegan aksi terbaik Pirates of the Caribbean  dikemas bagai wahana taman hiburan: atraktif, menyenangkan, imajinatif. Sementara sisanya (termasuk klimaks) memperlihatkan kesulitan keduanya menangani aksi berbasis CGI. Gubahan musik Geoff Zanelli efektif membangun tensi (pula catchy), tapi Rønning dan Sandberg bak kebingungan menyusun gelaran aksi yang hilang arah di tengah terjangan badai efek visual.

ZIARAH (2017)

Setelah membuat sekitar 11 film pendek fiksi dan dokumenter yang telah lalu lalang di berbagai festival baik dalam maupun luar negeri, akhirnya BW Purba Negara menyusul para kompatriotnya sesama sineas arus samping Yogyakarta (Ismail Basbeth, Yosep Anggi Noen, dll.) menelurkan film panjang. Judulnya Ziarah, yang belum lama ini mencuri perhatian publik lewat keberhasilan pemeran utamanya, Mbah Ponco Sutiyem, mendapat nominasi aktris terbaik dalam Asean International Film Festival & Awards (AIFFA). Menarik, sebab selain sudah berumur 95 tahun, si nenek pun baru kali ini terlibat pengalaman berakting. 

Mbah Ponco memerankan tokoh Mbah Sri, yang sejak Agresi Militer Belanda ke-2 tahun 1948 terpisah dari sang suami, Prawiro. Pamit berjuang, Prawiro tak pernah pulang pun tak diketahui makamnya. Hingga suatu hari Mbah Sri bertemu seorang veteran perang yang mengaku kenal bahkan tahu letak makam Prawiro. Berbekal informasi seadanya, Mbah Sri sendirian melakukan pencarian. Turut ia temui sepanjang perjalanan adalah orang-orang yang memendam luka terkait masa lalu juga permasalahan tanah. Sementara itu cucu Mbah Sri, Prapto (Rukman Rosadi), kalang kabut mencari sang nenek, padahal di saat bersamaan ia telah direpotkan urusan pernikahannya. 
BW Purba Negara mengemas Ziarah sebagai film yang njawani, penghormatan atas budaya yang memberi identitas kuat. Dari tatanan kulit luar, musik garapan Miyoshi Masato bersama Clemens Felix Setiyawan kental aroma tradisional Jawa sedari opening atmosferik kala kamera diletakkan di liang kubur, memposisikan penonton bak tengah dikebumikan. Kemudian, selain penggunaan krama inggil dalam dialog, naskah yang ditulis oleh BW Purba Negara menyertakan pula unsur klenik khas Kejawen. Penggunaannya unik, sebab ketika mayoritas film kita menggunakan klenik untuk bangunan horor, BW menempatkannya murni sebagai bagian budaya yang bagi tokohnya merupakan kewajaran dalam hidup. Keris yang bergerak sendiri bukan dikemas mencekam, sebaliknya, memberi harap di tengah pencarian akan cinta.

Di ranah lebih mendalam, budaya Jawa, tepatnya praktek "othak-athik gathuk" berperan menggerakkan narasi. Perjalanan Mbah Sri dan Prapto didorong oleh hal ini, di mana keduanya mendengar cerita-cerita dari banyak sumber tentang seorang pejuang yang mungkin adalah Prawiro, mengaitkan beragam informasi kabur tersebut, lalu nekat berangkat mencari. Sepanjang film, kegiatan "othak-athik gathuk" mendominasi. Satu fenomena dikaitkan dengan peristiwa lain, satu cerita dianggap bersinggungan dengan cerita berikutnya. Ini juga yang melatarbelakangi disertakannya kisah masyarakat dari berbagai tempat. BW berkreasi supaya info yang didapat Mbah Sri dan Prapto terhubung dengan kampung-kampung tersebut, membawa mereka singgah di sana. Selaku penulis, BW memang cerdik, entah dalam menyusun berbagai poin narasi atau berfilosofi soal hidup-mati, cinta, sampai hubungan hidup personal dengan interaksi sosial.
Walau merupakan fiksi, Ziarah mengaburkan batasan dengan realita. Selain sempilan beberapa fakta, BW pun menerapkan gaya dokumenter, misal saat Prapto "mewawancarai" warga tentang konflik masa penjajahan atau luapan waduk yang menenggelamkan sebuah desa. Kisah-kisah ini memperkaya titik-titik destinasi Ziarah yang memang berbentuk road movie berisi perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lain. Di sini tercipta kelebihan sekaligus kekurangan terbesar filmnya sewaktu BW menumpahkan segala hal menarik dan kejutan (termasuk ending mencekik) pada destinasi namun membiarkan proses menuju ke sana kosong. Pemandangan Mbah Sri berjalan atau duduk termenung terasa repetitif alih-alih memancing kontemplasi akibat tidak padatnya alur. Alhasil sulit menahan asumsi kalau Ziarah bakal lebih efektif sebagai short ketimbang feature.

Mendukung kedekatan filmnya dengan realita adalah penampilan Mbah Ponco Sutiyem yang memperlihatkan tingkah laku natural, sehingga penonton seperti mengintip rekaman dunia nyata daripada kisah yang direka-reka. Tidak bisa dikesampingkan juga penyutradaraan BW Purba Negara, karena tanpa kejelian pengadeganan, pilihan shot, serta tata urutan gerak narasi miliknya, bukan mustahil Mbah Ponco takkan membuahkan akting sebaik itu. 

