MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON OCTOBER 20, 2017)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

DEVIL'S WHISPER (2017)

Hasil kolaborasi MD Pictures dengan Vega, Baby! yang di Amerika dirilis langsung dalam bentuk home video pada 3 Oktober ini sejatinya menyimpan potensi. Naskah tulisan Oliver Robins dan Paul Todisco yang didasari cerita dari Adam Ripp (juga selaku sutradara) coba menonjolkan gejolak psikis sosok religius kala iblis menggoda imannya, ketimbang semata meneror lewat trik murahan. Namun, baik kedangkalan eksplorasi naskah sampai kurang cakapnya sutradara memainkan dinamika menghalangi terlaksananya niat baik tersebut. 

Protaonis kita adalah Alex (Luca Oriel), remaja 15 tahun dari keluarga religius. Maka tak mengherankan apabila ia bercita-cita menjadi Pastor. Walau taat beragama, orang tua Alex tidaklah kolot, seperti tampak pada doa bersama sebelum makan yang diisi canda tawa. Begitu pula Alex, yang di sela-sela kegiatan agama masih sempat nongkrong bersama teman-teman sambil minum bir, atau mengencani gadis pujaannya, Lia (Jasper Polish). Segalanya berubah saat ia menemukan kotak kayu misterius peninggalan mendiang neneknya. Bisa ditebak, iblis bersemayam dalam kotak itu, dan siap menggiring Alex menuju kegelapan.
Devil's Whisper menghabiskan mayoritas waktu menampilkan terkikisnya iman Alex secara bertahap, seiring penampakan sosok misterius yang hanya terlihat oleh dirinya. Sehingga wajar jika kedua orang tuanya yakin kejiwaan putera mereka terganggu. Sayangnya, penonton urung diseret pada pertanyaan "apakah Alex memang diganggu iblis atau punya gangguan mental?". Penonton diposisikan sebagai pihak serba tahu, tanpa dirundung kebingungan serupa karakternya. Pilihan ini melemahkan unsur psikologis kisahnya, pun membuat beberapa paparan poin sia-sia, misalnya soal peristiwa traumatik di masa kecil Alex.

Naskah Robbins dan Todisco gemar melempar fakta atau peristiwa, lalu tak lagi membahasnya. Keputusan Alex menceritakan gangguan iblis pada sahabat-sahabatnya maupun Pastor Cutler  (Rick Ravanello) yang menderita PTSD jadi beberapa di antaranya. Naskahnya berambisi merangkum sebanyak mungkin persoalan tanpa tahu mesti dibawa ke mana. Dampaknya turut mengenai perihal narasi yang gerakannya kurang mulus. Ditambah lagi kegemaran film ini memakai blackout sebagai transisi, terlampau sering menghadapkan penonton pada layar gelap, menjadikan tersendatnya aliran alur.
Keengganan untuk hanya mengandalkan jump scare patut diapresiasi walau urung diimbangi kekuatan naskah serta pengadeganan. Minimnya jump scare memaksa Devil's Whisper bergantung akan aspek lain seperti atmosfer maupun visual mengerikan, namun Adam Ripp sendiri belum piawai menakut-nakuti penonton. Sosok iblis beserta tindak-tanduknya terlalu plain untuk dapat menghasilkan scary imagery, sementara pacing-nya cenderung monoton, bagai tidak memiliki tenaga. Pengaruh paling fatal hadir dalam klimaks canggung, yang hanya mempunyai ketegangan setingkat pertengkaran keluarga daripada konfrontasi melawan iblis.

Para pemain tampil sesuai proporsi termasuk Luna Maya sebagai Dr. Dian, psikolog dengan penokohan klise yang tugasnya sebatas bicara dengan tenang. Beban terbesar diemban Luca Oriel. Setidaknya sang aktor mampu mendukung pendekatan "realis" filmnya atas konsep "kemasukan setan". Alex tak memperlihatkan perilaku absurd layaknya cara mayoritas film menunjukkan fenomena kesurupan. Dia mengalami ketidakstabilan emosi, intensi membunuh dan bunuh diri, tak ubahnya manusia biasa yang menderita gangguan psikis. Inilah mengapa penggalian dangkal Devil's Whisper terhadap sisi psikologis patut disayangkan. Potensi besar pun berakhir sia-sia. 

