LOVING (2016)

Malam telah larut di Caroline County, Virginia, ketika Mildred (Ruth Negga), seorang gadis kulit hitam, memberi tahu kekasihnya yang seorang kulit putih, Richard Loving (Joel Edgerton), bahwa ia tengah hamil. Mildred tampak resah mewartakan kabar bahagia tersebut. Wajar saja, sebab saat itu, tepatnya tahun 1958, terdapat hukum di Virginia yang melarang pernikahan antar-ras. Namun tak dinyana, Richard justru tersenyum, bahagia mendengarnya. Di tengah kesunyian malam, pasangan ini berbagi momen intim, bak menyuarakan tanpa perlu meneriakkan bahwa tiada kesalahan dalam kondisi tersebut, hanya dua sejoli manusia tengah saling mencintai. 

Serupa pendekatan di karya-karya sebelumnya, sutradara Jeff Nichols ("Take Shelter", "Mud", "Midnight Special") memilih flow penceritaan lambat, tanpa berusaha menghujam penonton dengan kesan grandiosity pada pengadeganan. Bahkan walau "Loving" yang mengambil inspirasi dari dokumenter "The Loving Sotry" buatan Nancy Buirski ini punya kisah bersejarah penting, Nichols tetap mementingkan keintiman, fokus menjalin kuatnya cinta dua tokoh utama. This movie never trying too hard to be important. It's never about statement. It's all about Loving couple who deeply love each other and that's more than enough, important enough
Richard membawa Mildred ke Washington DC agar bisa melangsungkan pernikahan sebelum kembali ke Virginia, menjalani hidup sebagai suami-istri secara sembunyi-sembunyi. Namun pihak kepolisian akhirnya mengetahuinya, lalu mengurung mereka di sel. Richard dan Mildred terancam hukuman setahun penjara. Agar dapat menghindar, keduanya harus memilih untuk bercerai atau meninggalkan Virginia selama 25 tahun. Opsi kedua pun dipilih. Tapi perasaan terkekang, dijauhkan dari rumah serta keluarga hanya karena saling mencinta menghalangi hadirnya kebahagiaan utuh, khususnya bagi Mildred. Sampai kasus itu menarik perhatian ACLU (American Civil Liberties Union) yang hendak membantu membawa kasus tersebut ke Mahkamah Agung. 

Banyak potensi dramatisasi di tengah setumpuk peristiwa monumental, tapi Nichols kukuh mengetengahkan intimacy, mengandalkan kelembutan bertutur. Keresahan protagonis dipancarkan bukan lewat tangisan, cukup melalui kesunyian menusuk saat mereka tampak dingin menyaksikan peluncuran Apollo 11 di televisi. Richard dan Mildred tak kuasa ikut merayakan peristiwa besar umat manusia karena hak mereka sebagai manusia tengah dihancurkan. Tidak sekalipun keduanya dikuasai amarah, berapi-api melawan penindasan. Mereka lebih banyak diam, memancarkan ketidakberdayaan. Bukan status pahlawan sebagai tonggak perubahan yang dicari, melainkan kebebasan mengekspresikan rasa cinta. 
"Loving" bisa saja digerakkan ke arah drama yang ramai gejolak khususnya menyangkut respon negatif masyarakat sekitar atas pernikahan antar-ras dan konflik ruang sidang. Namun baik di penulisan naskah atau penyutradaraan, Nichols memilih bentuk penuturan subtil. Kita tak pernah tahu siapa pelaku di balik pelaporan pernikahan Richard dan Mildred ke polisi. Nichols benar-benar menghindari ekspresi kemarahan, seperti yang juga terlihat kala ibunda Richard, Lola (Sharon Blackwood) diam-diam mengungkapkan keberatan atas pernikahan sang putera. Dia memilih momen personal, bicara empat mata mencurahkan perasaan tanpa berusaha memaksa, lalu tetap bersedia membantu persalinan Mildred. 

Pada bagian persidangan, terlihat dua pengacara, Bernie Cohen (Nick Kroll) dan Phil Hirschkop (Jon Bass) berambisi mencetak sejarah ketimbang seutuhnya ikhlas menolong. Nichols menyampaikannya secara tersirat lewat obrolan singkat, respon ekspresi, sampai bagaimana keduanya mementingkan publisitas dengan mengundang wartawan dan Grey Villet (Michael Shannon), fotografer majalah LIFE. Persidangan di Mahkamah Agung selaku klimaks pun tak ditampilkan utuh. Nichols memilih fokus pada keseharian keluarga Loving yang dipenuhi senyum kebahagiaan sambil dengan cermat sesekali memindahkan setting ke persidangan yang hanya menampilkan Bernie dan Phil membacakan pembelaan, makin menegaskan betapa film ini lebih berkonsentrasi pada cinta.
Berbekal tatapan mata kaya rasa dan gestur kecil sebagai penguat, Ruth Negga meresapi emosi Mildred Loving, menenggelamkan penonton dalam perasaan sama. Sebuah bentuk kesubtilan akting yang cenderung sunyi di permukaan tapi menyimpan ledakan di dalam, berujung kesuksesan menghidupkan seorang wanita kuat penuh ketabahan. Sementara itu, Edgerton sebagai Richard Loving lebih rapuh, cemas dan paranoid. Serupa Negga, Edgerton mengandalkan mata ketimbang kata. Richard tak pernah nyaman dengan proses persidangan atau publisitas, dan penampilan Edgerton sanggup menegaskan sikap itu selaku bentuk keengganan menempatkan wanita tercinta di posisi berbahaya. Tanpa banyak bicara, Edgerton dan Negga mampu menjalin chemistry, saling bertukar rasa melalui intensitas tatapan. 