Berpotensi menggugah, Ziarah sayangnya tergolong arthouse yang meredam daripada memperhalus emosi (contoh: Istirahatlah Kata-Kata). Pencarian Mbah Sri yang banyak menemui momen mencekat sering berlalu begitu saja di tengah kesunyian. Pun kekurangan soal emosi turut dipengaruhi lemahnya departemen editing oleh BW Purpa Negara dan Dwi Agus Purwanto. Dalam beberapa kesempatan, adegan berpindah begitu kasar, menghalangi rasa penonton terkoneksi, tak jarang pula menghasilkan kebingungan. Bahkan faktor ini sempat menciptakan momen clumsy tatkala filosofi "manusia berasal dari tanah dan kembali ke tanah" dibicarakan. Bukan sepenuhnya salah editor, sebab ada kemungkinan sang sutradara mengambil terlalu sedikit stock footage hingga tak memfasilitasi transisi antar adegan. 

MY LIFE AS A COURGETTE (2016)

Menyoroti kehidupan anak-anak yang kurang beruntung, My Life as a Courgette (berjudul lain My Life as a Zucchini) memanfaatkan medium animasi untuk memfasilitasi persinggungan paparan realita kelam dengan keceriaan dunia bocah. Claymation buatan sutradara Claude Barras selaku adaptasi novel Autobiographie d'une Courgette karya Gilles Paris ini jelas ditujukan bagi kalangan penonton dewasa yang telah mampu memahami nasib malang para tokoh di dalamnya, sehingga dapat mengapresiasi betapa bernilai kandungan kisahnya. Sebuah hidden gem yang berhasil menyelinap masuk ke jajaran nominasi Best Animated Feature pada Oscar 2017. 

Courgette. Demikian Icare dipanggil oleh sang ibu yang menjadi alkoholik semenjak ditinggal kabur suaminya. Courgette gemar mengurung diri di kamar, entah mencoret-coret dinding, menerbangkan layangan bergambar ayahnya dalam kostum pahlawan super (gambaran ayah ideal setiap anak), atau menyusun kaleng bir sisa ibunya. Sampai suatu peristiwa memaksa Courgette tinggal di panti asuhan bersama anak-anak lain yang juga memiliki orang tua bermasalah, termasuk Camille, anak baru yang memikat hatinya. Persahabatan, cinta, keluarga. Sisi-sisi kehidupan tersebut dihadapi anak-anak dengan kesamaan nasib itu.
Lingkup narasi terbatas di panti asuhan, tersusun atas rangkaian peristiwa yang dialami Courgette, sebutlah jadi korban bully Simon, menjalin kedekatan dengan polisi bernama Raymond, bertemu Camille hingga terlibat lebih jauh dalam seluk beluk kehidupan sang gadis, dan sebagainya. Sekilas cenderung episodik, namun naskah yang dikerjakan keroyokan oleh Celine Sciamma, Claude Barras, Germano Zullo, dan Morgan Navarro bisa merangkai satu kesatuan utuh, menekankan bahwa semua itu adalah proses alamiah dan saling terkait. Bagai tanpa skema besar karena tidak memakai pola narasi standar tiga babak, tapi sesungguhnya kebersamaan anak-anak itulah skema besarnya.

Kesubtilan cerdik turut mengiringi penceritaan. Salah satunya berbentuk eksposisi tersirat melalui baris kalimat soal karakter. Ketersiratan ini mempunyai beragam fungsi. Alasan Raymond sangat perhatian pada Courgette urung dijabarkan gamblang demi menghindari melankoli berlebihan. Ada pula cerita Simon tentang masa lalu Alice, di mana ia menyebut Alice selalu mimpi buruk tiap malam dan ayahnya dipenjara akibat melakukan hal menjijikkan yang tidak Simon pahami. Keputusan tepat sebab berbeda dibanding pencurian, alkoholisme, atau permasalahan orang tua tokoh lain, pelecehan seksual bukan tindak familiar untuk bocah. Menjabarkan gamblang bakal membuat tak selaras dengan perspektif anak yang filmnya pakai.
Terkait kesubtilan, My Life as a Courgette juga menyertakan simbolisme yang mewakili poin narasi maupun gagasan film. Acap kali burung nampak melewati proses membuat sarang, bertelur, lalu merawat anak. Aktivitas penuh kasih sayang terhadap anak, berkebalikan dengan sikap orang tua manusia di sini. Sedangkan di satu kesempatan yang menegaskan pula status filmnya sebagai animasi dewasa, Camille membaca The Metamorphosis karya Franz Kafka, novelet mengenai usaha tokoh utama menyesuaikan diri dengan kondisi barunya (monster serangga) yang mendorong penolakan keluarganya. Kisah itu mencerminkan situasi Camille sendiri.

Meski mengusung tema kelam, My Life as a Courgette enggan bermuram durja. Sebagaimana telah disinggung, medium animasi mewadahi keceriaan anak-anak. Meluncur bahagia di tengah pegunungan bersalju, menari mengikuti musik elektronik menghentak, atau sekedar berpose usil di depan kamera, semua itu cukup memancing tawa, mengingatkan betapa anak-anak tersebut semestinya berkesempatan menikmati kegembiraan murni alih-alih terjebak di tengah ego mencekik orang dewasa. Pilihan ending positif yang menyoroti harapan menegaskan posisi filmnya bukan sebagai eksploitasi kesengsaraan. Makin indah pula filmnya berkat Animasi menawan yang memperhatikan detail warna sekaligus pencahayaan natural ditambah iringan lagu akustik lembut Sophie Hunger. 