HAPPY DEATH DAY (2017)

"It's my birthday, and I'm gonna pick up the phone". Lirik nada dering super catchy tersebut niscaya melekat erat, baik di kepala penonton maupun Theresa alias Tree (Jessica Rothe) si tokoh utama. Bagaimana tidak? Lagu itu setia menyambut Tree bangun dari tidurnya, di satu pagi yang sama secara berulang-ulang dalam film yang mempertemukan unsur time loop ala Groundhog Day dengan slasher remaja akhir 90-an macam Scream hingga I Know What You Did Last Summer ini. Dan seperti judul-judul itu melambungkan Neve Campbell dan Jennifer Love Hewitt, Happy Death Day bakal mendorong popularitas Jessica Rothe yang sempat pula memainkan peran kecil di La La Land.

Tree mewakili ciri atau tepatnya stereotip mahasiswi anggota sorority: angkuh, tidak ramah, sangat memperhatikan penampilan. Diperlihatkan jelas oleh adegan pembuka berupa rutinitas Tree, dari terbangun di kamar Carter (Israel Broussard) setelah mabuk berat semalaman, membuang cupcake selaku kejutan ulang tahun untuknya yang dibuat Lori (Ruby Modine) si teman sekamar, sampai berselingkuh dengan dosen. Alhasil ketika di malam hari sosok bertopeng membunuhnya, kita tahu bahwa semua orang adalah tersangka yang punya motif. Bersama Tree yang kembali terbangun dan menjalani hari kematiannya terus menerus, kita digiring pada teka-teki mengenai identitas pelaku.
Tree percaya lingkaran waktu tersebut hanya akan berhenti begitu jati diri pelaku terungkap. Setiap kesempatan dia pakai guna mencari petunjuk sembari berusaha menyelamatkan diri. Tapi naskah garapan Scott Lobdell kurang memanfaatkan konsep time loop, baik dalam perihal pencarian petunjuk atau variasi situasi. Satu per satu kematian seharusnya menjadi proses tokohnya belajar memecahkan misteri sekaligus mengakali sang pembunuh. Namun seolah ikut terjebak di repetisi waktu, Happy Death Day sekedar mengulang kematian Tree dengan modifikasi minim signifikansi yang mayoritas hanya mengubah lokasi kematian. Padahal, terdapat setumpuk probabilitas yang menarik dimainkan secara kreatif.

Filmnya pun cukup lemah soal presentasi slasher dan trik menakut-nakuti. Sutradara Christopher B. Landon yang berpengalaman menulis empat seri Paranormal Activity mengandalkan segelintir jump scare medioker tanpa ketegangan plus metode pembunuhan tak kreatif (salah satu daya tarik slasher) yang makin kehilangan tenaga akibat usaha mendapatkan rating PG-13. Bisa ditebak, eksekusinya terlampau jinak di mana blackout sesaat sebelum Tree terbunuh jadi andalan. Menariknya, Landon dan Lobdell justru lebih piawai bersenang-senang menangani situasi komedik ketimbang ketegangan serius sisi horornya. 
Bergerak lambat di paruh pertama, memasuki 40 menit durasi, diawali montage saat Tree mulai beradaptasi di lingkaran waktu diiringi Confident milik Demi Lovato, Happy Death Day pun mulai menemukan pesonanya. Pengadeganan Landon dibantu penyuntingan oleh Gregory Plotkin berubah dinamis, sementara Lobdell bagai terfasilitasi menuangkan sederet banyolan, semisal "Stop staring at me like I just took a dump on your mom’s head" selaku respon Tree atas kebingungan Carter kala mendengar ceritanya tentang time loop, yang bukan mustahil jadi salah satu kalimat paling lucu tahun ini.

Tapi highlight film ini tentu Jessica Rothe. Melalui ucapan pedas atau lontaran bernada ironi khas komedi gelap lewat gaya deadpan, kemampuan menyulap kata-kata sederhana (contoh: Silence!) terdengar menggelitik pula adorable, hingga ketepatan ekspresi yang membuat adegan mengintip pun nampak begitu lucu, Rothe melapangkan jalan untuk "naik kelas". As a "scream queen", every scream is an over-the-top, hillarious hysteria. Happy Death Day membalut kisahnya dengan drama soal menjadi seseorang yang lebih baik demi masa depan yang lebih baik. Kini masa depan terlihat amat benderang bagi Jessica Rothe. 