Saya tak pernah menjadi penggemar gaya Jeff Nichols, namun "Loving" jelas sempurna mewadahi sensitivitasnya. Nichols mengandalkan kesederhanaan, meniadakan kemubaziran yang biasa terjadi kala ungkapan verbal mendominasi. Contohnya tatkala Richard mabuk di malam hari kemudian menangis di samping istrinya. Tidak banyak kata terucap, hanya "Aku bisa melindungimu". Sederhana namun efektif menjelaskan perasaan karakter pula memancing emosi penonton. Ditemani musik mendayu buatan David Wingo yang tak pernah berlebihan mencuri fokus serta sinematografi berisi warna-warna lembut milik Adam Stone, tercipta "Loving", perayaan terhadap kesakralan cinta yang universal dan disajikan tulus, halus tanpa amarah maupun bumbu-bumbu pernyataan tak perlu. 

XXX: RETURN OF XANDER CAGE (2017)

Bukan suatu kejutan mendapati dibangkitkannya kembali "xXx" setelah 12 tahun lamanya berujung usaha mereplikasi formula "Fast and Furious". Vin Diesel butuh "kendaraan" lain guna mengeruk pundi-pundi dollar. "Riddick" merupakan kegagalan dan saya tak menghitung "Guardians of the Galaxy" sebab dia hanya menyumbangkan suara untuk mengucapkan satu kalimat (he's not the face of the franchise). Jika penonton enggan menggubris sang aktor di luar seri tersuksesnya, kenapa tidak berikan saja yang mirip? Mungkin begitu pikir para produser (termasuk Vin Diesel). "xXx: Return of Xander Cage" is as dumb, as over-the-top, but not as fun or as good as "Fast and Furious".

Jangan harap mendapat penjelasan mengenai cara Xander Cage (Vin Diesel) memalsukan kematiannya selain, well, faking his own death. Bodoh memang, namun sudah sepantasnya anda paham bakal disuguhi film macam apa pasca opening berupa perekrutan Neymar (as himself) sebagai agen xXx oleh Gibbons (Samuel L. Jackson) yang diselipi lelucon Avengers, kemudian diakhiri kematian keduanya akibat tertimpa satelit. "xXx: Return of Xander Cage" sengaja diposisikan layaknya b-movie yang konyol, bodoh, tak masuk akal, berlebihan, tidak serius. Pertanyaannya, seberapa jauh film ini berani menerima atau kalau perlu memanfaatkan posisi tersebut atas nama hiburan?

Xander masih segar bugar, bersembunyi di suatu perkampungan, mengisi harinya dengan kegiatan ekstrim seperti terjun bebas dari menara setinggi puluhan meter lalu memacu kencang skateboard, semua agar warga setempat bisa menonton pertandingan sepak bola. Yep, Xander Cage is return indeed. Di sisi lain, pihak CIA tengah kelabakan tatkala Xiang (Donnie Yen) beserta anak buahnya mencuri "Pandora's Box", suatu alat yang mampu mengontrol pergerakan satelit. Tergerak karena tewasnya Gibbons, Xander bersedia kembali, kali ini bersama tiga rekannya, Adele (Ruby Rose) sang sniper, Nicks (Kris Wu) sang DJ (what?), dan Tennyson (Rory McCann) yang entah punya keahlian apa, pastinya ia terobsesi menabrakkan kendaraan yang ia kemudikan. 
Selain Adele dan aksinya menembak jitu sambil terikat di atas pohon, praktis dua tokoh lain tak mendapat porsi memadahi. Kris ada hanya demi menarik perhatian penggemarnya dan para penggila K-Pop, sedangkan McCann tak lebih dari pelengkap. Demikian akibat menumpuk terlampau banyak karakter tanpa pembagian porsi seimbang, terlebih bila terdapat sederet nama besar, kekecewaan amat mungkin tertinggal. Sebagaimana peran menjadi kaki tangan Donnie Yen membatasi Tony Jaa beraksi. Muncul sisi lain Jaa yang komikal, tapi bukan itu alasan penonton menantikannya. Untung Donnie Yen sempat memamerkan kepiawaian bela dirinya, menghajar lawan dengan gerakan tangan secepat kilat, terlibat adegan aksi badass di jalan raya serupa "Kung Fu Jungle". Still far from his greatest works, but enjoyable for sure.

Anda bakal sering mendengar kata "bodoh" disematkan pada "xXx: Return of Xander Cage" dan memang tepat. Naskah garapan F. Scott Frazier tersusun atas karakterisasi dangkal dengan ketidakjelasan motivasi hingga berbagai sikap bagai tanpa alasan, pula kekacauan dalam merangkai pergerakan alur, membuat penuturan kisahnya terbata-bata. Cerita sekedar alasan yang dikarang begitu malas supaya filmnya berkesempatan menggelontorkan action sequence. Namun menengok opening tersebut di atas, juga rentetan humor termsuk dialog tak perlu selaku pemancing one-liner konyol yang tidak menyimpan substansi, kentara film ini enggan dipandang (terlampau) serius. 

Semakin kental status film kelas B melihat CGI buruk mengemas kejar-kejaran Vin Diesel dan Donnie Yen menaiki motor yang mampu membelah ombak atau sequence pamungkas di udara, dua contoh momen over-the-top selaku cerminan usaha filmnya meniru formula sukses "Fast and Furious". Sayangnya "xXx: Return of Xander Cage" masih kurang imajinatif, kurang total mengeksploitasi aksi di luar nalar. Kesan ini diperkuat oleh terlalu lamanya jeda antar action sequence, seolah ingin berkonsentrasi pada plot yang mana tidak eksis. Akibatnya, acapkali tensi menurun. 
Faktor lain di balik kurangnya tingkat kegilaan adalah kurang cakapnya penyutradaraan D.J. Caruso ("I Am Number Four", "Disturbia"). Caruso lalai "merayakan" deretan aksi di atas normal, sekedar memberlakukan shot-shot generik yang menangkap seadanya suatu momentum. Walau begitu, "xXx: Return of Xander Cage" memiliki klimaks memikat tatkala Jim Page dan Vince Filippone menyunting perkelahian dua lokasi, membuatnya bergerak cepat nan solid dengan ritme yang terjaga baik. Ditambah terbagi ratanya porsi tiap tokoh unjuk gigi, saya pun dibuat berharap pertunjukkan ini tidak segera diakhiri. 