ALIEN: COVENANT (2017)

Alien: Covenant eksis semata-mata karena dua alasan, yaitu Ridley Scott ingin mengoreksi jalur yang ditempuh Prometheus dan menghalangi realisasi Alien 5 milik Neill Blomkamp. Mungkin Scott khawatir apabila terus membuat Alien dengan fokus bukan pada Xenomorph sementara Blomkamp sukses, tahtanya sebagai "Granddaddy of Alien franchise" bakal terusik oleh sang darah muda. Tapi rupanya talenta berbicara. Walau didorong niat demikian, nyatanya Covenant merupakan mimpi buruk yang mumpuni mengumbar teror, menjadikannya installment paling brutal walau masih teramat jauh dari status "terbaik". 

Tahun 2104 alias 11 tahun pasca Prometheus, pesawat koloni Covenant tengah mengarungi angkasa guna menuju planet baru untuk didiami manusia. Sampai sebuah insiden maut ditambah penerimaan transmisi yang ditengarai berasal dari planet layak huni terdekat membuat mereka memilih mengubah arah. Setibanya di sana, bisa ditebak teror mematikan telah menunggu di samping kembalinya David (Michael Fassbender), android selaku survivor dari misi Prometheus. Namun jangan harap tensi langsung meninggi, karena setelah first act cukup mencekam, Covenant melambat, menghabiskan 30 menit pertama menyoroti perdebatan kru dilanjutkan pencarian mereka atas sumber transmisi di atas.
Penuturan lambat ini urung dibarengi nuansa atmosferik seperti Alien atau misteri pengundang tanya serupa Prometheus. Obrolan di pesawat atau perjalanan di hutan mendominasi tanpa disokong penokohan solid. Ketika Fassbender sebagai David dan Walter, dua android beda jenis sekaligus kepribadian (apparently they have one) tampil memikat memisahkan dua sosok serupa tapi tak sama dengan mulus, sisa tokoh tak ubahnya onggokan daging tidak bernyawa yang ada hanya untuk dibantai. Talenta Danny McBride, James Franco, hingga Demian Bichir tersia-sia, sedangkan Katherine Waterston kekurangan keperkasaan sebagai action heroine

Mayoritas tokoh utama berstatus pasangan. Harapannya, timbul rasa iba dan dampak emosional bagi menonton mendapati mereka terancam. Walau memberi sedikit bobot, penokohan lemah minim daya tarik meniadakan dampak yang diinginkan. Setidaknya ada poin positif. Deretan tokohnya tidak sebodoh ilmuwan-ilmuwan Prometheus. Benar tingkah bodoh sempat ditunjukkan khususnya di awal teror Xenomorph, namun bisa dimaklumi mengingat saat itu mereka dikuasai ketakutan luar biasa. Ketakutan yang bisa dipercaya, sebab kita pun merasakan hal serupa berkat kapasitas Ridley Scott menyulut ketegangan menggunakan shaky cam dan dengung alarm di koridor sempit pesawat, serupa Alien dahulu.
Untungnya setelah babak awal melelahkan, film ini total menggelontorkan tensi. Aksi masif berhiaskan CGI meyakinkan jadi bukti kematangan Scott menyusun spectacle tanpa bujet berlebihan ("hanya" $111 juta, jauh dibanding banyak blockbuster yang mencapai di atas $200 juta). Satu-satunya kekurangan yakni terlampau pendeknya klimaks. Soal parade horor, Scott meminimalisir jump scare, berkonsentrasi pada gore serta gambar-gambar layaknya mimpi buruk. Di sini puncak Covenant, tatkala Scott mengekspresikan kegilaan, menghabisi tokoh-tokoh forgettable-nya sebrutal mungkin, menumpahkan isi perut, memotong bagian tubuh, membanjiri lantai dengan darah. Bahkan koneksi terhadap Prometheus pun diungkap secara twisted pun disturbing.

Bicara tentang kaitan dengan installment sebelumnya, Covenant berguna menjawab segelintir pertanyaan semisal soal wujud evolusi Xenomorph yang berubah-ubah. Diberikan pula "jembatan" antara cikal bakal sang alien di Prometheus dengan sosok yang kita kenal baik selama ini. Beberapa fakta ini akan lebih diapresiasi penggemar franchise-nya, namun takkan berpengaruh bagi penonton awam. Sederet poin menyiratkan usaha mengesampingkan plot thread milik Prometheus. Konsep "pencipta dan ciptaannya" masih disinggung, tapi menilik cliffhanger di akhir, rasanya alih-alih meluaskan lingkup membahas asal muasal manusia dan Engineer, babak berikutnya cenderung kembali ke akar, menautkan seri prekuel dengan original. Dan sebagaimana Alien pula, Scott coba bermain-main melalui seksualitas tersirat berupa "oral" antar kembar bersaudara" Fassbender. 