BEATRIZ AT DINNER (2017)

Pada sekuen pembuka yang berfungsi memaparkan identitas Beatriz (Salma Hayek) selaku protagonis, pekerjaannya sebagai terapis pijat, serta minggunya yang berat pasca kambing peliharaannya dibunuh oleh seorang tetangga, kita juga diperlihatkan patung Budha dan gambar Maria berdampingan menghiasi mobilnya. Suatu cara gamblang guna menjelaskan bahwa tokoh Beatriz adalah liberal. Filmnya sendiri merupakan usaha sutradara Miguel Arteta bersama penulis naskah Mike White, di kolaborasi kedua mereka setelah Chuck & Buck dan The Good Girl, membuat dramedy yang sayangnya terlampau on-the-nose pula dangkal untuk bisa menggelitik maupun memancing pemikiran.

Seusai melayani kliennya, Kathy (Connie Britton), Beatriz terpaksa menunda kepulangan karena mobilnya rusak. Kathy pun menawarkannya tinggal, mengikuti jamuan makan malam bersama beberapa rekannya, para pebisnis sukses. Berasal dari "dunia berbeda" dan memakai pakaian seadanya, tak mengejutkan kala Beatriz kesulitan berbaur walau Kathy berulang kali memberi puja-puji atas jasa Beatriz membantu kesembuhan sang puteri dari kanker. Kita pernah ada di situasi serupa. Merasa sendiri di antara keramaian saat terjebak di tengah riuh rendah perbincangan sekelompok orang asing yang begitu berbeda dengan kita. 
Kawan-kawan Kathy nampak ramah (setidaknya di awal), namun semakin banyak Beatriz bicara soal pekerjaan dan reinkarnasi, bertambah tebal tembok pemisah, semakin terasing pula Beatriz. Tapi Beatriz at Dinner tidak berhenti sampai presentasi situasi canggung yang familiar itu. Konflik tereskalasi begitu tokoh utama bersinggungan dengan Doug (John Lithgow), pengusaha yang bergerak di bidang pembangunan hotel dan kerap terlibat kontroversi terkait penggusuran juga keengganan memperhatikan kesejahteraan karyawan. Fase ini pun menarik, sebab (lagi-lagi) besar kemungkinan penonton pun pernah (terpaksa) menghadapi sosok yang berlawanan dengan prinsip mereka.

Masalahnya, obrolan yang disusun gagal menjadi observasi memikat yang sanggup mengikat akibat dialog dangkal dari para tokoh, yang seiring durasi makin menjadi dua dimensi. Mana hitam dan putih terpampang terlalu jelas. Alhasil bukan pertukaran opini dinamis yang tersaji, melainkan kemalasan eksplorasi berbentuk eksploitasi akan ketidakberdayaan. Filmnya mengambil cara murahan kala melukiskan Beatriz sebagai "sosok putih" nan polos yang selalu bicara kebaikan dan disudutkan oleh kedigdayaan lawan bicaranya, para kapitalis. Namun Beatriz sendiri, dengan segala omongan yang terkesan tak tentu arah plus timing bicara semaunya, juga bukan tokoh simpatik terlepas dari maksud baiknya.
Melalui naskahnya, White bagai tak merasa perlu memberi Beatriz bobot argumentasi, berharap penonton otomatis mendukung karena tujuan mulianya. Tapi Beatriz at Dinner adalah drama berbasis dialog yang mestinya menggiring persepsi penonton lewat kalimat, bukan semata-mata berharap belas kasih. Isu "kapitalisme versus humanisme" atau secara lebih umum "ego versus hati" merupakan hal kompleks yang penting dibahas demi mencari jalan keluar. Alih-alih menawarkan jalan tersebut, film ini memilih menghadapi kompleksitas dengan pola pikir dangkal, sebatas berhenti pada "bunuh atau dibunuh".

