MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON DECEMBER 27, 2017)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

SILARIANG: CINTA YANG (TAK) DIRESTUI (2018)

Dress code untuk gala premiere Silariang Cinta yang (Tak) Direstui adalah hijau. Tidak aneh. "Mungkin menyesuaikan poster yang didominasi hijau", begitu pikir saya. Lalu filmnya bergulir, terlihat minuman, kasur, pakaian, mayoritas berwarna hijau. Dibantu tata cahaya, putih pun menjurus kehijauan. Kemudian saya tahu, baju bodo (pakaian adat Bugis) hijau khusus diperuntukkan bagi kaum bangsawan. Dengan meminta penonton mengenakan baju hijau serta menjadikan hijau warna umum di filmnya, sutradara Wisnu Adi dan tim bagai tengah menghapus batas strata, yang merupakan pemicu konflik Silariang Cinta yang (TakDirestui. 

Strata menghalangi percintaan Yusuf (Bisma Karisma) dan Zulaika (Andania Suri). Yusuf putera pengusaha kaya, tetapi hanya rakyat biasa. Sedangkan Zulaika adalah keturunan bangsawan. Niat mereka melangsungkan pernikahan pun tak direstui, khususnya oleh Rabiah (Dewi Irawan), ibu Zulaika. Satu pihak mementingkan gengsi sebagai konglomerat, pihak lain menjunjung harga diri tinggi golongan darah biru. Sungguh manusia melupakan kemanusiaan atas nama martabat.
Gagal memperoleh restu, dua protagonis kita nekat untuk silariang alias kawin lari meski nyawa jadi taruhan. Sebab pihak keluarga Zulaika yang diwakili Puang Ridwan (Sese Lawing) mencari keduanya tanpa henti, pula bertekad menghunuskan badik ke tubuh Yusuf. Sungguh situasi genting, tetapi skenario buatan Oka Aurora (Dear Love, Hijabers in Love) enggan terlampau serius maupun bergelora atas nama dramatisasi, satu kelemahan terbesar Silariang: Menggapai Keabadian Cinta tahun lalu. Di tengah pelarian, Zulaika sempat mengeluh kelelahan akibat jauhnya perjalanan. Yusuf pun menjawab "namanya juga Silariang". 

Syukurlah film ini bersedia menyelipkan interaksi santai. Kisahnya jadi lebih membumi. Di tangan tim yang kurang kompeten, romansa bakal selalu dijejali kalimat puitis yang oleh para pemain dibawakan layaknya bocah SD tengah belajar baca puisi. Demikian juga paparan konflik yang tidak lupa menyentuh hal-hal mendasar seperti kesulitan ekonomi sekaligus ego yang secara alami akan sesekali menguasai Yusuf dan Zulaika. Yusuf meragukan kejujuran sang istri membuat Zulaika tersinggung, merasa harga diri sebagai keturunan bangsawan diinjak-injak. 
Keduanya sampai ke pertengkaran tersebut merupakan proses natural. Wajar jika di satu titik Zulaika membawa-bawa tentang strata. Artinya ia manusia. Andania Suri memberikan penampilan dewasa yang sama manusiawinya, sedangkan Bisma, pasca tampil mengesankan di Juara, kini beberapa kali memperlihatkan ekspresi yang kurang cocok pada momen serius meski pesona kala melakoni adegan kasual tak perlu diragukan. Tapi sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2, Dewi Irawan dalam kemunculan singkat mencuat sebagai penampil terbaik. Perasaan bergemuruh tanpa harus memasang raut wajah maupun gestur besar. 

Silariang Cinta yang (TakDirestui sayangnya urung menyentuh titik emosi tertinggi akibat lemahnya klimaks permasalahan. Bahkan, secara keseluruhan, untuk cerita soal keberanian melawan adat yang dapat berujung maut, filmnya bergulir terlampau damai, menyebabkan minimnya dinamika serta persoalan menarik. Konklusi yang sejatinya menyimpan harapan, sebuah bentuk doa terkait solusi ideal guna mengakhiri gesekan mengenai adat yang sering terjadi di dunia nyata, terkesan bak jalan pintas menyelesaikan masalah. Silariang Cinta yang (TakDirestui tidak buruk. Hanya datar nan mudah dilupakan.

THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI / THE SHAPE OF WATER / LOVING VINCENT

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri dan The Shape of Water akan bersaing ketat di ajang Oscar 2018 nanti, khususnya pada kategori Best Actress di mana Frances McDormand dan Sally Hawkins jadi dua unggulan utama. Sementara keberadaan Coco menyulitkan Loving Vincent berbicara banyak, namun film animasi pertama yang seluruhnya dibuat dengan lukisan ini jelas pantas mendapat perhatian anda.