CRITICAL ELEVEN (2017)

Sambut Critical Eleven, adaptasi novel berjudul sama karya Ika Natassa yang mulai sekarang semestinya jadi patokan perihal kualitas berbagai sisi drama romantika sinema Indonesia. Cukup manis pula cantik dipandang sebagai suguhan pop, cukup kuat pula kisahnya selaku studi soal karakter dan dinamika pernikahan serta keluarga. Patut dicatat, ini bukan semata-mata cerita lama pertemuan dua sejoli yang seiring waktu sama-sama jatuh hati, lalu berusaha mengalahkan setumpuk rintangan guna menyatukan cinta mereka. Berbeda, karena tak sampai 15 menit durasi, kedua tokoh utama telah bersatu. Masalahnya, pasca persatuan itu diterjang badai, bagaimana membangunnya lagi?

Anya (Adinia Wirasti) kerap dan gemar bepergian menaiki pesawat karena tuntutan pekerjaan. Demikian juga Ale (Reza Rahadian) yang bekerja di oil rig, memaksanya sering bolak-balik ke luar negeri. Pertemuan pertama pada penerbangan menuju Sidney meyakinkan bahwa keduanya adalah pasangan sempurna bagi masing-masing. Mereka menikah, kemudian tinggal di New York agar Anya tidak perlu hidup jauh dari Ale yang tengah bertugas di Meksiko. Kehamilan Anya membawa pasangan ini menuju kebahagiaan hidup terbesar, sampai sebuah insiden memutarbalikkan kondisi 180 derajat, menghadirkan tanya mengenai cinta akibat timbulnya luka.
Poin terpenting film percintaan ada di karakter utama. Bisa tidaknya cerita beserta pesan tersalurkan tergantung seberapa besar penonton mencintai pasangan yang saling mencinta di layar. Reza-Adinia membangun hubungan nyata, alhasil mudah percaya jika Ale dan Anya telah menjalin asmara demikian lama. Rasanya bagai melihat sepasang sahabat (namun dengan perasaan lebih) yang terkoneksi hati sekaligus cocok kala bertukar pikiran sehingga interaksinya nikmat diikuti. Kemesraan memancing senyum, canda memancing tawa, pertengkaran mengoyak hati. Reza dan Adinia mengikuti jejak pasangan klasik macam Slamet Rahardjo-Christine Hakim atau yang agak modern, Nicholas Saputra-Dian Sastrowardoyo, dalam keluwesan chemistry kuat nan natural.

Penonton ingin kisah berakhir bahagia, di situ bentuk keberhasilan yang dicapai Critical Eleven. Tentu penulisan naskah dari Jenny Jusuf, Monty Tiwa, Robert Ronny, dan Ika Natassa turut berjasa. Berfokus seputar gesekan pasutri, Ale dan Anya punya alasan kuat dalam bersikap yang amat bisa dimaklumi. Simpati terbagi rata, sebab tidak ada yang lebih dirugikan, sama-sama manusia yang terluka luar biasa. Bahkan bukan mustahil penonton terhanyut membayangkan berada dalam kondisi sama, kemudian menyadari bahwa bisa jadi bakal bersikap serupa. Naskahnya juga tepat membagi timing transisi kehidupan tokohnya, menciptakan kontradiksi dua sisi (bahagia dan sedih) yang efektif mengguncang emosi.
Di samping observasi problematika pelik rumah tangga, Critical Eleven makin tinggi derajatnya saat keluarga Ale tak dikesampingkan. Konsep soal pernikahan adalah bentuk penyatuan bukan saja suami-istri, pun keluarga ditekankan betul. Kita mendapati Ayah (Slamet Rahardjo), Ibu (Widyawati Sophiaan), sampai kakak dan adik Ale (Revalina S. Temat dan Refal Hady) berkontribusi, berusaha menengahi sesuai kapasitas, membantu tanpa interupsi berlebihan. Para tokoh pendukung ditempatkan sesuai hakikatnya, mendukung poros penceritaan ketimbang mencuri sorotan maupun pasif menjadi hiasan pemanis di belakang. Momen terbaik film ini pun terbentuk sewaktu unsur kekeluargaan menyeruak masuk.

Momen tersebut yakni dua pembicaraan di tempat berbeda (Ale-Ayah dan Anya-Ibu) yang oleh sutradara Monty Tiwa dan Robert Ronny jeli ditampilkan bergantian, terkesan selaras dan saling mengisi. Momen ini memikat di berbagai tatanan. Pertama, mengukuhkan peran keluarga yang didorong rasa cinta berusaha membantu sang anak  baik kandung atau menantu  menemukan jalan keluar. Kedua, menyampaikan soal saling terima suami istri, poin yang film ini nyatakan jadi kunci pemersatu. Ketiga, tentu saja akting. Setelah pemeran muda unjuk gigi, giliran pelakon senior bersinar. Melalui sepintas peristiwa saja, Widyawati dan Slamet Rahardjo menuangkan sensitivitas, penuh rasa menuturkan cinta antara ayah dan ibu. Mereka berada di tempat (dan mungkin waktu) berbeda namun bak berkomunikasi hati ke hati. Menariknya, selain sekuen ini ayah dan ibu tak pernah saling mengungkapkan cinta secara langsung, seolah menyatakan seiring keberhasilan mengarungi cobaan plus waktu, tak perlu lagi cinta gamblang dinyatakan supaya dirasa dan dipercaya.
Kekurangan Critical Eleven terletak pada penyertaan adegan kurang substansial yang mendorong durasi terlampau panjang, mencapai 132 menit. Mayoritas hal tidak perlu itu berbentuk kontemplasi karakter. Mereka diam, meratap kosong, terkadang menangis. Menjadi tidak perlu karena kekuatan akting Reza dan Adinia sudah cukup mewakili isi hati karakter meski hanya diperlihatkan sesekali, tanpa harus sebanyak itu. Paruh pertengahan tatkala kesedihan menghampiri memang menurunkan tensi. Ale dan Anya tak lagi ceria, daya cengkeram film pun ikut meredup. Kekurangan ini sejatinya dapat dihindari andai tuturannya dipadatkan. Benar titik ini signifikan, tapi bukan berarti mesti berlarut-larut.

