MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON MAY 21, 2018)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

SOLO: A STAR WARS STORY (2018)

Kalau anda ingin tahu mengapa Han begitu apatis khususnya di paruh awal A New Hope (1977), film ini akan memberi jawaban. Kalau anda ingin tahu bagaimana hubungan Han dan Lando bermula, dan mengapa Lando tega berkhianat di The Empire Strikes Back (1980), film ini akan memberi jawaban. Pun film ini menguatkan teori bahwa Han semestinya menembak Greedo terlebih dahulu dalam konforntasi keduanya di Tatooine. Pertanyan-pertanyaan di atas sebenarnya tak memerlukan jawaban dan lebih baik ditinggalkan sebagai bagian mitologi tanpa batas.  Tapi kalau—seperti saya—anda ingin mengunjungi berbagai planet serta makhluk baru nan unik juga petualangan mendebarkan kaya imajinasi, Solo: A Star Wars Story kemungkinan takkan memuaskan, meski mengingat kendala produksinya, filmnya urung menjadi sampah sudah pantas disyukuri.

Bahkan corak warna filmnya pun cenderung pucat, beberapa kali malah ditambah pencahayaan minim. “Galaksi nun jauh di sana” tak pernah terlihat selesu ini. Nuansa familiar baru terpancar sewaktu kita mampir ke markas Dryden Vos (Paul Bettany) yang mewah, penuh alien, sampai penyanyi dengan mikrofon futuristik dan gaun emas. Toh semua itu cuma sejenak. Sebab seperti tertulis di narasi awal, Solo bertempat di masa kegelapan. Han (Alden Ehrenreich) pun berasal dari sebuah tempat kumuh di Planet Corellia, bekerja sebagai pencuri sambil berharap mampu mengumpulkan uang demi memperoleh kehidupan yang lebih baik bersama cintanya, Qi’ra (Emilia Clarke). Untunglah di zaman kelam ini, filmnya masih ingat untuk menyelipkan romansa. Space opera tanpa romansa ibarat komedi nihil lelucon.
Solo sendiri tampak sebagai film kaya ambisi. Bukan cuma space opera, unsur heist dan western, atau bisa kite sebut “space western” turut diselipkan. Dan sebagaimana formula heist, kita bisa menemukan adegan judi (permainannya disebut sabacc), yang juga berperan selaku perkenalan bagi Lando Calrissian yang diperankan Donald Glover a.k.a. Childish Gambino dengan flamboyan.  Namun sebagai heist, Solo bukanlah heist yang baik. Aksi Han bersama Tobias Beckett (Woody Harrelson) dan gengnya menjalankan beberapa misi perampokan tidak dikemas secara bergaya oleh sutradara Ron Howard (A Beautiful Mind, The Da Vinci Code, Rush), tidak pula tersusun atas rencana taktis. Pun tanpa cukup gaya dalam kemasan baku tembak, Solo juga urung menjadi western yang baik.

Skenario garapan Lawrence Kasdan (The Empire Strikes Back, Return of the Jedi, The Force Awakens) dan puteranya, Jonathan Kasdan (In the Land of Women), cukup kokoh menyusun penokohan. Seluruh protagonis kita awalnya tampak sebagai individu egosentris maupun berbahaya, sebelum akhirnya, meski sekelumit, terungkap bahwa mereka merupakan sosok dengan hati yang memiliki orang-orang untuk dicintai: Lando dan droid miliknya, L3-37 yang amat mencuri perhatian berkat pembawaan jenaka Phoebe Waller-Bridge, percikan romansa Tobias dan Val (Thandie Newton), Chewbacca (Joonas Suotamo) dengan keluarganya, dan percintaan Han-Qi’ra. Walau akhirnya mereka tetap kriminal sekaligus penyintas di suatu masa sulit, masa di mana petualangan luar angkasa megah jarang bertempat.
Sekalinya terjadi, sesungguhnya Ron Howard dibantu sinematografi garapan Bradford Young (Arrival) sanggup mengkreasi gambar epic tatkala Han dan kawan-kawan berhadapan dengan salah satu monster terbesar di franchise Star Wars sejauh ini. Ketika akhirnya lagu tema gubahan John Williams kembali berkumandang, Solo pun sepenuhnya menjadi space opera yang dicintai jutaan penonton meski hanya untuk beberapa menit. Sisa adegan kejar-kejarannya tak sebegitu mempesona pun kurang mengeksplorasi kemampuan plus kegilaan Han selaku pilot (kecuali adegan “The Maw”). Menariknya, momen aksi jarak dekat justru tergarap apik, khususnya saling tebas antara Qi’ra dan Dryden. Sebagai alumnus Game of Thrones yang tentunya familiar dengan pertarungan pedang, tak mengherankan Clarke mampu melakoninya dengan meyakinkan.