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)
Inilah film di mana sulit bagi kita menebak apa yang akan segera terjadi maupun diutarakan. Sekali waktu misteri pembunuhan merambat. Berikunya giliran drama keluarga, komedi hitam, tragedi, sebelum kembali menyuguhkan misteri. Agama, rasisme, kekerasan oleh polisi, sampai kekejaman militer di negeri orang, semua disinggung. Banyak hal terjadi, kerap melompat antar genre, menyimpan kejutan-kejutan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri nyatanya bergerak rapi, enak diikuti, pula mudah dimengerti berkat skenario cermat Martin McDonagh (In Bruges, Seven Psychopath). Semua diawali kenekatan Mildred Hayes (Frances McDormand) menyewa tiga billboard yang mempertanyakan kapasitas Sheriff Bill Willoughby (Woody Harrelson) dalam mengusut kasus pembunuhan dan pemerkosaan puterinya. Masyarakat bersimpati kepada Mildred, tetapi Bill adalah polisi teladan yang disukai. Beberapa pihak pun menentang tindakan Mildred, termasuk Dixon (Sam Rockwell), polisi rasis yang tak segan memakai kekerasan. Kesenduan Harrelson mampu mencengkeram, sementara arogansi bercampur kebodohan Rockwell, yang bertransformasi jelang akhir, menghibur, mengundang benci untuk kemudian memancing simpati. Namun McDormand adalah pemimpin ensemble-nya. Ekspresi jarang berganti (wajah keras, tatapan tajam), irit gestur, tapi kehadirannya nyata. Bahkan kala mengebor jari seorang pria, mimiknya tidak banyak berubah. McDorman dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri sama-sama brilian, liar, membara, sensitif. Seolah tengah menelusuri labirin dengan beragam gempuran yang mustahil diantisipasi di tiap belokan. Pun ketimbang mencari sang pelaku, McDonagh menekankan proses saling mengobati antara mereka yang dirundung duka. Salah satu film paling komplet selama beberapa tahun terakhir. (5/5)

The Shape of Water (2017)
Terinspirasi dari Creature from the Black Lagoon (1954) yang sempat coba ia remake, Guillermo del Toro mempersembahkan film monster yang enggan ketinggalan menyinggun ragam isu sosial. Rasisme dan homofobia menjadi subteks, praktik segregasi dikritisi. Percintaan beda spesies dalam The Shape of Water merupakan bentuk dukungan del Toro atas kesetaraan. Tokoh utamanya, Elisa Esposito (Sally Hawkins) adalah tunawicara yang tinggal bersama seniman gay (Richard Jenkins), bersahabatan dengan wanita kulit hitam bernama Zelda (Octavia Spencer), jatuh cinta pada monster amfibi (Doug Jones) yang dikurung di laboratorium rahasia tempatnya bekerja. The Shape of Water merupakan usaha mewakili kaum marginal lewat paparan dongeng. Bahkan sejak pertama terdengar, musik gubahan Alexandre Desplat seketika memancarkan sihir fantasi. Di tangan del Toro, keseharian monoton Elisa, dari bangun tidur, masturbasi, menanti bus, sampai bekerja sebagai petugas kebersihan, terlihat bak dunia khayal yang membuai, walau keindahan sesungguhnya baru tampil tatkala del Toro menyelipkan momen musikal hitam-putih layaknya sajian klasik Hollywood yang berguna mengekspresikan isi hati sang tokoh utama. Demikian pula shot terakhirnya yang memadukan sinematografi menawan Dan Laustsen dan sensibilitas sang sutradara menyusun romantisme. Di antara kelembutan penuh rasa del Toro, Sally Hawkins menyeruak. Nihil tuturan verbal, Hawkins menampilkan kemurnian serta ketulusan yang memudahkan guna mencintai sosoknya. Namun kualitas The Shape of Water sayangnya kurang merata. Sewaktu adegan spesial yang del Toro siapkan tengah absen dari layar, naskah tulisannya bersama Vanessa Taylor tidak punya cukup magnet guna menahan antusiasme penonton. (3.5/5)

Loving Vincent (2017)
Kalimat pernyataan sebelum film dimulai menegaskan bahwa Loving Vincent memang lebih mementingkan gaya. Style over substance. Dan memang sulit dipungkiri, goresan cat air ala lukisan Vincent van Gogh menjadikan film ini tiada duanya. Walau sebagaimana teknik visualnya membuat tokoh-tokoh yang ada terkesan artificial, penelusuran alurnya soal kehidupan serta kematian sang pelukis ternama takkan merenggut emosi. Menarik melihat karya-karya macam Sorrowing Old Man atau Young Man with Cornflowers bermanifestasi jadi tokoh-tokoh yang mengisi alur. Ketika seringkali kita mengenal seniman melalui karya ketimbang jati diri personalnya (sudah semestinya begitu), Loving Vincent mengajak mengenal titular character-nya lebih jauh bersamaan dengan usaha Armand Roulin (Douglas Booth) mengantar surat yang Vincent (Robert Gulaczyk) tulis untuk saudaranya, Theo, sebelum ia tewas bunuh diri. Fakta yang tadinya terang benderang di mata Armand perlahan berubah ambigu seiring pertemuannya dengan orang-orang dalam hidup Vincent, membuatnya makin memahami “si pelukis gila”. Skenario buatan Dorota Kobiela, Hugh Welchman, dan Jacek Dehnel kurang mulus memaparkan pergantian sikap Armand. Dari persepsi negatif terhadap Vincent, mendadak ia amat peduli, bahkan rela melalui perjalanan jauh meski ancaman pemecatan menghantui. Misteri seputar kematian (dan kehidupan) Vincent mengundang rasa penasaran, namun lemahnya duo sutradara Dorota Kobiela dan Hugh Welchman menjaga tempo menghalangi efektivitas teka-tekinya mencengkeram atensi. (3.5/5)