"xXx: Return of Xander Cage" is so dumb, but afterall, this is all about "kick some ass, get the girl, and try to look dope while you do it." Hanya berdasarkan itu film ini dibangun, dan benar itu pula yang bakal penonton dapatkan. Membicarakan bagian "get the girl", Deepika Padukone melakoni debutnya di Hollywood dengan penampilan menghipnotis berbekal pesona luar biasa, memaku pandangan pada tiap detik kemunculan. Saya tak masalah menonton ulang demi kembali menyaksikan Deepika semata.  Sementara itu, Vin Diesel memperdengarkan cara bicara, ekspresi termasuk tatapan mata sekaligus senyum seolah tengah mabuk sepanjang durasi. At least he's having fun, and so am I

TOP 20 MOVIES OF 2016

Akhirnya setelah terbengkalai beberapa lama, selesai sudah daftar 20 film terbaik (atau favorit) pilihan saya. Hanya film yang saya tonton selama setahun lalu dan dirilis tahun 2016 (atau 2015 tapi baru mendapat perilisan luas pada 2016). Sehingga jangan harap menemukan "Arrival" atau "La La Land" yang baru tayang di bioskop Indonesia tahun 2017. Sayangnya karena faktor kesibukan, jumlah film yang saya tonton kembali menurun menjadi 236 judul. Perlu ditekankan, dampak film terhadap penonton berbeda-beda, jadi sudah pasti terdapat perbedaan antara pilihan saya, reviewer lain, dan anda para pembaca. Tanpa berlama-lama, berikut 20 film terbaik versi Movfreak.

20 - EVERYBODY WANTS SOME!!
Karena Linklater masih piawai mengangkat sendi kehidupan, mengemas perenungan berisi dialog cerdas tanpa harus terlampau serius. Kisah seputar adaptasi dan pertemuan dengan cinta di tempat baru terasa relatable dengan masa awal perkuliahan kita. 
19 - CAPTAIN FANTASTIC
Karena eksplorasinya soal dua sisi ideologi jalan hidup yang berseberangan sanggup disampaikan seimbang, memancing pertanyaan di benak penonton, tanpa lupa menyentuh emosi sembari menebarkan pesan keharmonisan. 
18 - UNDER THE SHADOW
Karena kengerian tak melulu harus menampilkan penampakan hantu diiringi musik memekakkan telinga, cukup kejelian mengatur suasana lalu memainkan degradasi psikis tokoh, sembari memanfaatkan menyeramkannya medan perang. Hadir pula selipan kritik mengenai sistem patriarki.
17 - THE WAILING
Karena keberhasilan menggabungkan begitu banyak sub-genre horor jelas merupakan prestasi langka. Belum lagi penyutradaraan Na Hong-jin sanggup menampilkan intensitas rapat, atmosfer tidak nyaman, dan visual mengerikan.
16 - YOUR NAME
Karena di samping kemampuannya mengharu biru berkat kisah takdir romantika yang jadi pembicaraan banyak pihak itu, terdapat kecerdikan tutur dalam menyiasati konsep fantasi perjalanan waktu rumit tanpa harus sok pintar, meminimalisir lubang alur.
15 - THE NEON DEMON
Karena tak peduli banyak pihak membenci gayanya, Nicolas Winding Refn selalu menghasilkan absurditas yang menimbulkan adiksi, kali ini berkat parade surealisme dalam balutan gemerlap neon yang menghipnotis. Tersalurkan pula kejengahan atas dunia fashion minim hati. 
14 - WEINER
Karena dokumenter satu ini sanggup memutarbalikkan persepsi sedemikian cepat, memancing pemikiran kritis, memunculkan observasi tentang betapa ambigu subjeknya selaku tokoh dunia politik kontroversial. 
13 - FINDING DORY
Karena Pixar tak harus selalu berisi kecerdasan alur dan banjir air mata. Tidak masalah ceritanya ringan, sebab sudah lama petualangan produksi Pixar tak semenyenangkan ini dengan tawa hadir tanpa henti meski telah dua kali menonton.
12 - THE NICE GUYS
Karena walau pengalaman menonton pertama tak luar biasa, ramuan komedi dalam pulp fiction Shane Black ini terus mengundang saya ingin mengunjungi kebodohan jenaka Ryan Gosling. He's that same cool guy from "La La Landand "Drive", remember
11 - A MONSTER CALLS
Karena keberhasilannya merangkum kisah coming-of-age menjadi pemahaman bittersweet yang memancing haru kala mendapati pendewasaan artinya menerima kenyataan. Penuh imajinasi kreatif dalam rentetan dongeng selaku metafora bervisualisasi menawan.
10 - ISTIRAHATLAH KATA-KATA
Karena Yosep Anggi Noen membuktikan kehebatannya bernarasi dengan visual, membangun kesunyian mencekam dalam sajian arthouse yang tak berusaha meredam gejolak emosi termasuk pada ending luar biasa miliknya.
9 - CAPTAIN AMERICA: CIVIL WAR
Karena selain memuaskan hasrat pecinta komiknya, Russo Brothers telah menjalankan tugas yang awalnya mustahil, yakni menyatukan begitu banyak superhero, memberikan salah satu adegan aksi terbaik. 
8 - THE BIG SHORT
Karena konflik dunia ekonomi secara mengejutkan dapat begitu menghibur, menggelitik, tanpa sekalipun kehilangan kekuatan tutur satirnya. Menjelaskan pada penonton awam seperti apa kekacauan krisis finansial tahun 2008.
7 - ANOMALISA
Karena Charlie Kaufman sangat jenius merangkai simbolisme, bukan sekedar menghasilkan animasi pretensius soal kesendirian dan pencarian cinta yang menghidupkan hidup. Animasinya indah sekaligus unik. 
6 - SPOTLIGHT
Karena kisah kontroversialnya mengenai tindak pelecehan para ahli agama begitu mengguncang perasaan, digerakkan oleh gaya bercerita jurnalistik berisikan penelusuran fakta mencengkeram. 
5 - MOANA
Karena sedikit yang mampu memvisualkan keajaiban sebagaimana film ini ketika sang protagonis terpilih oleh alam. Animasinya memikat mata, belum lagi deretan lagu yang takkan lekang oleh waktu.
4 - TICKLED
Karena serupa yang dirasakan pembuatnya, dokumenter ini diawali premis konyol tentang kompetisi menahan geli, kemudian bergerak ke ranah yang lebih besar dan gelap, menyoroti sexual disorder sampai cyber criminal, tanpa henti memacu jantung penonton menanti terungkapnya fakta-fakta mengejutkan.
3 - EYE IN THE SKY
Karena tatkala adegan membeli roti saja teramat mencekam, saya tahu tengah menyaksikan suguhan spesial yang konsisten pula menjaga ritme penceritaan sambil menyatakan kritik bagi pihak militer.
2 - ROOM
Karena paparan filosofis mengenai kebebasan sanggup dikemas ringan tanpa kehilangan bobot, dan lebih dari itu, gejolak emosi seolah tak henti menerjang mendapati keindahan kisah ibu dan anak yang diperankan begitu memikat oleh Brie Larson dan Jacob Tremblay.
1 - THE HANDMAIDEN
Karena walau kental unsur seksual, filmnya bukan semata-mata eksploitasi tanpa arti, memanfaatkan seks sebagai observasi psikis memikat, mendorong sejauh mungkin potensi visual selaku alat bercerita, sambil beberapa kali melempar twist mengejutkan. Saat anda mengira Park Chan-wook telah mencapai batas, "The Handmaiden" menjelma jadi masterpiece penuh layer yang takkan membosankan ditonton berulang kali lalu diperbincangkan. 