Critical Eleven merupakan keindahan luar dalam. Di luar, terkait tampilan, polesan sinematografi Yudi Datau membuat hampir tiap adegan memukau mata, mulai New York yang gemerlapan di malam dan bermandikan sinar matahari sore romantis, hingga bentangan langit luas di lepas samudera tempat Ale bekerja. Sedangkan di dalam, film ini menjadi keindahan tutur mengenai penerimaan dipenuhi ekspresi cinta di sana-sini. Ceritanya nampak sederhana tetapi begitu bernilai. Dekat namun terasa segar sebab jarang sekali romansa kita menyinggung percintaan bersenjatakan kepekaan ditambah kedalaman seperti ini. Tangis akan tumpah, bukan produk manipulasi air mata yang terus diumbar, melainkan dipicu tersampaikannya ekspresi cinta kasih. Indah.

KING ARTHUR: LEGEND OF THE SWORD (2017)

King Arthur of Camelot. Demikian figur legendaris Kerajaan Inggris itu jamak disebut. Figur yang bukan saja tak diketahui pasti kapan eksistensinya, pun apakah ia benar-benar nyata atau cerita rakyat belaka. Ambiguitas tersebut dimanfaatkan benar oleh Guy Ritchie bersama Lionel Wigram dan Joby Harold untuk merangkai kisah fantasi berisi penyihir (karakter reguler mitologi Raja Arthur), siluman ular (atau belut?), sampai gajah dan ular raksasa. Bagus tidaknya layak diperdebatkan, tapi satu hal pasti, King Arthur: Legend of the Sword  yang rencananya merupakan film pertama dari enam seri  bukan tipikal suguhan medieval bergaya ortodoks. 

Film dibuka oleh serbuan penyihir bernama Mordred (Rob Knighton) terhadap kastil Camelot yang memberi garansi pengalaman menonton maksimal di layar raksasa (IMAX, Sphere X). Raja Uther Pendragon (Eric Bana) bersenjatakan pedang Excalibur sanggup meruntuhkan pasukan Mordred, meski tanpa diketahui, ancaman sesungguhnya datang dari ambisi kudeta sang adik, Vortigern (Jude Law). Pendragon tewas, Excalibur hilang, dan Vortigern naik tahta. Sampai beberapa tahun kemudian pedang itu muncul lagi bersama kabar keberadaan darah daging Pendragon, Arthur (Charlie Hunnam) yang selama ini hidup sebagai rakyat biasa di suatu rumah bordil. 
Bagaimana Guy Ritchie beserta segala gaya rock and roll-nya bersanding dengan nuansa masa lalu khas medieval? Sekilas kontradiktif, tapi toh Warner Bros. sepertinya memang bertujuan menghasilkan middle ages blockbuster bagi generasi millennial. Basa-basi Shakesperean dibuang jauh bersama penjabaran tumbuh kembang Arthur dari bocah pewaris tahta terbuang jadi pria begajulan jago berkelahi. Ritchie merangkum rentang masa belasan tahun itu ke dalam montage ditemani iringan musik industrial gubahan Daniel Pemberton yang cakap menggabungkan musik folk Britania Raya dann dentuman elektronik, hingga konsisten menghembuskan tenaga bagi tiap adegan. 

Keputusan di atas jelas meniadakan babak penting pengembangan karakter, namun King Arthur: Legend of the Sword memang cuma punya satu tujuan: terlihat asyik. Dan memang benar, film ini gemar mengumbar gaya asyik, bahkan untuk perbincangan sederhana Arthur dengan pasukan kerajaan yang dibungkus lontaran kalimat cepat, perpindahan adegan lincah (kalau bukan ngebut), plus comedic manner, kombinasi yang mengingatkan akan masa keemasan awal karir Ritchie. Jadi jangan harapkan pula ketepatan unsur sejarah, sebab ini adalah film ber-setting sekitar abad keenam atau kelima di mana para tokohnya mengucapkan "fuck" atau "dance floor". 
Kemudian tercipta masalah yang serba salah. Gaya Ritchie efektif hanya di beberapa kemunculan awal, berikutnya berujung repetitif nan melelahkan. Namun tanpanya, film kehilangan daya akibat bergantung pada cerita pun tokoh-tokoh medioker yang mudah terlupakan. Mencapai pertengahan durasi kala konflik mulai memanas, penulisan dialog tajam Ritchie hilang tak berbekas. Karakternya bertingkah terlampau serius, termasuk Arthur yang perlahan kehilangan aura bad boy, padahal Charlie Hunnam terbukti piawai menangani karakterisasi tersebut. Ketika bertarung, tak ada interaksi atau celotehan tokoh di mana mereka sekedar menebas pedang ke sana kemari. Hambar. 