FOREVER HOLIDAY IN BALI (2018)

Si pria adalah bintang K-Pop ternama. Si wanita gadis Bali biasa, terhimpit masalah ekonomi pula. Mereka bertemu di Pulau Dewata. Diawali pertengkaran, lama-lama cinta keduanya tak tertahan. Terdengar bagai dongeng idaman orang-orang yang berharap terlibat dalam pertemuan puteri cantik dengan pangeran tampan berkuda putih. Namun Forever Holiday in Bali memang sengaja bermain di ranah itu, setidaknya ingin menyerupai deretan drama Korea yang juga mengusung formula serupa. Apakah salah? Sebaliknya, orang-orang di balik film ini paham betul kiblat yang jadi acuan: dongeng dan drama Korea.

Dibanding film Indonesia bergaya Korea lain, Forever Holiday in Bali menang soal autentisitas. Penyusunan adegan seperti drama Korea, karakter Korea pun bicara Bahasa Korea, juga diperankan orang Korea. Tidak main-main, Thunder eks-MBLAQ pun digaet sebagai bintang utama bernama Kay. Berkat kehadiran sosok idola sungguhan, unsur fairy tale-nya terpancar nyata. Apalagi Thunder berakting jauh dari kesan kaku. Mungkin karena tuntutan akting film ini tak begitu berat, setara drama televisi yang kerap ia lakoni. Atau mungkin, Caitlin Halderman selaku lawan mainnya menebar cukup pesona guna menambal segala kekurangan yang ada.
Caitlin adalah Putri (Princess, like in a fairy tale), gadis Bali yang mengalami kesulitan keuangan sehingga menerima tawaran sahabatnya, Indra (Reza Aditya) untuk membantu meliput kedatangan Kay yang membuat video klip secara rahasia di Bali. Tapi serahasia apapun, tidak mungkin bandara sepi fans. Hanya ada dua wartawan termasuk Indra. Kemustahilan yang sebaiknya kita terima, mengingat dalam dongeng logika perlu sedikit dikesampingkan. Walau akibatnya, Forever Holiday in Bali tampil kurang relatable, menghalangi dampak emosi. 

Skenario tulisan Kennt Kim bersama Titien Wattimena bukannya lupa menyulut rasa. Kay diberi kisah personal mengenai duka pasca sang ibu meninggal. Kay pun teringat ucapan ibunya tentang Bali yang memiliki banyak bidadari. Andai filmnya memberi penekanan bahwa Kay menemukan bidadari yang disebut mendiang ibunya dalam diri Putri pernyataan itu bisa menjadi pondasi emosi luar biasa kuat. Terlebih, mengulangi pencapaian di Sweet 20, Ody C. Harahap jago mempresentasikan interaksi menyentuh ibu-anak. 
Sayangnya tidak. Forever Holiday in Bali memilih berpijak pada rangkaian alur yang memfasilitasi kejutan kurang esensial di penghujung durasi ketimbang memaparkan drama sederhana tetapi mencengkeram hati. Filmnya urung mencapai tingkat perasaan yang tinggi, tetapi efektif sebagai pemancing senyum. Bukan terbatas senyum geli mendapati humor yang sesekali mengisi perjalanan berkeliling Bali mencari pantai kenangan masa kecil Kay, pula senyum yang berasal dari manisnya interaksi dua tokoh utama.

Khususnya untuk Caitlin Halderman, saya kehabisan kata-kata pujian. Cantik, lucu, berenergi, pandai mengatur ekspresi supaya tiap momen menyenangkan disaksikan. Penampilan yang bisa mewajarkan seorang idola jatuh cinta pada gadis biasa. Asal cerdik memilih film serta berani sesekali mengambil peran berbeda, suatu hari namanya akan bertengger di jajaran puncak aktris negeri ini. Gaun merah Caitlin, vespa jingga, bentangan alam hijau, Forever Holiday in Bali terlihat cerah nan berwarna, sanggup mengundang keceriaan selama anda tidak anti terhadap romantika kental khayalan di luar nalar ala dunia dongeng. 

INSIDIOUS: THE LAST KEY (2018)

Begitu film usai, saya merasakan atmosfer berbeda dibanding tiga installment Insidious sebelumnya. Tidak ada desahan maupun tawa penanda rasa lega para penonton. Kelegaan setelah dipaksa menahan nafas menghadapi terkaman teror membabi buta. Lampu bioskop menyala, ada yang membuka handphone, mengobrol, atau segera meninggalkan ruangan. Terdengar seorang penonton berkata, "biasa aja ya?". Pernyataan itu menjelaskan perbedaan atmosfer di atas. Insidious: The Last Key memang bukan wahana roller coaster serupa pendahulunya. Mencapai seri keempat, usaha menempuh jalur baru sebenarnya wajar. 