Padahal Salma Hayek menawarkan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Berpenampilan lusuh, mata yang seolah hanya mengenal kebaikan dan keburukan tanpa keabu-abuan, sampai gerak minimalis semisal tangan yang nyaris tak berubah posisi kala berjalan, sang aktris tenggelam dalam peran yang sungguh berkebalikan dengan glamoritasnya sebagai mega bintang. Tidak seperti filmnya yang menyederhanakan gagasan ceritanya, Hayek total menangani karakter Beatriz.

GEOSTORM (2017)

Apa pemicu utama keberhasilan disaster film? Bukan semata bujet besar. Ingat, The Impossible berhasil secara meyakinkan mereka ulang tsunami tahun 2004 walau hanya punya anggaran 45 juta dollar. Menempatkan bencana di atas unsur lain dan membawa penonton berada di tengahnya adalah poin terpenting. Sehingga saat Geostorm tak pernah merealisasikan situasi maut seperti yang dijanjikan, artinya debut penyutradaraan Dean Devlin ini gagal memenuhi hakikatnya. Tidak mengejutkan, sebab filmnya sudah empat kali berganti tanggal rilis, salah satunya akibat hasil test screening buruk yang memaksa pengambilan gambar ulang dilakukan.

Adegan pembukanya menjanjikan, mengisahkan upaya kerja sama 17 negara menciptakan satelit pengontrol cuaca bernama "Dutch Boy" demi menghentikan bencana global. Jake Lawson (Gerard Butler) merupakan pimpinan proyek tersebut. Tetapi begitu akhirnya kondisi aman, Jake justru "ditendang" dari tim, digantikan oleh adiknya, Max (Jim Sturgess). Sifat manusia yang bersedia bersatu kala dirundung kesusahan hanya untuk mementingkan ego setelah kembali  merasa aman, sekilas disiratkan, walau sayangnya urung benar-benar dieksplorasi. 
Tiga tahun berselang, kejadian aneh mulai menyerang berbagai negara, diawali daerah gurun Afganistan yang membeku. Malfungsi pada Dutch Boy diduga jadi penyebabnya. Jake pun diminta bertugas lagi di stasiun luar angkasa demi mendeteksi kerusakan satelit buatannya sebelum terjadi geostorm, yaitu badai raksasa berskala global yang akan mengakhiri dunia. Terdengar epik, dan filmnya pun menjanjikan itu tatkala sepanjang durasi penonton diperlihatkan tsunami, gempa, hujan es, dan lain-lain. Tapi geostorm sendiri tak pernah diwujudkan. Menyisakan kehancuran berskala non-global yang sekedar muncul sekilas bagi penonton.

Bukankah jika geostorm berlangsung artinya kiamat? Benar, dan bukan masalah. 2012-nya Roland Emmerich jadi contoh sewaktu manusia tak mampu membendung "kiamat", fokus diberikan pada perjuangan bertahan hidup. Sejatinya mengedepankan usaha preventif pun dapat menarik asalkan berkutat di aktivitas menantang maut seperti Michael Bay tunjukkan lewat Armageddon. Dalam Geostorm, protagonis lebih sibuk mengutak-atik komputer yang turut menyia-nyiakan talenta Gerard Butler. Kurang bijak membayar Butler untuk mengucapkan kalimat-kalimat ilmiah alih-alih beraksi menyelamatkan dunia sebagai action hero. Cuma sebuah sekuen aksi ia dapat, itu pun dilakoni dalam balutan spacesuit
Singkatnya, para protagonis jarang ditempatkan langsung di pusat kekacauan. Max dan Sarah (Abbie Cornish), kekasihnya sekaligus anggota secret service sempat terjebak badai halilintar, namun Devlin memilih memusatkan kamera pada mobil yang dipacu ketimbang kerusakan sekitar. Devlin boleh saja menulis naskah lima film Emmerich, tapi dia tak "tertular" kapasitas pengadeganan sang maestro film bencana. Staging Devlin amat buruk. Daripada digiring ke dalamnya, peran penonton sebatas observer akan peristiwa yang tidak terlihat meyakinkan karena CGI buruk. Bahkan CGI penyusun latar kota (khususnya Rusia) pun tampak menggelikan.