Keengganan mengendurkan urat tatkala konflik tereskalasi memang logis tapi bak mengkhianati tujuan awal filmnya yang tak mempedulikan akal sehat termasuk soal pengembangan karakter atas nama hiburan mengasyikkan. Setidaknya Ritchie masih memiliki visi jelas soal kemasan "seenaknya". Meski akhirnya ditutup oleh klimaks penuh CGI yang secara intensitas pula kreativitas justru paling lemah dibanding gelaran aksi-aksi sebelumnya, King Arthur: Legend of the Sword masih dua jam spectacle sepintas lalu yang layak coba. Bagai mabuk, anda mungkin lupa mayoritas poin di dalamnya begitu usai, namun ingat kalau baru saja menghabiskan waktu yang menyenangkan. Karena kapan lagi kita mendapati pengalaman trippy Raja Arthur berhalusinasi, melihat monster di penjuru hutan? 

THE FOUNDER (2016)

Segala hal dalam hidup ini bisa dipandang melalui bermacam perspektif sehingga konsep benar-salah tak lagi sesederhana membedakan warna hitam dan putih. Akhirnya penghakiman tergantung pada hukum atau aturan atau budaya yang telah disepakati bersama. Begitu pun karakter Ray Kroc (Michael Keaton) dalam karya teranyar John Lee Hancock (The Blind Side, Saving Mr. Banks) ini. Tindakan akuisisi terhadap McDonald's jelas dianggap buruk secara moral. Ray bak kapitalis licik, serakah, tanpa perasaan. Namun ditinjau dari segi bisnis, langkah-langkahnya mencerminkan seorang ulung yang sukses membangun "kerajaan" yang sampai lebih dari satu dekade kemudian masih kuat mencengkeram dunia.

Semua berawal di tahun 1954 kala Ray masih seorang salesman alat pembuat milkshake. Keuntungannya tak seberapa meski cukup untuk hidup layak berdua bersama sang istri, Ethel (Laura Dern). Tapi Ray ingin lebih, mengedepankan kegigihan seperti yang sering dia dengar dari rekaman seorang motivator fiktif, Dr. Clarence Floyd Nelson. Sampai ia menemukan kesuksesan dua kakak beradik, Dick McDonald (Nick Offerman) dan Mac McDonald (John Carroll Lynch) membangun restoran bernama McDonald's dengan cara pelayanan revolusioner. Konsumen mendatangi counter, penyajian cepat, makanan dibungkus kertas alih-alih disajikan di atas piring dan nampan, serta suasana nyaman bagi keluarga, berbeda dibanding restoran drive-in yang menjamur kala itu di mana remaja berbondong-bondong mengumbar kemesraan.
Bertutur mengenai sosok gigih nan energik, John Lee Hancock pun mengemas adegan dengan semangat serupa, khususnya di paruh awal tatkala Dick dan Mac menjabarkan pada Ray cerita sukses mereka juga formula di baliknya. Hancock memastikan cerita memukau itu tak berakhir sebatas flashback selaku plot point penjelas sambil lalu. Penonton bakal dibuat terpaku seperti Ray, mendengarkan sambil terus dijaga atensinya berkat permainan intensitas ketat hasil tempo dinamis. Dick dan Mac menciptakan sistem pelayanan bernama "Speedee System", dan The Founder bergerak layaknya burger dalam sistem tersebut, cepat, padat, tetap rapi pula teratur.

Mencapai pertengahan, film bergerak menuju usaha Ray melebarkan sayap McDonald's dari restoran keluarga di kota kecil menjadi waralaba nasional yang menurutnya setara Gereja. Sebagaimana kita tahu titik kulminasi terletak pada tindakan Ray merebut McDonald's dari Dick dan Mac akibat merasa di bawah pimpinan kakak beradik itu  yang mengutamakan kekeluargaan ketimbang komersialitas  bisnis takkan berkembang pesat. Pertemuan dengan konsultan finansial bernama Harry Sonneborn (B. J. Novak) menyadarkan Ray bahwa ia bukan menggeluti bisnis burger, melainkan properti. The Founder pun mulai menyinggung ranah film ekonomi, yang berkat naskah Robert D. Siegel (The Wrestler, Turbo) mampu menjabarkan beberapa detail penting yang mudah dipahami walau mengandung istilah-istilah dunia ekonomi.
The Founder turut berusaha menyuguhkan drama personal Ray, memancing ironi sewaktu ia membangun McDonald's mengandalkan atmosfer kekeluargaan bahkan memakai pasangan suami istri muda nan harmonis supaya memancing konsumen, tapi dia sendiri mengesampingkan sang istri. Sayangnya, walaupun berguna mematenkan status Ray sebagai sosok egois luar biasa, paparan ini nihil emosi, sehambar pernikahan sang protagonis akibat dampak persoalannya lewat begitu saja. Penonton diminta bersimpati pada Ethel, namun begitu klimaks masalah menyerang, Ethel menghilang dari penceritaan. 