Namun wajar bukan berarti tepat. Apa yang terasa di momen penutup sejatinya mirip dengan suasana saat judul film terpampang. Dingin, datar, tanpa biola menyayat buatan Joseph Bishara yang selalu mencirikan Insidious. The Last Key ingin mencoba sesuatu yang beda dengan cara melucuti salah satu aspek ikonik franchise-nya. Untungnya, hanya salah satu. Sutradara Adam Robitel (The Taking of Deborah Logan) bagai telah lulus "James Wan's School of Jump Scares", sedangkan Leigh Whannell selaku penulis naskah sejak film pertama tentu paham di mana poros cerita seri ini terletak: Elise Rainier (Lin Shaye).
Alurnya membenamkan diri lebih jauh menyelami masa kecil Elise, ketika ia mulai menyadari bakatnya berkomunikasi dengan makhluk halus. Mengetahui itu, ayah Elise, Gerald (Josh Stewart), selalu bertindak kejam, memukuli Elise tiap kali ia berkata tengah melihat hantu. Pengalaman traumatis tersebut merupakan pangkal segala poin plot The Last Key. Whannell bukan pencerita handal. Sering keteteran menangani pendalaman cerita di antara kewajiban menyusun alur penuh misteri serta twist layaknya benang kusut. Tapi paling tidak gagasan mengenai "kebencian dan rasa bersalah sebagai musuh utama" bisa tersampaikan dengan mulus.

Lain halnya terkait cara menyulut dan mengakhiri konflik. Whannell terlampau bergantung pada kebetulan-kebetulan sampai keputusan-keputusan karakter yang mengundang tanya. Malas, juga menggampangkan. Bahkan klimaksnya ditutup menggunakan deus ex machina. Momen ini sesungguhnya berpotensi menguras emosi sekaligus terlihat badass, serupa Chapter 3 tatkala kalimat "Come on, bitch!" terlontar dari mulut Elise. Sayang, kesan dadakan ditambah pengadeganan cartoonish Robitel membuat momen tersebut berujung konyol. 
Insidious: The Last Key tertolong oleh beberapa jump scare yang masih cerdik mempermainkan ekspektasi, pun tepat menempatkan gebrakan, daripada asal berisik. Beberapa adalah penerapan ulang trik lama yang sulit disangkal memang efektif membuat penonton terperanjat. Belum lagi memikatnya tata rias pembungkus tampilan para hantu kala seperti biasa, visual setan Insidious cenderung menyentuh ranah fantasi yang imajinatif. Desain KeyFace selaku antagonis utama mungkin tak sesegar Lipstick-Face Demon atau Bride in Black, pula kalah menyeramkan, tapi jelas jauh lebih kreatif ketimbang setumpuk horor generik di luar sana.

Film ini gelap. Bicara mengenai penyiksaan anak, tragedi, sampai trauma yang mengajak kita menyusuri sisi terkelam Elise. Bahkan jika pikiran nakal anda ikut terlibat, nuansa di paruh akhir film secara subtil memancarkan aura "S&M". Itu sebabnya, bumbu komedi yang mengandalkan polah konyol Specs (Leigh Whannell) dan Tucker (Angus Sampson) memancing inkonsistensi tone. Terlebih tingkat kelucuannya kurang stabil. Selipan humor keduanya di sela-sela teror merupakan pola andalan seri Insidious, dan sewaktu formula suatu franchise tidak lagi mujarab tetapi usaha menempuh jalan baru justru merusak pondasi, tiba waktunya menyelesaikan perjalanan sesegera mungkin, sebelum franchise ini terseret jauh menuju dunia gelap bersama Lipstick-Face Demon. 

BATTLE OF THE SEXES/THE DISASTER ARTIST/THE MEYEROWITZ STORIES

Tiga film di bawah sama-sama menyoroti mereka yang terpinggirkan. Di Battle of the Sexes, para petenis wanita dipandang sebelah mata, seolah tidak sama berharganya dengan petenis pria, The Disaster Artist memiliki Tommy Wiseau yang menjadi sasaran empuk olok-olok akibat The Room yang melegenda, sementara The Meyerowitz Stories (New and Selected) bertutur soal seniman yang terlupakan, juga seorang pria pengangguran yang merasa sang ayah lebih menyayangi kakaknya.