Kurangnya eksekusi adegan bencana baik dari kuantitas maupun kualitas, Geostorm nyaris tak punya faktor pemberi kenikmatan. Drama keluarganya gagal menyentuh akibat penggalian dangkal naskah buatan Dean Devlin dan Paul Guyot. Pun performa cast-nya kurang mendukung di mana hanya Talitha Bateman (Annabelle: Creation) melalui kemunculan singkat sebagai puteri Jake yang sanggup menangani momen emosional. Demikian pula selipan humor yang bagai dibawakan setengah hati para pemain, kecuali Zazie Beetz dengan gaya deadpan menggelitik miliknya.

MEREKA YANG TAK TERLIHAT (2017)

Sayang sekali Mereka Yang Tak Terlihat akan lebih ramai dibicarakan karena rekor MURI untuk "Film drama horor dengan pemeran karakter makhluk astral terbanyak" alih-alih sebagai horor terbaik karya Billy Christian (Rumah Malaikat, Tuyul Part 1, Petak Umpet Minako) sejauh ini. Mengesampingkan trik jump scare klise andalannya, Billy merangkai drama coming-of-age berbumbu dunia supernatural di mana penampakan jadi bentuk komunikasi dan hantu bukan semata ancaman, melainkan makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia. Tentu itu dilakukan tanpa melupakan sentuhan horor lewat tampilan mereka.

Saras (Estelle Linden) mampu melihat hantu sedari kecil, tepatnya sejak sang nenek meninggal. Walau awalnya ketakutan, Saras coba terbiasa, apalagi kala beberapa arwah mulai berusaha menjalin komunikasi, entah sekedar curhat sampai meminta bantuan terkait persoalan yang belum tuntas. Di sisi lain kehidupan pribadi Saras jauh dari kemudahan. Bersama sang adik, Laras (Bianca Hello), Saras kerap terlibat perselisihan dengan ibunya (Sophia Latjuba) yang dituntut menghidupi kedua puterinya seorang diri hasil berjualan kue. 
Billy bersama Estelle Linden menyusun naskah Mereka Yang Tak Terlihat sebagai kisah coming-of-age. Bedanya, tumbuh kembang karakter dipengaruhi oleh hal-hal berbau mistis. Di balik itu adalah proses yang kita semua alami, seperti mendapati sisi kelam dunia yang ditunjukkan saat Saras memergoki tuyul sebagai pelaris warung bakso, memanfaatkan kelebihan demi menolong orang lain (atau hantu untuk film ini), hingga yang paling relatable yakni berdamai dengan keluarga. Pun isu seputar pergaulan remaja termasuk pesan anti-bullying turut disuarakan meski presentasinya tergolong standar.

Secara garis besar, film ini terbagi dalam tiga fragmen yang mengetengahkan hubungan Saras dan para arwah: persahabatannya dengan bocah laki-laki di masa kecil, curahan hati Dinda (Frislly Herlind) si korban penindasan, dan usaha penyelamatan yang dilakukan Saras. Ketiganya dijembatani konflik Saras dan ibunya. Masalahnya, dua tuturan awal kekurangan "magnet". Kisah pertama berlalu bagai tengah mendengarkan pembacaan cerita minim rasa akibat kurangnya penonton mengenal mereka yang terlibat, pun minim tensi ketika kejutan diungkap terlebih dahulu. Kisah kedua tertolong saat Dayu Wijanto kembali tampil meyakinkan lewat gestur, ucapan, dan tatapan mata yang penuh pancaran kasih sayang seorang ibu. 
Fragmen terakhir adalah bagaimana semestinya keseluruhan Mereka Yang Tak Terlihat digarap. Ketegangan, kengerian, kejutan, dan terpenting emosi berhasil disatukan. Penyutradaraan Billy mencapai puncaknya di sini, memainkan tensi melalui nuansa kekacauan bertempo dinamis pula mempertahankan kesan realistis berkat bantuan akting Estelle Linden yang meremukkan perasaan. Momen ini berpotensi jadi pengantar sempurna menuju epilog andai konklusinya dikemas rapi. Dengan sisa durasi terbatas, terlalu banyak hal dipaksa menyatu, menghasilkan aliran narasi berantakan. Dan pilihan ending-nya sungguh suatu cara malas guna memancing haru.