Apa yang memicu Ray "berjuang" sedemikian kuat? Benar ia didorong rekaman audio yang membentuk semua tindakannya dari awal (bukti naskahnya solid terstruktur perihal motivasi karakter), juga sindiran teman-temannya dari golf club, tapi lebih dari itu, ia adalah gambaran ketika semangat American Dream memacu individu mengerahkan seluruh daya upaya meraih keinginan meski itu berarti menghancurkan atau melukai orang lain. This is "a product" from, and made by America, and America only. Hal ini ditegaskan oleh pernyataan Ray bahwa nama McDonald's merupakan kunci kesuksesan karena terdengar "sangat Amerika". 

Ray bukan sosok jenius dan tak menganggap penting kejeniusan. Faktanya dia kerap melakukan kesalahan. Beberapa poin kesuksesan McD terjadi berkat orang lain (awal penciptaan, peralihan dari bisnis burger ke properti, ide memakai milkshake bubuk). Adegan di toilet menjelang akhir (Hancock cerdik memanfaatkan cermin guna menampilkan ekspresi tiap tokoh sehingga tidak memerlukan banyak reaction shot) menegaskan status Ray Kroc sebagai seorang kejam minim nurani, villain sejati dari kubu kapitalisme bagi Amerika. Dan Keaton sungguh perwujudan "iblis kapitalis" tersebut. Bersenjatakan seringai dan gerak tubuh yang menyiratkan kengerian, seolah sepanjang karir Keaton adalah bentuk latihan untuk peran ini. Penonton tidak akan bersimpati pada Ray, namun perjalanannya sungguh mencengkeram atensi berkat sang aktor. Do I wanna eat at McDonald's again after this? I don't know, but one thing for sure about this movie: I'm lovin' it.

"ALIEN" FILM FRANCHISE: RANKED FROM WORST TO BEST

Rabu 10 Mei besok, Alien: Covenant bakal tayang di bioskop Indonesia, menjadikannya installment keenam franchise (di luar dua crossover dengan Predator) yang memulai petualangan sejak tahun 1979 ini. Berusia hampir empat dekade, naik turun kualitas dan bongkar pasang personel tentu jamak terjadi. Selain Scott, tercatat nama-nama tersohor mulai James Cameron, David Fincher, Jean-Pierre Jeunet pernah mengisi kursi sutradara. Begitu pula di jajaran cast meski Sigourney Weaver sebagai Ellen Ripley adalah tokoh paling ikonik. Menyambut perilisan Covenant, saya tertarik menyusun daftar urutan film Alien dari terburuk hingga terbaik. Daftar ini tidak menyertakan dua judul Alien vs. Predator karena: (a) Predator lebih dominan, (b) keduanya buruk luar biasa. 
(Artikel ini mengandung SPOILER)

5. ALIEN 3 (1992)
The only real bad movie in this franchise. Dalam debut penyutradaraannya, gaya Fincher yang mengawali karir sebagai pembuat video klip lebih kentara ketimbang jagoan storytelling sebagaimana ia kini dikenal. Konsep prison movie plus balutan post-apocalyptic serta alegori agama sempat menarik di awal, sebelum tenggelam di tengah kucing-kucingan medioker tak mencekam akibat deretan karakter pendukung membosankan, juga CGI buruk Xenomorph yang bak mutasi kucing liar. Tapi dosa terbesar film ini adalah membunuh tiga tokoh likeable (off-screen) film sebelumnya semata demi membuka jalan melanjutkan cerita. 
4. ALIEN: RESURRECTION (1997)
Jean-Pierre Jeunet (The City of Lost Children, Amelie) membawa keanehan visual dan selera humornya, menjadikan Resurrection rilisan paling ringan, sepenuhnya menghilangkan sentuhan horor. Keputusan kontroversial namun terbukti menghindarkan repetisi, toh selera absurd Jeunet masih mampu menghasilkan momen disturbing, sebutlah kala Ripley menemukan salah satu hasil kloningnya yang gagal. Ripley dalam wujud clone adalah sosok baru, lebih kuat, lebih dingin, lebih badass, meski naskah Joss Whedon lemah soal logika pengembangan karakter. Hiburan penuh histeria dalam balutan close-up serta monster hybrid manusia dengan Xenomorph yang, well, aneh.
3. PROMETHEUS (2012)
Prekuel yang lebih banyak mengumbar pertanyaan baru ketimbang menjawab atau membuat koneksi dengan film sebelumnya. Namun segala tanya itu ampuh melebarkan skala penceritaan franchise-nya, membawa ke arah baru yang menyimpan setumpuk potensi hingga bukan lagi sekedar sci-fi/horror klaustrofobik. Naskah garapan Jon Spaihts dan Damon Lindelof kuat mengusung filosofi soal Tuhan walau lemah dalam penokohan ketika sekelompok ilmuwan hadir begitu bodoh. Muncul pula lubang terkait teknologi yang lebih maju dibanding empat film lain (Prometheus ber-setting ratusan tahun sebelumnya). Bujet besar, desain produksi nomor wahid, plus Ridley Scott yang makin berpengalaman menangani blockbuster menghadirkan kemegahan memukau. 
2. ALIENS (1986)
Meninggalkan konsep horor atmosferik, James Cameron menyulap sekuel Alien menjadi suguhan aksi dengan machismo tingkat tinggi beserta metafora Perang Vietnam. Mengganti sexual innuendo dalam Alien dengan artileri militer kelas berat, deretan adegan aksi brutal dilakoni tokoh-tokoh memorable termasuk Ripley yang ketika third act, sepenuhnya bertrasnformasi dari final girl horror menjadi legitimate action heroine. Sambut pula Newt (Carrie Henn), salah satu karakter bocah terbaik Hollywood yang secara kurang ajar dimatikan oleh sekuelnya. 
1. ALIEN (1979)
Ridley Scott piawai menggabungkan teror atmosferik di mana adegan pembuka kala para kru terbangun dari kondisi stasis pun nampak creepy dengan jump scare efektif. Scott sanggup memancing kesan mencekam tak manipulatif bersenjatakan gambar menyeramkan (adegan Xenomorph diam bergelantungan di langit-langit jadi salah satu poin terbaik). Pace yang tak terburu-buru memberi penonton waktu mengenali tiap-tiap karakter. Murni film ensemble. Bahkan awalnya Ripley bak sekedar karakter pendukung ketimbang lead protagonist. Seperti telah disebut pula, sexual imagery bertebaran, entah pada pengadeganan, desain pesawat, pun Xenomorph sendiri. Menegaskan jika film Alien selalu mengusung alegori akan satu hal tertentu. 