Battle of the Sexes (2017)
Film biografi bertema olahraga biasanya mengedepankan usaha tokohnya memenangkan pertandingan dengan tujuan akhir merengkuh gelar juara. Para petenis wanita di Battle of the Sexes pun berjuang untuk menang. Bukan demi piala berkilau atau pundi-pundi uang, melainkan kesetaraan gender. Petenis wanita nomor satu pada 1973, Billie Jean King (Emma Stone), menolak begitu saja menerima fakta wanita hanya dibayar seperdelapan dari pria. Bersama beberapa  petenis wanita lain, ia pun nekat membentuk WTA (Women’s Tennis Association) dengan dana seadanya dan menggelar tur sendiri. Stone, selain bersenjatakan senyum yang punya jangkauan ekspresi luas (dari sarkasme hingga kebahagiaan berbunga-bunga), juga meyakinkan dalam bergerak di atas lapangan. Caranya merayakan poin, berjalan sambil bersiasat, memasang kuda-kuda, semua menampakkan pengalaman petenis unggulan. Pun perihal akurasi, duo sutradara, Jonathan Dayton dan Valerie Faris (Little Miss Sunshine, Ruby Sparks) mampu mereka ulang detail (pernikahan di bangku penonton, spanduk yang bertebaran) event legendaris Battle of the Sexes, kala Billie Jean bertanding melawan Larry Riggs (Steve Carell), mantan petenis top yang ingin membuktikan bahwa pria lebih superior dari wanita. Sebelum third act, kita urung dipamerkan seberapa hebat kemampuan Billie Jean, ketika Battle of the Sexes lebih tertarik menyoroti affair-nya dengan sang penata rambut, Marilyn Barnett (Andrea Riseborough). Namun mungkin itulah poinnya. Battle of the Sexes adalah film dalam lingkup tenis yang tak mengutamakan tenis, melainkan perjuangan kaum marginal, meski perjuangan cinta Billie Jean tampil tak sesimpatik seharusnya. (3.5/5)

The Disaster Artist (2017)
Apa yang ada di kepala Tommy Wiseau saat membuat The Room? Kenapa banyak momen acak tak berkesinambungan? Kenapa dialognya aneh? Kenapa akting pemainnya amat buruk? Kenapa memakai CGI alih-alih mengambil gambar di atap gedung sungguhan. The Disaster Artist memberi pencerahan mengenai setumpuk tanya di atas. Bukan jawaban pasti. Sebab dari mana Wiseau berasal, mengapa kekayaannya seolah tanpa ujung, dan berapa usia pastinya tetaplah misteri. Namun naskah buatan Scott Neustadter dan Michael H. Weber yang mengadaptasi buku non-fiksi berjudul sama karya Greg Sestero dan Tom Bissell piawai mengaitkan deretan keanehan Wiseau (James Franco) jadi kesatuan kisah seputar mimpi dan persahabatan. Kita diajak melihat bahwa seluruh keputusan janggal Wiseau sejatinya bentuk solidaritas juga ungkapan sayang terhadap sahabat. Setidanya itu yang Greg Sestero (Dave Franco) percaya. The Disaster Artist bukan saja menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang The Room, pula berpotensi mengubah persepsi. Dari salah satu tontonan terburuk sepanjang masa yang layak ditertawakan jadi karya dengan ketulusan dan passion selaku pondasi. Pancaran kegetiran di wajah Franco kala penonton tertawa terbahak-bahak di tengah pemutaran perdana akan menusuk hati, apalagi bila anda selama ini kerap menjadikan Wiseau bahan olok-olok. Franco sendiri tak hanya meniru gerak dan tutur Wiseau yang ganjil, tetapi total meresapi, lalu sepenuhnya bertransformasi. Sebagai sutradara, keberhasilan Franco merekonstruksi ulang momen-momen ikonik The Room sampai ke detail terkecil patut diacungi jempol. Baik selaku studi karakter, biografi, maupun komedi kental kebodohan tingkah tokohnya, The Disaster Artist tampil unik nan efektif. (4.5/5)

The Meyerowitz Stories (2017)
Sebagai Danny Meyerowitz, Adam Sandler berkumis, berjalan pincang, tidak mengenakan kaus oblong andalannya. Singkatnya, ia meninggalkan sosok pria kekanakan yang melekat kuat dan mencirikan filmnya.  Danny adalah putera Harold Meyerowitz (Dustin Hoffman), mantan pematung tersohor yang enggan menerima kenyataan bahwa dirinya makin terlupakan. Total  Harold memiliki tiga anak dari tiga pernikahan berbeda (kini dia tengah menjalani pernikahan keempat). Selain Danny ada Jean (Elizabeth Marvel), satu-satunya anak perempuan sekaligus anak paling tertutup, juga Matthew (Ben Stiller), putera kesayangan Harold yang sukses sebagai penasihat finansial. Merupakan kenikmatan melihat Sandler dan Stiller beradu memamerkan performa sensitif yang turut menyelipkan sisi komedik. Tampil ketiga kalinya di film Noah Baumbach, Stiller tampak telah terbiasa, mudah melakoni kecanggungan di sela-sela kegetiran persoalan keluarga. Namun sumber emosi terbesar tetap Sandler.  Melalui akting jujur nan hangat, dibuatnya paparan konflik ayah-anak yang ada terasa bernilai. Lewat senyum serta tatapan yang sulit ditebak, Sandler memberi kompleksitas yang tak kalah rumit dibanding problematika utama yang diangkat, yakni soal keluarga modern. Keluarga Meyerowitz tersusun atas satu ayah, banyak anak, banyak ibu, menghasilkan kepribadian, kisah, pula permasalahan beragam. The Meyerowitz Stories (New and Selected) menuturkan proses pemahaman tiga bersaudara Meyerowitz , bahwa rupanya mereka tidak serenggang dan seberbeda itu. Ingatan rancu Harold mengenai siapa yang sewaktu kecil dulu kerap menemaninya berkarya jadi bukti. Like most of Baumbach’s movies, The Meyerowitz Stories finds its sweetness in a quirkiness. (4/5)