Bagi penggemar, deretan easter eggs serta cameo jelas jadi hiburan tersendiri. Dan bagi penggemar, atau penonton yang tidak sama sekali asing dengan Star Wars, tentu bisa menebak beberapa hal yang akan terjadi: kemunculan Lando, pertemuan Han dengan Chewie, maupun nasib romansa Han dengan Qi’ra. Tapi Solo berhasil mementahkan ekspektasi ketika merangkum hal-hal terduga itu melalui jalan tidak terduga. Tapi bagi sebagian besar penggemar, pertanyaan terpenting adalah, “apakah Alden tampil baik?”. Dia punya pesona. Belum sekuat Harrison Ford, tapi bisa dimaklumi mengingat Han di sini belum sematang versi Ford. Masalahnya, Han versi Alden bukan karakter paling keren (Lando) atau paling badass (Tobias). Ditambah kurang efektifnya penggarapan Howard dan pembawaan Alden terhadap momen one-liner, makin tenggelamlah sang tokoh ikonik di filmnya sendiri.

ALAS PATI (2018)

What??? Seriously?! “. Kalau anda menonton Alas Pati, niscaya kalimat tanya tersebut bakal mengendap di otak. Salah satu karakternya mengucapkan itu beberapa kali sebelum tewas. Pun respon itu juga yang sering saya lontarkan sepanjang film. Saya teringat beberapa tahun lalu, semasa SMP, kala tengah menyaksikan pertunjukan musik di pinggir pantai. Suara ombak dan angin berlomba dengan distorsi gitar yang menggedor lewat amplifier. Nada yang dimainkan tak jelas, tapi pastinya gitar rombeng itu dimainkan dalam volume tertinggi. Seusai penampilan, saya mempertanyakan pengaturan suara tersebut, yang dijawab dengan lantang, “rock is loud, bro!”. Mungkin jika anda tanyakan pada Jose Purnomo (Jailangkung, Gasing Tengkorak), ia pun akan menjawab “horror is loud, bro!”.

Dibantu musik gubahan Ricky Lionardi (Danur 2: Maddah, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati), Jose menyerbu telinga penonton dengan musik sekencang mungkin, dalam adegan sebanyak mungkin. Termasuk di setiap false alarm yang kerap terjadi karena karakternya sering salah lihat, mana kaki hantu mana kaki manusia, mana rambut kuntilanak mana rambut mahasiswi. Bahkan sewaktu terornya berwujud kebisingan statis dari alat pendeteksi suara pun, musik tetap diputar sekeras-kerasnya. Seiring waktu saya pun mulai kebal dengan jump scare yang ditawarkan Alas Pati. Saya mulai mati rasa seiring keengganan film horor satu ini untuk memainkan rasa takut penonton.
Padahal premisnya menjanjikan. Naskah yang ditulis berdua oleh Jose Purnomo dan Aviv Elham (Dubsmash, Sang Sekretaris) seolah ingin memberi pelajaran kepada para remaja kekinian yang bersedia melakukan apa saja demi ketenaran dunia maya. Apa saja, termasuk berkunjung ke hutan angker bernama Alas Pati, di mana terdapat kuburan terkutuk di dalamnya, sebagaimana dilakukan lima remaja pencari tantangan dan penonton YouTube. Raya (Nikita Willy) merasa perjalanan itu akan seru, Randy (Roy Sungkono) yakin video petualangan ke lokasi angker bakal mendongkrak jumlah penonton, sementara Vega (Stefhanie Zamora) butuh uang untuk membayar indekos. Ketiga alasan itu sepertinya sudah merangkum tujuan hidup banyak muda-mudi masa kini.