Upaya menciptakan sajian atmosferik belum sepenuhnya sukses, tapi keputusan menekan jump scare seminimal mungkin patut diapresiasi, sebab itulah senjata sekaligus kelemahan utama Billy Christian di karya-karya sebelumnya. Juga tidak seutuhnya gagal, karena tata suara yang memperdengarkan tangisan, erangan, sampai tawa hantu nyatanya lumayan mengerikan. Kalau eksploitasi penyiksaan dalam horor disebut "torture porn", maka parade 67 makhluk astral (entah jumlah ini tepat atau tidak) film ini, setidaknya pada setengah durasi awal adalah "ghost porn". Tak seberapa mengerikan, tapi cukup mengasyikkan. 

ONE FINE DAY (2017)

Bertaburan bintang idola kaum remaja, mengusung tumbuhnya asmara di setting luar negeri, wajar apabila banyak pihak skeptis akan produksi teranyar Screenplay Films ini. Terlebih Asep Kusdinar juga Tisa TS masing-masing tetap ada di kursi sutradara dan penulis naskah. Tidak bisa disalahkan. Itulah formula kemenangan yang menghasilkan dua film dengan jumlah penonton di atas sejuta. Andai berubah pun sifatnya takkan ekstrim dan tiba-tiba. Namun ketika beberapa bulan lalu Promise "hanya" meraih sekitar 655 ribu penonton, terendah dibanding film Screenplay lain, sedikit modifikasi rasanya perlu, dan One Fine Day melakukan itu.

Kini giliran Barcelona menjadi panggung sewaktu Mahesa (Jefri Nichol), musisi amatir sekaligus penipu ulung pemeras uang wanita-wanita yang dipacarinya, bertemu Alana (Michelle Ziudith). Mudah bagi Alana menyukai Mahesa yang hangat nan romantis mengingat sikap posesif sang kekasih, Danu (Maxime Bouttier) yang sampai mengirim bodyguard untuk mengawalnya ke mana saja. Berikutnya bisa ditebak, One Fine Day berkutat pada cinta segitiga, tepatnya pertarungan Danu si kaya yang sombong melawan Mahesa yang apa adanya tapi penuh kebebasan. Sesederhana itu.
"Sederhana" sesungguhnya kurang pas disematkan bagi karya Screenplay, pun One Fine Day yang diisi jalan-jalan mengelilingi Barcelona. Namun ketimbang judul-judul sebelumnya, film ini tak lagi disusun oleh barisan kutipan "romantis". Sesekali kalimat bernada puitis terucap tapi dalam kadar normal. Meski harus diakui, jalinan asmaranya tetap bergulir dangkal di mana kebahagiaan identik dengan montage jalan-jalan ditemani lagu Te Amo Mi Amor sambil memaksakan Alana (si pencari kebahagiaan) tertawa menanggapi apapun tingkah Mahesa (si pemberi kebahagiaan). 

Setidaknya dibandingkan Promise atau dwilogi London Love Story, glamoritas berupa mengendarai mobil mewah di luar negeri atau berkencan di restoran mahal bukan pondasi. Didorong pemanfaatan tepat setting di mana kemeriahan kultur serta musik menghadirkan tarian kegembiraan, kedua tokoh utama tampak murni mencari cinta. Kali ini setting luar negeri bukan sekedar memfasilitasi hedonisme karakternya, melainkan usaha mereka mengejar kebahagiaan. Hal ini didukung pula oleh sosok Mahesa yang dari luar tak sesempurna protagonis pria lain milik Screenplay. 
Jefri Nichol jelas piawai melakoni peran bad boy, walau resiko typecast perlu ia perhatikan demi daya tahan karirnya. Satu detail yang agak mengganggu adalah ketika Nichol beberapa kali bermain gitar tanpa memindahkan kunci. Sementara Michelle Ziudith dengan tangisannya niscaya bakal mudah membuat penonton remaja ikut berurai air mata. Walau cukup disayangkan, penokohan Alana yang cenderung pasif kurang memberinya kesempatan unjuk gigi keahlian mencuri perhatian sebagai gadis bersemangat. Padahal barter sindiran antara Ziudith dan Nichol bakal memberi nyawa lebih untuk percikan asmara filmnya.