LIVE BY NIGHT (2016)

Keterlibatan Ben Affleck dalam "Batman v Superman: Dawn of Justice" plus proyek jangka panjang DC lain sempat memantik kekhawatiran saya. Benar tidaknya komitmen tersebut mengganggu proses kreatifnya di luar DCEU mungkin takkan mendapat jawaban pasti, tapi "Live by Night" jelas film setengah matang yang menodai winning streak karir penyutradaraan Affleck. Untuk pertama kalinya Affleck menulis naskah tanpa partner dan begitu kentara betapa kerepotan ia mengadaptasi novel berjudul sama karya Dennis Lehane yang ceritanya kaya akan subteks mengiringi proses panjang seorang pria menjadi gangster besar.

Ber-setting di tahun 1920-an hingga 1930-an, "Live by Night" berkisah tentang seorang veteran Perang Dunia I bernama Joe Coughlin (Ben Affleck). Pengalaman sebagai prajurit membuat Joe jengah pada kekangan, berhasrat hidup dengan semangat kebebasan. Didasari itu, Joe menjalani hari ke hari dengan merampok bank walau sang ayah (Brendan Gleeson) adalah petinggi kepolisian Boston. Di sisi lain, Joe diam-diam terlibat romansa dengan Emma Gould (Sienna Miller), kekasih gangster tersohor, Albert White (Robert Glenister). Menuruti perasaannya, Joe berniat kabur bersama Emma, keputusan yang justru membenamkannya jauh ke dalam kehidupan gangster.
Tema kebebasan sejatinya sesuai diselipkan di tengah drama gangster. Para pelakunya diharuskan mematuhi perintah bos, mendahulukan kepentingannya meski harus berkorban nyawa. Joe melalui perjalanan panjang. Berpindah ke Tampa menjalankan bisnis milik mafia Italia, Maso Pescatore (Remo Girone), berurusan dengan banyak pihak mulai Ku Klux Klan hingga gadis mantan pecandu narkoba yang menjadi penceramah bernama Loretta (Elle Fanning with short yet captivating performance). Affleck tampak kerepotan memadatkan setumpuk konflik dan karakter itu ke dalam kisah berdurasi 129 menit. Pergerakan alurnya kasar, bagai terbagi atas segmen yang berdiri sendiri-sendiri. Melompat, tidak mengalir.

This could be more than an ordinary gangster tale. Joe adalah pria abu-abu. Dia anak seorang polisi, seorang kriminal, tapi enggan menikmati pembunuhan demi keuntungan pribadi. Tapi lain cerita saat berurusan dengan Ku Klux Klan yang menindas kaum minoritas. Memang ada pengaruh kepentingan bisnis dalam perlawanan Joe, namun jelas hati kecilnya membenci kebiadaban tersebut. Terbukti ia menikahi Graciella (Zoe Saldana), seorang wanita kulit hitam. "Live by Night" banyak berisi subteks soal diversity serta paling menarik kala menempatkan Joe melawan penindasan sembari membicarakan (baca: mempertanyakan) tentang religiusitas lewat story arc Loretta. 
"Live by Night" kekurangan momen glorifikasi gangster yang penuh intrik, perencanaan licik dengan bumbu berupa pertumpahan darah. Momen serupa hanya hadir pada klimaks dan terbukti efektif meningkatkan intensitas. Sisanya, Affleck lebih banyak menyuguhkan situasi membosankan berupa obrolan dan bargaining yang diperparah oleh penulisan dialog ala kadarnya. Sempat hadir car chase namun Affleck gagal menyuntikkan ketegangan, dikemas terburu-buru, berlalu begitu saja. Masalah berikutnya terletak pada akting Affleck. Dia adalah aktor "unik", punya pesona justru saat datar berekspresi yang mana kembali ditampilkan di sini. Sayang, ia kurang piawai kala mengemban beban bertutur layaknya gangster karismatik yang bak magnet, mencengkeram atensi penonton. 