FILM STARS DON'T DIE IN LIVERPOOL (2017)

Gloria Grahame meninggal dunia hampir 37 tahun lalu. Pertama, ia tidak tutup usia di Liverpool. Kedua, apakah ia benar-benar tiada? Saya bukan bicara soal teori konspirasi, melainkan legacy. Bahwa bintang layar lebar, khususnya dari masa keemasan Hollywood, akan selalu hidup berkat warisan yang ditinggalkan. Marilyn Monroe dan rok yang tertiup angin, James Dean dengan perangai remaja pemberontak, sementara di mata Peter Turner, Gloria adalah superstar yang singgah sejenak dalam kehidupan serta rumahnya yang sederhana, sebagaimana digambarkan adaptasi memoir berjudul sama buatan Turner ini. 

Gloria diperankan Annette Bening dalam replikasi suara meyakinkan yang urung jatuh menjadi imitasi murahan. Bening memberi nyawa bagi pergulatan batin sang aktris, yang sejak perfilman memasuki era suara, kehilangan popularitas. Dia coba bertahan sebagai pemain teater sembari tinggal di apartemen kecil, yang juga tempat kali pertama bertemu dengan Peter (Jamie Bell). Peter juga seorang aktor, meski sebatas di beberapa pertunjukan kecil. Dia tahu Gloria adalah aktris film. Namun bahwa Gloria pernah begitu dipuja bahkan menang Oscar urung Peter ketahui. 
Toh akhirnya ia tidak peduli. Dikaguminya pesona si aktris senior di layar lebar kala menyaksikan Naked Alibi (1954). Gloria turut berada di sana, tapi penonton lain tak sadar jika wanita tua di kursi penonton dan Marianna yang menggoda saat menyanyikan Ace in the Hole merupakan orang yang sama. Untuk publik luas, Gloria Grahame abadi sebagai sosok wanita sensual. Itu testamen yang dia tinggalkan bagi kultur populer. Sedangkan Gloria di masa tua dengan penyakit menggerogoti terekam di memori Peter. Gloria di fase terlemah, namun paling jujur, apa adanya tanpa keglamoran, sekedar manusia yang tengah jatuh cinta.

Berpusat pada penyakit Gloria selain romansa beda generasi, sejatinya Film Stars Don't Die in Liverpool mengandung bekal dasar suatu disease porn, tapi sutradara Paul McGuigan menolak mengedepankan melodrama. Progresi alur tersusun atas pembicaraan bernuansa kontemplatif, mewakili melankoli Peter mengenang perjalanan cintanya bersama Gloria. Namun saat Matt Greenhalgh mampu menuliskan dialog-dialog kaya warna dalam skenario, sebutlah sewaktu Gloria mendeskripsikan persalinan sebagai "small aliens pop out from between your legs", pengadeganan McGuigan terlampau dingin, hambar, miskin rasa di mayoritas bagian. 
Pengecualian layak diberikan untuk dua momen: ending dan sebuah "twist" tentang hubungan kedua tokoh utama. Shot terakhir yang dibumbui suara proyektor film selaku penegasan keabadian Gloria di layar perak tersaji indah. McGuigan, yang angkat nama lewat film-film seperti Lucky Number Slevin dan Push, memang gemar pamer gaya, tak terkecuali di drama "kecil" ini. Twist yang saya sebut pun berkaitan erat dengan keengganan McGuigan memakai narasi linear. Dia ingin bergaya. Gerak alur maju-mundur antara masa kini dan masa lalu yang hadir silih berganti pun dipilih. 

Sayangnya, tanpa dibarengi kemampuan bercerita mumpuni, muncul akibat fatal. Lompatan antar-fase terjalin kurang rapi. Alhasil, dinamika atau guratan emosi justru jarang mencuat, sebab perhatian kita cenderung tercurah untuk menyusun keping-keping kisah yang tampil tak berurutan. Paul McGuigan mengajak otak penonton bekerja, ketika Film Stars Don't Die in Liverpool semestinya memicu hati kita. Setidaknya Annette Bening selalu menyedot atensi laksana magnet berkekuatan tinggi. 

CALL ME BY YOUR NAME / I, TONYA / LADY BIRD

Ketiga judul di bawah berpeluang meraih kejayaan pada musim penghargaan 2018. Dari Call Me By Your Name, adaptasi novel berjudul sama karya André Aciman yang juga babak pamungkas trilogi tematik Desire milik sutradara Luca Guadagnino (I Am Love, A Bigger Splash), I, Tonya yang mengangkat kisah hidup fenomenal nan kontroversial Tonya Harding sang juara seluncur indah, sampai Lady Bird yang melebarkan sayap si "Ratu Indie" Greta Gerwig ke ranah penyutradaraan setelah membuat Nights and Weekends bersama Joe Swanberg pada tahun 2008.