Kembali menyoal penyederhanaan, memilih tidak lagi memaksakan keberadaan rahasia atau twist "besar" yang senantiasa jadi "penyakit" Screenplay jelas nilai tambah dalam One Fine Day. Pergerakan alur pun berakhir lebih lancar, tanpa terbebani pengungkapan kejutan tak masuk akal selaku konklusi. Lupakan keraguan sembari menyadari tujuan serta target pasar filmnya, maka anda akan menemukan One Fine Day sebagai rilisan terbaik Screenplay Films sejauh ini.

THE PROMISE (2017)

The Promise jadi usaha Sophon Sakdaphisit (Ladda Land, Coming Soon, The Swimmers) menyuguhkan horor dengan pondasi dramatik. Tampak dari unsur persahabatan serta kekeluargaan kental dalam naskah karya Sophon bersama Sopana Chaowiwatkul dan Supalerk Ningsanond. Alih-alih seketika meneror, penonton terlebih dulu diajak berkenalan dengan dua remaja yang bersahabat, Ib (Panisara Rikulsurakan) dan Boum (Thunyaphat Pattarateerachaicharoen). Tidak hanya selalu bersama, kedua ayah mereka pun menjalin kerja sama pada sebuah proyek pembangunan gedung. Sampai krisis finansial tahun 1997 merenggut segalanya.

Keputusan tepat memakai krisis moneter sebagai latar, sebab motivasi dan kondisi psikis karakter dapat terjabarkan tanpa perlu menyita banyak waktu. Selipan sederet stock footage turut membantu penonton memahami lingkup permasalahan yang menghancurkan hidup dua tokoh utama. Keduanya jatuh miskin sekaligus mesti menghadapi kekerasan ayah masing-masing. Tertekan luar biasa, mereka memutuskan bunuh diri. Namun setelah Ib menarik pelatuk, Boum yang ketakutan memilih kabur. 20 tahun kemudian, Boum (Namthip Jongrachatawiboon) adalah wanita karir sukses dengan seorang puteri bernama Bell (Apichaya Thongkham). 
Mencapai sekitar 20 menit durasi, barulah The Promise menampakkan horornya saat arwah Ib kembali demi menagih janji. Bukan nyawa Boum yang diincar, melainkan Bell, yang segera berumur 15 tahun, usia yang sama dengan Ib kala bunuh diri. Metode menakut-nakutinya masih berkutat di pakem jump scare berbumbu efek suara kencang, tapi The Promise punya tata suara mumpuni yang hampir selalu berhasil menghasilkan daya kejut maksimal walau kita telah bersiap sekalipun. Meski perlu diakui bukan jalan elegan, setidaknya deretan hentakan mampu menjaga tensi. 
Patut diapresiasi juga adalah keberanian Sophon meniadakan penampakan secara gamblang. Hasilnya, arwah Ib terjaga sebagai entitas misterius yang bisa seketika menghantui entah lewat menggerakkan barang atau melalui pertanda lain. Kesan sang arwah senantiasa mengintai dari balik kegelapan menunggu kesempatan teror paling kuat terasa dalam dua momen: face detector dan sewaktu Boum nekat mencari keberadaan Ib bersama seorang bocah. Sayang, mencapai paruh akhir di mana intensitas semestinya memuncak, Sophon bagai kehabisan akal, bergantung pada repetisi jump scare minim daya cengkeram.

Kelemahan terbesar The Promise terletak di third act. Sophon berlama-lama berkutat di berbagai titik. Pun keputusan memberi sentuhan drama turut menjadi bumerang tatkala filmnya dipaksa menghadirkan ragam resolusi jauh setelah ancaman utama berakhir. Apalagi balutan dramanya sendiri bergulir tak seberapa solid. Di satu sisi, sebagai horor, The Promise jadi memiliki bobot, ada sesuatu untuk diceritakan ketimbang sepenuhnya parade jump scare. Namun di sisi lain, akibat harus berbagi dengan elemen horor, tuturan kisahnya kekurangan porsi pengembangan yang berperan vital mengikat emosi penonton. Padahal jajaran pemain punya kapasitas memadahi, baik Apichaya Thongkham yang cute dan likeable atau Namthip Jongrachatawiboon sebagai ibu sekaligus kawan yang didera keputusasaan.