Serupa proses sang protagonis mencari kebebasan, "Live by Night" terasa berantakan. Well-made but messy. Setidaknya penonton disuguhi konklusi memuaskan berupa aksi penuh intrik disertai baku tembak serta penutup bittersweet yang menegaskan bahwa tidak peduli sebaik apa seseorang, sekalinya ia terjebak di dunia hitam ada harga yang harus dibayar termasuk ketiadaan kebahagiaan penuh dalam hidup. "Live by Night" is not a bad movie, but definitely such a disappointment and Ben Affleck's weakest directorial effort. Ada baiknya ia berpikir ulang membahayakan karirnya lebih jauh dengan menyutradarai "The Batman". 

LA LA LAND (2016)

Selain julukan bagi Los Angeles di mana film ini bertempat, "La La Land" dapat pula bermakna kondisi di luar realita. Pernyataan apabila seseorang berada di "La La Land" pun bisa diartikan ia meyakini akan terwujudnya suatu hal yang dianggap mustahil, dengan kata lain mimpi atau cita-cita. Karya lanjutan Damien Chazelle pasca kesuksesan "Whiplash" meraih lima nominasi Oscar (memenangkan tiga di antaranya) ini memang bertutur tentang mimpi, tentang cinta, tentang hidup. Masih mengusung kecintaannya terhadap jazz, Chazelle menghidupkan kembali musikal tradisional yang lewat lagu-lagunya membuai, menenggelamkan penonton dalam imajinasi dan romantisme. 

Setelah adegan musikal pembuka penuh keceriaan, warna-warni kostum, serta pengadeganan yang bakal membuat anda terperangah memikirkan cara Chazelle dan kru merealisasikannya, "La La Land" mempertemukan dua tokoh utamanya. Sang wanita adalah Mia Dolan (Emma Stone), memendam mimpi menjadi aktris namun selalu gagal audisi dan terpaksa bekerja di sebuah cafe. Sedangkan sang pria, Sebastian Wilder (Ryan Gosling) punya obsesi pada jazz tradisional, berharap memiliki klub jazz sendiri meski kenyataan berkata lain, memaksanya memainkan lagu-lagu natal di restoran milik Bill (J.K. Simmons). Lalu sebagaimana takdir bekerja, kebetulan selalu mempertemukan, perlahan menyatukan keduanya.
Tagline-nya berbunyi "Here's to the fools who dream", dan kenyataannya cerita "La La Land" memang digerakkan oleh impian, termasuk percintaannya. Naskah garapan Chazelle menempatkan Mia dan Sebastian di posisi serupa, yakni pengejar mimpi yang disudutkan realita. Sama-sama berstatus perantau pula, keduanya jatuh hati tatkala mendapati kemiripan situasi tersebut. Kondisi ini mendorong berseminya benih cinta bisa dimaklumi, terlebih saat mereka mampu menyokong impian masing-masing. Mia merasa karya seninya butuh penikmat (dia peduli komentar orang lain), sebaliknya Sebastian bersikap peduli setan akan semua itu. Chazelle menegaskan justru perbedaan pola pikir ini yang mengikat mereka, memunculkan proses saling mengisi dan melengkapi.

Di bawah arahan Damien Chazelle, musik dimanfaatkan sebagai ekspresi tiap rasa khususnya emosi positif. Chazelle memilih merayakan tiap momen, di mana situasi tak menyenangkan (kemacetan, perpisahan, kegamangan hati) pun urung digiringnya ke nuansa kelam. Selalu ada sisi positif yang ditekankan lewat keramaian suasana hingga tata busana serta ragam latar warna-warni dalam rangkaian musikalnya. Imajinasi Chazelle tumpah ruah, menjadikan tiap musical sequence bak realisasi mimpi indah. Di mata Chazelle, romantika membawa sepasang kekasih terbuai, serasa terbang, melayang bersama bintang, dan tidak perlu kemegahan untuk menunjukkan manisnya cinta, cukup tap dance berpasangan sambil mencari mobil prius dengan langit ungu L.A. sebagai latar. Camerawork Linus Sandgren berperan besar mewujudkan imaji mempesona itu. Almost every shot is a cinematic heaven
Mengambil banyak inspirasi dari judul-judul klasik macam "Singin' in the Rain", "The Band Wagon", hingga "The Umbrellas of Cherbourg", Damien Chazelle telah mengingatkan betapa sinema  terlebih musikal  beperan  mengekspresikan pula merayakan cinta, menebarkan kebahagiaan. Pendekataan ini menjadikan "La La Land" penting disaksikan semua kalangan terlebih mengingat dunia makin membutuhkan suntikan energi positif. Chazelle menegaskan hakikat sinema sebagai jendela realita sekaligus pusat pemuasan fantasi para penontonnya. 

Menyempurnakan musikal yaitu lagu-lagu gubahan Justin Hurwitz yang takkan memakan waktu lama sebelum meraih status instant classic. "Another Day of Sun" mewakili euforia dan ambisi penuh semangat para pengejar mimpi, "City of Stars" menawarkan alunan lirih personal yang mengekspresikan interaksi hangat dua sejoli dimabuk asmara, "A Lovely Night" mengembalikan ingatan atas iringan lagu musikal klasik Hollywood. Sementara itu Mandy Moore mengkreasi koreografi yang mengutamakan ekspresi rasa ketimbang kerumitan skill. Lihat bagaimana Mia bergerak mengikuti alunan piano Sebastian di klub. Tentu semuanya telah ditata, tapi kesan ekspresif nan jujur amat terasa. Tidak semua orang piawai menari, namun gerak tubuh merupakan salah satu ekspresi emosi, that's the main point of Moore's choreography here.
Gosling dan Stone menjalin chemistry menyengat yang memudahkan penonton jatuh cinta pada pasangan ini. Berkat itu, perbincangan sederhana memiliki nyawa, celotehan humor (semisal saat Sebastian mendapati Mia membenci jazz) menghangatkan suasana. Serupa tokoh yang diperankan, akting mereka pun saling melengkapi. Ryan Gosling cenderung bermain gestur, entah saat memainkan topi meresapi kesenduan atau beberapa (tepatnya tiga kali) respon kekagetan menggelitik. Sebaliknya, Emma Stone mengandalkan ekspresi wajah. Chazelle kerap menggunakan close-up, menangkap utuh ekspresi sang aktris yang sanggup meluapkan amarah sambil menorehkan senyum. 