Call Me By Your Name (2017)
Kredit pembuka berisi foto-foto Classical sculpture, musik klasik, sinematografi cantik Sayombhu Mukdeeprom yang menangkap musim panas di perkampungan Italia bagian Utara berdesain arsitektur cantik. Call Me By Your Name adalah romantika yang memperhatikan keindahan estetika, sama indahnya dengan cinta remaja 17 tahun bernama Elio (Timothée Chalamet) terhadap Oliver (Armie Hammer), pria berusia jauh lebih tua yang singgah sejenak guna membantu riset sang ayah. Benar tema LGBT diusung, tapi ini merupakan sajian universal soal tumbuh kembang dan kegugupan mendapati cinta pertama berseliweran dalam keseharian tanpa ada kepastian. Alur bergulir perlahan, memberi lebih banyak unsur untuk digali selain percintaan, juga kesempatan mengamati detail tiap fase yang Elio lalui. Chalamet penuh antusiasme, bergerak lincah layaknya bocah kegirangan yang coba mencuri perhatian si pujaan hati, pun memiliki kepekaan melakoni momen emosional. Jangankan nominasi, memenangkan Oscar pun layak. Sedangkan Armie Hammer dengan karisma, tubuh tegap, dan suara berat sempurna sebagai sosok cinta pertama. Keduanya beradu manis, bertukar kalimat romantis dari naskah James Ivory ("Call me by your name and I'll call you by mine" is the best line), dibalut kepiawaian Guadagnino menyusun sensualitas. (4.5/5)

I, Tonya (2017)
Tonya Harding (Margot Robbie) merupakan wanita fantastis (dan gila) dengan perjalanan hidup fantastis (dan gila). Metode tradisional kurang pas merangkum riwayatnya. Craig Gillespie (Lars and the Real Girl) menyadari itu, memadukan wawancara palsu ala mockumentary, komedi hitam pekat, serta gerak kamera dinamis kala menangkap aksi Tonya di arena seluncur es. Kita digiring menuju kekaguman serupa mereka yang dulu melihat langsung performa Tonya. Robbie, yang berlatih selama lima bulan termasuk sehari jelang pernikahan, berayun penuh percaya diri seolah tengah menggenggam dunia tanpa peduli publik berpikiran sebaliknya. Ekspresi seusai Triple Axel (gerakan super sulit yang dulu hanya bisa dilakukan Tonya) jadi puncak emosi yang bakal dikenang lama. Tonya memang gila, namun skenario Steven Rogers lebih menaruh atensi pada kegilaan publik akan pencitraan. Alhasil, bersalah atau tidaknya Tonya dalam penyerangan terhadap sang kompetitor, Nancy Kerrigan, tak lagi penting. Apalagi Rogers menonjolkan ambiguitas antara perspektif Tonya dan suaminya, Jeff (Sebastian Stan). Pun sisi liar protagonis dijabarkan selaku dampak perlakuan kasar ibunya, LaVona (Allison Janney), yang dialami sejak kecil. Apakah sejatinya LaVona mencintai sang puteri? Performa eksentrik Janney menjaga kompleksitas tersebut tetap melayang tak pasti. Satu hal pasti, Tonya addalah korban obsesi Amerika atas kesempurnaan "American Sweetheart" dan I, Tonya merupakan film paling bertenaga sepanjang 2017. (4.5/5)

Lady Bird (2017)
Sebuah ode untuk rumah, kenangan, dan orang-orang yang kita ditinggalkan saat kita pergi melanglang buana menggapai mimpi. Lady Bird (Saoirse Ronan), siswi sekolah Katolik di Sacramento, ingin berkuliah di New York, tapi himpitan finansial ditambah ketakutan sang ibu, Marion (Laurie Metcalf), akan bahaya lingkungan kota besar, menghalangi realisasi mimpinya. Gerwig menyajikan observasi soal pertentangan ketimbang permusuhan. Marion bukan antagonis yang mengekang harapan Lady Bird. Naskah buatan Gerwig menyediakan alasan yang menjadikan sikap keras Marion sangat bisa dipahami. Sementara para pengajar sekolah Katolik dilukiskan sebagai sosok religius, namun tidak kolot. Suster Sarah Joan (Lois Smith) misalnya, justru tertawa kala jadi korban keisengan Lady Bird. Daripada menghakimi, Gerwig berlaku bijak, mengajak memahami semua sisi. Penyutradaraannya pun berenergi, kerap mendadak berganti tone, berprogresi cepat layaknya burung yang terbang lincah dari dahan ke dahan. Beberapa momen tampil sekilas bak sketsa komedi, untuk kemudian membentuk keping-keping puzzle yang menyusun lengkap tiap sendi kehidupan tokoh utama (plus kehidupan remaja akhir secara umum). Ronan turut melaju bersama pengarahan dinamis Gerwig, memerankan karakter yang paling menunjang potensinya, membawa Lady Bird mengalahkan rentetan ketidakpastian hingga tiba di cabang pohon yang diinginkan. (4/5)

CITY OF GHOSTS / VICTORIA & ABDUL / MARJORIE PRIME

Anda masih menganggap enteng ancaman ISIS? Saksikan City of Ghosts, dan renungkan betapa Suriah dibuat bak neraka oleh organisasi berkedok agama tersebut. Di belahan dunia lain, Victoria & Abdul yang mengantar Judi Dench meraih nominasi Golden Globe untuk Best Actress - Motion Picture Comedy or Musical, justru merayakan kolonialisme berkedok kisah persahabatan beda kasta, ras, dan agama. Sementara Marjorie Prime memperlihatkan bahwa tidak semua science-fiction memandang artificial intelligence yang makin mendekati manusia sebagai suatu ancaman. 