THE LOVERS (2017)

The Lovers terlihat familiar di permukaan, tentang pernikahan pasangan suami istri paruh baya yang diterpa krisis berbentuk kebosanan berujung perselingkuhan. Tapi Azazel Jacobs sang sutradara sekaligus penulis naskah memberi satu sentuhan pembeda: kedua belah pihak berselingkuh secara berbarengan. Situasi tersebut Jacobs manfaatkan bukan saja demi menaikkan kompleksitas, pula meminimalkan, bahkan meniadakan keberpihakan penonton, pun memancing kelucuan. 

Mary (Debra Winger) dan Michael (Tracy Letts) jarang bertengkar, setidaknya dari yang nampak di layar. Namun dinding tebal tak kasat mata rupanya memberi jarak. Mereka urung berkomunikasi, seolah bosan pada pasangannya. Mungkin itu pula alasan keduanya memilih Robert (Aidan Gillen) dan Lucy (Melora Walters) yang lebih energik dan bersemangat sebagai kekasih gelap. Mary dan Michael mencari "api" yang tengah padam. Walau dirundung keraguan, keputusan telah diambil. Baik Mary maupun Michael bertekad mengaku untuk meninggalkan satu sama lain saat sang putera, Joel (Tyler Ross) berkunjung. 
Bukan perkara gampang mengakui perselingkuhan, apalagi jika pengakuan itu berujung permintaan untuk mengakhiri pernikahan. Ketakutan, kecemasan, penyesalan menghantui Mary dan Michael. Lucunya, mereka tak menyadari si pasangan menyimpan dilema serupa. Hasilnya adalah kecanggungan menggelitik. Jacobs piawai merangkai keheningan dua tokoh utama yang di waktu bersamaan menggiring kita menebak-nebak isi pikiran mereka. "Bagaimana aku harus mengaku?" atau "Kenapa dia terdiam? Apakah dia mecurigaiku?" jadi beberapa kalimat imajiner yang timbul kala mengobservasi interaksi bisu Mary dan Michael. 

Perselingkuhan dalam The Lovers terjadi didorong keinginan protagonis mencari kesenangan, gelora asmara tanpa beban. Tetapi menginjak pertengahan, filmnya cerdik memutarbalikkan peran tersebut, ketika Mary dan Michael justru terbebani desakan para simpanan untuk segera mengakhiri pernikahan. Sebaliknya, kehangatan keduanya malah perlahan kembali, disebabkan tiada tuntutan dalam hubungan mereka di fase itu. Penelusuran atas kompleksitas percintaan dan pernikahan yang mengombang-ambingkan pelakunya dalam ketidakpastian ini Jacobs pertahankan hingga konklusi yang menghasilkan happy ending secara ironis, dan lagi-lagi menggelitik.
Walau menggali permasalahan pelik nan serius, Jacobs enggan menyajikan nuansa kelam. Selain balutan humor, musik gubahan Mandy Hoffman turut berperan. Orkestra megah senantiasa mengiringi, sekalipun di momen sederhana minim goncangan permasalahan. Dampaknya beragam. Ada kalanya menguatkan kelucuan, sesekali tercipta ketepatan dramatisasi, namun tidak jarang terasa berlebihan dan tak perlu. Meski secara keseluruhan, usaha menjadikan film ini selaku opera kehidupan rumah tangga dengan kejenakaan bernada ironis dapat tercapai.

Menyentuh paruh akhir, The Lovers mulai menemukan batu sandungan lain. Salah satu selingkuhan menampakkan diri melontarkan "teror" menghasilkan konflik penambah dinamika, tetapi lain cerita sewaktu keduanya hadir. Selain permasalahan tidak lagi terjalin natural, juga satu bentuk penggampangan Jacobs perihal penyelesaian masalah. Ditambah lagi sebuah detail kecil yang melemahkan usaha filmnya untuk bersikap adil kepada dua protagonis. Di luar kekurangan itu, The Lovers masih komedi-romantis dengan perspektif dewasa yang paling tidak, menghibur selaku suguhan alternatif.