Sepanjang durasi saya tersenyum lebar, sesekali pula tersentuh menyaksikan perjalanan cinta dan mimpi filmnya. Lalu hadir 10 menit konklusi penghancur benteng emosi ketika Chazelle memberi akhir bittersweet yang mendefinisikan hidup. Bahwa hidup terdiri atas serangkaian peristiwa, termasuk momen tak menyenangkan berupa kegagalan yang membuat kita berandai-andai "what if it worked out?". Tapi hidup memang demikian dan terus bergerak maju, membiarkan cinta dan mimpi terekam sebagai memori abadi, bagian proses kehidupan. Kental dramatisasi, tapi di situ poinnya, saat cinta didramatisir untuk dirayakan dalam imaji berupa sinema. Bodohkah bila kita terhanyut? Yes, but read the damn tagline again. Bersama senyuman Mia dan Sebastian selaku penutup, solid pula status film ini sebagai musikal terbaik masa kini. "La La Land" is love, "La La Land" is dream, "La La Land" is life. 

PROMISE (2017)

Film-film produksi Screenplay Films itu penting bagi industri perfilman tanah air. Walau sering dicap berkualitas sinetron, judul-judul macam "London Love Story" dan "ILY from 38.000 Ft" sanggup meraih jutaan penonton bahkan bukan mustahil memperkenalkan kultur menonton bioskop kepada target pasarnya (pemirsa televisi). Lambat laun mereka bakal melirik film lain, menjalani proses "belajar film". Tapi "Promise" adalah kasus spesial di mana para pembuatnya berambisi mengusung kisah dewasa dan bangunan alur rumit, menerapkannya di formula FTV dangkal yang mana tidak selaras hingga gagal bekerja.

Kisahnya dibuka melalui pengenalan sepasang sahabat, Rahman (Dimas Anggara) dan Aji (Boy William). Rahman merupakan remaja polos anak pemuka agama (Surya Saputra). Didikan kolot sang ayah membuatnya malu berinteraksi pula enggan menatap mata wanita dengan alasan menghormati. Tapi kenapa tato Dimas Anggara beberapa kali terlihat? Sebegitu malaskah departemen make-up film ini? Tidakkah sutradara Asep Kusdinar menyadari itu? Come on, menonton porno saja Rahman tidak berani, apalagi membuat tato. Sebaliknya, Aji adalah playboy, anak gaul yang bicara sok asyik, menggulung lengan dan membuka kancing seragamnya. Come on, anak gaul tak lagi berpenampilan begitu termasuk di Jogja yang menjadi setting.

Kenapa Jogja dipilih tak pernah jelas kecuali penegasan protagonisnya adalah pria kampung nan polos pula lurus. Really? Para penulisnya pasti tidak memahami Jogja. Rahman pun hanya sesekali memakai logat Jawa (bukan bahasa Jawa) dan pelafalan Dimas Anggara terdengar menggelikan. Singkat cerita, akibat ketahuan menyimpan film porno pemberian Aji, Rahman diharuskan menikah oleh ayahnya. Ada potensi menggugat konsep perjodohan dan pemikiran kolot bersenjatakan agama, tapi Sukhdev Singh dan Tisa TS selaku penulis naskah urung bereksplorasi, membiarkannya tertinggal sebagai hiasan nihil substansi. Lalu dengan siapa Rahman dijodohkan? Di sini alur "Promise" bererak makin ambisius, memakai gaya non-linier. 
Kisahnya langsung melompat beberapa waktu ke depan, ketika Rahman berkuliah di Milan, bertemu Moza (Mikha Tambayong) yang diam-diam jatuh cinta padanya. Hadir pula Ricky Cuaca sebagai comic relief tak lucu yang tampil hanya untuk bertingkah norak dan menyebalkan. Total screentime-nya tak sampai 10 menit termasuk adegan Ricky marah-marah di tempat umum karena menabrak tiang. Come on, this is Milan for fuck sake! Rahman sendiri rupanya tengah mencari sang istri yang identitas serta alasan kepergiannya belum terungkap. Sampai ia bertemu Aji yang kini menjadi fotografer sukses dan berpacaran dengan model bernama Kanya (Amanda Rawles).

Lupakan fakta jika sebelumnya Rahman dan Aji tak pernah diperlihatkan tertarik akan bidang yang mereka geluti di Milan, karena toh jalan hidup manusia siapa yang tahu. Anda bisa mendadak ingin menjadi politikus saat kuliah walau di SMA bercita-cita sebagai aktivis. God only knows. Mari fokus pada pilihan alur non-linier saja. Apakah pemakaian gaya tersebut penting? Tentu tidak. Sama tidak pentingnya dengan pertanyaan "Kucing jatuh dari pohon apanya dulu?" yang jawaban serta konteksnya teramat menggelikan. Pemakaian alur non-linier tak lebih dari bentuk kemalasan menghadirkan kejutan yang bahkan sama sekali tak mengejutkan.
"Promise" justru tersesat di kerumitan kisah yang dibangun. Alurnya asal melompat, begitu berantakan tanpa disertai alasan jelas mengapa dari titik A ceritanya perlu melompat ke titik D, kemudian kembali ke B, dan seterusnya. Film ini tidak memerlukan kejutan, cukup nuansa romantis. Masalahnya, lompatan alur memaksa paparan hubungan Rahman dan cinta sejatinya ditempatkan di tengah menjelang akhir. Penonton dipaksa tersentuh oleh percintaan yang belum sempat disaksikan. Andai usaha memunculkan kejutan yang tidak perlu ini ditiadakan, bukan mustahil filmnya mampu sedikit mempermainkan emosi. 