City of Ghosts (2017)
Raqqa Is Being Slaughtered Silently (RBSS). Begitu nama pergerakan citizen journalism yang mewartakan kekejaman ISIS di Raqqa, Suriah, kepada dunia meski nyawa jadi taruhan dan mesti hidup bersembunyi. Nama yang gamblang, menusuk tanpa basa-basi, segamblang footage yang disediakan bagi Matthew Heineman (Cartel Land) guna merangkai dokumenternya. Pembunuhan jadi pertunjukan, kepala manusia dipertontonkan, anak-anak dipaksa "berjihad". City of Ghosts mengerikan bukan saja karena pemandangan kejam. Horor sesungguhnya hadir di benak kita. Melihat video propaganda kelas Hollywood milik ISIS, timbul pertanyaan, "seberapa kuat mereka?". Dan seperti diutarakan satu narasumber, ISIS adalah gagasan, bisa tumbuh cepat di mana saja, termasuk Indonesia. City of Ghosts menyadarkan akan fakta itu. Di satu titik, beberapa anggota RBSS mengungsi ke Jerman hanya untuk menerima cemoohan lain dari para anti-imigran, memperluas cakupan film menuju penindasan oleh hegemoni kaum yang merasa superior. Mengingat mayoritas rekaman berasal dari RBSS, Heineman harus menyesuaikan, sulit berkreasi demi totalitas dampak emosi. Pun terbatasnya sumber (ISIS menutup akses informasi Raqqa) serta alasan keamanan cenderung menghadirkan tanya ketimbang jawaban. Seusai menonton, saya menemukan lebih banyak kisah luar biasa di internet. Tapi apakah aktivitas itu bakal terjadi tanpa City of Ghosts? Mungkin tidak. Film ini membuka mata saya. (4/5)

Victoria & Abdul (2017)
Bayangkan film soal masa kolonialisme Hindia Belanda di mana orang Indonesia diminta mempersembahkan penghargaan bagi Wilhelmina, berinisiatif mencium kaki sang Ratu, bersahabat dengannya, memilih meninggalkan tanah air dan hidup mewah di Kerajaan Belanda. Tidak peduli betapa piawai Stephen Frears (Florence Foster Jenkins, Philomena) merangkai momen jenaka berbentuk olok-olok pada manusia haus kuasa, pemujaan Abdul (Ali Fazal) terhadap Ratu Victoria (Judi Dench) adalah pemandangan mengganggu. Victoria pun menyukai Abdul, bahkan menjadikannya Munshi (Guru) hingga seisi Istana kocar-kacir. Victoria & Abdul punya niat baik menuturkan keberhasilan korban rasisme (Abdul seorang muslim India) menggoyang kenyamanan penguasa, tapi naskah yang dangkal gagal menekankan intensi Abdul selain keinginan memperbaiki hidup, mengesankan dia hanya social climber biasa. Ada usaha memanusiakan Victoria sebagai wanita tua kesepian sekaligus humanis yang memperjuangkan hak minoritas. Lucu, sebab dia yang mengawali nyaris 100 tahun pendudukan Inggris di India. Setidaknya Judi Dench luar biasa melakoni dua sisi Victoria: pimpinan sinis nan intimidatif di depan bawahan, wanita ramah tapi rapuh yang membutuhkan kawan di depan Abdul. Victoria & Abdul bagai bangsawan yang coba merakyat, mengunjungi perkampungan sambil melambaikan tangan dari dalam mobil mewah. (2/5)

Marjorie Prime (2017)
Di suatu versi masa depan, orang mati dapat diwujudkan kembali sebagai kecerdasan buatan berbentuk hologram yang disebut "Prime". Marjorie (Lois Smith), wanita tua penderita demensia menghabiskan hari mengobrol bersama Prime yang memiliki wajah mendiang suaminya, Walter (Jon Hamm) kala muda. Memori Walter Prime (demikian ia dipanggil) berasal dari informasi yang disediakan Marjorie, pula puterinya, Tess (Geena Davis) dan sang suami, Jon (Tim Robbins). Mereka bicara soal kenangan, baik yang indah, maupun yang menjadi indah karena ditutupinya fakta-fakta menyedihkan. Mengadaptasi naskah teater berjudul sama, sutradara sekaligus penulis naskah Michael Almereyda menyusun Marjorie Prime dengan pembicaraan lirih selaku perenungan mengenai memori. Almereyda menebar magis melalui deretan dialog, yang bagi karakternya bagai terapi. Marjorie berusaha mengumpulkan keping-keping ingatan yang tersisa sedangkan Tess ingin memperbaiki hubungan dengan ibunya. Para Prime mungkin bukan manusia utuh, tapi menolong manusia menemukan keutuhan. Ditutup pembicaraan menyihir, Marjorie Prime menampilkan kondisi kala Manusia dan A.I. saling mengisi alih-alih mengancam. (4.5/5)