FREE FIRE (2016)

"Free Fireto shootout is like Steven Spielberg's "Duel" to car chase. Keduanya sama-sama mengambil momen paling ditunggu dalam film aksi, kemudian mengembangkannya menjadi materi feature. Sutradara merangkap penulis naskah Ben Wheatley (Kill List, Sightseers, A Field in England) seolah berkata pada penonton, "Kalian suka baku tembak? Silahkan nikmati 90 menit parade desingan peluru". Pasca horor psikologis, horor psychedelic, komedi hitam, sampai satir dystopian drama, Free Fire makin memperkaya warna filmografi sang sineas asal Inggris. 

Bertempat di sebuah gudang di Boston tahun 1978, filmnya mengisahkan dua anggota IRA (Irish Republican Army), Chris (Cillian Murphy) dan Frank (Michael Smiley) yang hendak membeli senjata dari Vernon (Sharlto Copley). Turut hadir pula Justine (Brie Larson) selaku penghubung dua belah pihak. Namun bahkan sejak dibuka oleh Ord (Armie Hammer) pertemuan ini sudah bermasalah ketika Vernon tidak membawa senjata sesuai pesanan. Konflik makin memanas akibat terungkapnya sebuah fakta, memecah baku tembak di antara mereka. Tidak ada pahlawan di sini, hanya dua kubu kriminal yang tak segan menumpahkan peluru. 
Penggemar Quentin Tarantino dan karya-karya awal Guy Ritchie (Lock, Stock and Two Smoking Barrels, Snatch) akan terpuaskan oleh bagaimana Wheatley membangun intensitas di satu lokasi berisi tokoh-tokoh gila yang gemar bersumpah serapah dan bertingkah kasual sembari saling tembak bak sedang menikmati keseruan bermain bersama teman. Wheatley memang tidak berniat menjadikan Free Fire gelaran serius. Entah gaya deadpan Armie Hammer, kepiawaian Sharlto Copley memerankan tokoh bodoh, sikap histeris Brie Larson di beberapa kesempatan, maupun komedi hitam berupa barter peluru yang bagai menggantikan bahasa verbal pertengkaran karakter  adegan Justine dan Harry (Jack Reynor) adalah contoh terbaik  setia memancing tawa.

Naskah hasil tulisan Ben Wheatley bersama Amy Jump amat kaya dalam perbendaharaan kalimat, alhasil karakternya seperti memiliki ratusan cara guna mengungkapkan ejekan atau luapan perasaan. Walau sejatinya mayoritas karakter tampak homogen, tidak seberwarna kata-kata yang terlontar dari mulut mereka, tak jadi masalah sewaktu interaksinya konsisten menciptakan banter menarik. 
Seperti telah disebut, Free Fire adalah usaha transformasi satu aspek film aksi (shootout) menjadi sorotan utama. Peristiwa yang umumnya berlangsung 10 sampai 15 menit diperpanjang berkali lipat, dan tak pelak memunculkan masalah terkait tensi. Pembukaannya efektif menanam benih konflik yang dieskalasi bertahap sebelum memuncak saat tembakan pertama meletus. Berikutnya, repetisi gagal dihindari, sebab Free Fire memang punya alur tipis yang disusun potongan-potongan situasi yang bisa menarik andai Wheatley menekankan pentingnya suatu tujuan, fokus di pergulatan untuk mencapainya. Tapi kecuali momen "berebut telepon", sederet usaha karakter (menggapai koper, bergegas menuju tempat perlindungan, dll.) tenggelam dalam baku tembak acak yang meski "berisik", minim variasi dan gaya.

Free Fire jelas mengasyikkan, namun kurang soal balutan ketegangan akibat ketiadaan "ancaman" pada shootout-nya. Karakternya kerap kena tembak, terpaksa susah payah menyeret tubuhnya ke sana kemari karena terluka, namun tak sampai meregang nyawa. Penonton pun akan santai saja mendapati seseorang tertembak, toh ia bakal baik-baik saja, setidaknya hingga 15 menit terakhir kala Wheatley mulai menggandakan skala, memakai cara lain selain lesatan liar peluru, serta menyelipkan adegan brutal nan menyakitkan. Andai second act-nya memiliki kegilaan serupa, niscaya Free Fire lebih menggigit. But this is still such a hillarious, chaotic yet fun "bang bang bang" parade.