Bila ada faktor penyelamat, itu terletak pada beberapa shot memikat mata lengkap disertai warna-warna cerah. Jangan lupakan pula Mikha Tambayong yang sama memikatnya bagi mata. Mengenakan busana yang ditata apik oleh Aldie Harra, walau akting Mikha masih belum layak disebut realistis (sinetron-ish), penonton pria pastinya bakal terhibur oleh gerak-gerik termasuk tariannya sewaktu clubbingAm I being sexist right now? Entahlah, tapi ketika filmnya menempatkan sang aktris selaku eye candy semata yang karakternya tak menyimpan signifikansi, saya bisa apa? 

Setiap tingkah dan keputusan karakter sulit diterima akal sehat. Di produksi Screenplay lain saya dapat menerima perilaku tak logis yang sengaja dibuat demi memuaskan hasrat penonton atas konsep cinta sejati. Kali ini kebodohan mereka sudah keterlaluan, terlampau dipaksakan demi menggerakkan alur atau menambah konflik. Dosis kalimat puitis pun bertambah dan makin menggelikan semisal "Kamu seterang lampu di luar sana" (lampu mana mbak? Berarti kalau mati listrik Rahman tidak lagi terang?). Selipan unsur pernikahan, perjodohan, dan religiusitas tak membuat "Promise"  lebih dewasa sebab semuanya sekedar tempelan yang bila dihilangkan pun tak jadi masalah. Untuk apa pula memaksakan tampil (sok) pintar dengan alur acak dalam suguhan semacam ini? Seolah belum cukup, menjelang akhir filmnya masih menyelipkan unsur penyakit secara mendadak, menambah satu lagi hal tak perlu di tengah ambisi besar yang berujung kehancuran. Ungkapan "less is more" nampaknya patut diresapi Screenplay Films.

ARRIVAL (2016)

Tidak, "Arrival" karya Denis Villeneuve ("Prisoners", "Enemy", "Sicario") selaku adaptasi cerita pendek "Story of Your Life" milik Ted Chiang tidak menyajikan invasi alien dengan peperangan global sebagai sentral. "Arrival" bukan hanya mengenai invasi alien. Sebaliknya ini merupakan kisah tentang kita, manusia, dengan semua aspek kehidupan termasuk cinta dan momen yang kehadirannya dalam hidup dihanyutkan oleh waktu. Sebagaimana usaha sang protagonis, Louise Banks (Amy Adams) menerjemahkan bahasa alien, penonton pun diajak menyaring intisari di balik bahasa sinematik Villeneuve. Keduanya serupa, suatu bentuk pencarian makna melalui proses komunikasi. 

Louise, seorang ahli bahasa, direkrut militer Amerika Serikat guna mencari tahu maksud kedatangan 12 pesawat luar angkasa misterius (disebut shell). Di saat bersamaan terjadi kerusuhan, bahkan beberapa negara menyatakan perang terhadap alien. Apa yang makhluk extraterrestrial tersebut lakukan hingga memancing semua itu? Tidak ada, yang mana menunjukkan ketakutan manusia akan ketidaktahuan yang disebabkan buruknya komunikasi. Sebaliknya, meski selalu ditekan untuk mencari jawaban, Louise bersabar, membangun interaksi berdasarkan rasa, bak tengah mengenalkan dunia pada sang buah hati. Sementara, potongan-potongan flashback ikut menampakkan progres hubungan Louise dengan sang puteri. 
"Arrival" is the showcase of everything. Semenjak momen pendaratan alien yang berkat penanganan Villeneuve sanggup merealisasikan nuansa mencekam hasil ketakutan yang berkecamuk di kepala, kita diperlihatkan betapa piawai Amy Adams berakting secara subtil, memamerkan ekspresi yang nampak serupa namun menyimpan beragam arti yang dipersatukan oleh benang merah berupa "wondering". She's wondering about the landing, the language, the alien's purpose, and finally her own life. Layar bioskop bagai cermin raksasa yang memantulkan keheranan maupun rasa takjub penonton dalam bentuk penampilan Adams. 

Naskah Eric Heisserer ("Final Destination 5", "Lights Out") tampil cerdas tanpa perlu pretensius lewat segala kerumitan dialog scientific mumbo jumbo. Tiada kalimat terlontar percuma, baik selaku comic relief penyegar suasana atau baris kata yang walau awalnya terdengar remeh tapi berujung menyimpan makna mendalam (even something like "ask your father") tatkala satu demi satu tabir misteri mulai terjawab. Cerdik pula Heisserer memanfaatkan keliaran tanpa batas dalam perpaduan imaji fiksi dengan sains guna mempresentasikan visi tentang proses komunikasi dan waktu, seraya akhirnya menyatakan, "embrace every moment in your life". 
Sinematografi Bradford Young sempurna menyajikan kesan masif, intimidatif, namun puitis bagi pesawat raksasa alien. Pemandangan saat barisan awan mengelilingi pesawat menyuguhkan keindahan di antara kesan misterius. Menyenangkan pula mendapati CGI dan practical effect saling mengisi, bergantian menampilkan pesawat dari jarak jauh sekaligus dekat sehingga keberadaannya terasa nyata, pun visualisasi menarik soal perbedaan gravitasi di dalam UFO. Aspek visual turut disokong audio, di mana scoring garapan Jóhann Jóhannsson setia membangun atmosfer, piawai menghadirkan antisipasi dan rasa mencekam mengiringi eksplorasi menegangkan terhadap ketidakpastian. 

Seluruh aspek di atas kemudian Villeneuve rangkum bermodalkan pemahaman tinggi atas suasana serta rasa yang terkandung pada tiap adegan. Pergerakan alurnya lambat tapi seperlunya alias tak memaksakan diri berdiam terlalu lama di satu titik. Bukan wujud penegasan diri sebagai arthouse, melainkan kehati-hatian. Serupa kecermatan Louise membangun komunikasi antar-spesies, Villeneuve pelan tapi pasti mencoba berkomunikasi, memastikan penonton paham sekaligus merasakan segalanya. Alur non-liniernya mengalir rapi menuju twist yang bukan saja membelokkan alur, pula mengungkap bahwa "Arrival" punya lebih dari kisah pertemuan manusia dan alien. Puncaknya bertempat di konklusi penghanyut emosi, mengajak penonton merenungi keping-keping fase kehidupan yang sesekali terlintas, mensyukurinya. 

THE GIRL ON THE TRAIN (2016)

Wajar bila adaptasi novel berjudul sama karya Paula Hawkins ini amat dinanti, dianggap sebagai "Gone Girl"-nya 2016. Selain sama-sama diangkat dari novel, "The Girl on the Train" juga mengetengahkan misteri menghilangnya sesosok wanita berpadukan tuturan psycho-drama dalam kehidupan rumah tangga. Tapi di tangan Tate Taylor yang filmografinya terdiri atas judul-judul macam "The Help" hingga "Get on Up", intensitas lalai dibangun dan ia bagai lebih tertarik menekankan jalinan melodrama, menciptakan hasil akhir sebuah suspense-free thriller dengan tumpuan utama pada drama yang bahkan tak pernah cukup kuat menggaet atensi penonton.

Sang wanita di kereta adalah Rachel Watson (Emily Blunt) yang tiap harinya berangkat kerja menggunakan kereta. Di tiap perjalanan itulah Rachel kerap memandang ke luar jendela, terpikat akan romantisme Megan (Haley Bennett) dengan sang suami, Scott (Luke Evans). Penyebabnya tak lain kegagalannya membangun rumah tangga. Tidak tahan menghadapi adiksi alkohol Rachel, Tom (Justin Theroux) memilih meninggalkan sang istri, menikah lagi dengan selingkuhannya, Anna (Rebecca Ferguson). Rachel makin terbenam dalam adiksi, bahkan sering "meneror" Tom dan Anna baik melalui telepon tanpa akhir atau mendadak muncul di kediaman mereka. 
Erin Cressida Wilson merangkai alur memakai gaya interwoven storylines di mana kisah Rachel, Megan, dan Anna bergantian mengambil fokus, bergerak secara non-linier, melompat antar tiap setting waktu. Kita mempelajari masa lalu Rachel, terungkap pula pernikahan Megan tak sebahagia kelihatannya, hingga mencapai sekitar 25 menit durasi tatkala Rachel terbangun di kamar dalam kondisi berlumuran darah tanpa mengingat kejadian malam sebelumnya. Tidak lama kemudian Megan diberitakan menghilang. Intensinya jelas, menggiring penonton untuk menebak-nebak apa yang sesungguhnya terjadi pada malam hilangnya memori Rachel dan apakah ia terlibat dalam kasus menghilangnya Megan.

Karakter dengan memory loss cukup jadi bekal trik membangun misteri sebab kondisi tersebut memicu kerancuan ingatan karakternya, memberi kesempatan filmmaker menyelipkan berbagai momen misleading. Apalagi alur filmnya bergulir non-linier sehingga fakta dapat disembunyikan lewat perpindahan cerita maupun permainan waktu. Untuk itu, alur "The Girl on the Train" telah cukup baik menjalankan tugasnya menipu persepsi penonton sebelum akhirnya mengungkap twist mengejutkan. Tapi terdapat dua alasan mengapa kejutan tersebut akhirnya tak berarti. 
Alasan pertama dipicu kegagalan Tate Taylor menghadirkan ketegangan. Film ini tampil kelam pula elegan didukung warna bernuansa dingin sinematografi Charlotte Bruus Christensen serta iringan musik elektronik karya Danny Elfman. Such a well-made and good-looking movie but unfortunately, also a flat one. Tidak ada alasan penonton mesti peduli lalu terserap, ikut berusaha memecahkan misteri kala plotnya sendiri jarang meluangkan waktu mengupas hal tersebut. Konsentrasi terbesar justru diberikan bagi drama psikologis yang hanya berusaha pamer betapa kacau kondisi tokoh-tokohnya. Megan is just a two-dimensional nymph while Anna is underdeveloped. Tatkala urung tercipta keterikatan penonton akan misteri, twist sebanyak dan semengejutkan apapun takkan berdampak. Ditambah lagi Taylor terlampau bertele-tele menyampaikan jawaban, menjadikannya predictable

Memposisikan psycho-drama sebagai shock value tentu sah saja, walau artinya menanggalkan potensi eksplorasi kompleks tentang kehancuran individu yang dipicu cinta, nafsu, serta trauma. "The Girl on the Train" efektif melakukan itu hingga mencapai twist, menciptakan alasan kedua yakni justifikasi terhadap perilaku karakter. Twist-nya mengajak penonton menerima, memaklumi perbuatan Rachel yang termasuk adiksi alkohol dan creepy stalkingEmily Blunt is outstanding as she looks wasted and messed up through the whole movie. Sosok Rachel nampak rapuh luar biasa berkatnya, belum lagi totalitas ledakan emosi yang kerap dipertunjukkan. Tapi bahkan akting Oscar-worthy Blunt pun tak mampu mengangkat kualitas "The Girl on the Train" yang menambah panjang daftar kekecewaan sepanjang 2016.