Sesampainya di Alas Pati, para remaja ini mulai bertingkah tidak sopan, bermain-main dengan mayat dan kuburan. Jangankan arwah-arwah penasaran di sana, saya di kursi penonton pun ingin mereka semua tewas. Memiliki deretan tokoh menyebalkan dalam film horor bukan masalah, sebab melihat satu per satu dari mereka dibantai juga memberikan hiburan tersendiri. Tapi alih-alih secara konstan memenuhi harapan tersebut, Alas Pati justru memaksa kita menunggu, menunggu, dan terus menunggu dalam rangkaian keusilan hantu yang cuma sesekali memberi dampak. Salah satu momen paling mencekam justru bukan dari gangguan dedemit, melainkan ketika Roy yang tengah merekam video dari jendela mobil nyaris terserempet truk, karena pemilihan waktunya tak terduga dan tanpa kesan mengulur waktu.
Mayoritas jump scare terlampau diulur, urung memamerkan penampakan ketika kecemasan memuncak, dan baru memunculkan sang hantu saat saya sudah menguap, lelah menanti, bagai usaha malas sutradara dan penulis naskah agar mencapai batas minimal durasi film panjang. Sulit untuk tidak berharap Alas Pati tetap bertahan di hutan. Setidaknya di sana aroma kengerian lebih semerbak. Sayang, pasca sebuah adegan kematian mengejutkan yang dieksekusi solid dibalut gore memadahi, karakternya pulang ke kota, ke rumah masing-masing, dengan darah teman mereka masih mengotori sekujur tubuh. Jika ada di posisi serupa, saya akan mencuci muka di sungai yang harus diseberangi sebelum mencapai hutan daripada menunggu berjam-jam kemudian. Bodoh memang, bahkan untuk ukuran horor remaja.

Bicara soal remaja, jajaran cast-nya bahkan tidak kuasa menjadikan obrolan sehari-hari terdengar realistis, apalagi asyik disimak. Ada usaha dari naskahnya guna menjalin interaksi menarik melalui beragam kelakar, namun kelima bintang mudanya adalah pelontar lelucon yang buruk. Begitu pula tatkala dipaksa berakting ketakutan. Mereka tampak kurang meyakinkan, dibuat-buat, atau menampakkan ekspresi seseorang yang mendapati bakso yang diinginkan sudah habis terjual ketimbang melihat setan. Seperti Jessy (Naomi Paulinda), saya pun berkali-kali ingin berteriak, “What??? Seriously?! “.

DEADPOOL 2 (2018)

Deadpool alias Wade Wilson (Ryan Reynolds) tidak bisa mati, bahkan ketika ledakan membuat seluruh bagian tubuhnya berhamburan seperti tampak pada adegan pembuka. Dia bisa tanpa ragu menerjang markas Yakuza maupun mafia berbahaya mana pun. Pasca film pertama, seolah segalanya menjadi mudah bagi Wade yang kini berprofesi sebagai pembunuh bayaran pengincar kepala para kriminal di seluruh dunia. Rupanya tidak semudah itu. Dia kebal dan “tak tersentuh”, tapi tidak demikian dengan orang-orang di sekitarnya. Berpijak pada gagasan itu, Deadpool 2 mengangkat cerita yang amat mewakili rasa buku komik. Saya tak bisa mengungkapnya, tapi jika anda familiar dengan komik pahlawan super, anda tahu aspek mana dalam hidup mereka yang tersulit, bahkan tidak jarang tragis.

Di balik segala guyonan semau sendiri serta olok-olok terhadap nuansa gelap film DC, Deadpool 2 sejatinya mengusung kisah kelam. Tidak hanya bagi Mr. Pool, juga Russell Collins (Julian Dennison), si mutan muda berkekuatan api, dan Cable (Josh Brolin), mantan prajurit yang datang dari masa depan guna membunuh Russell. Dua wajah berlawanan itu turut ditampakkan oleh performa Ryan Reynolds. Mengenakan topeng Deadpol, ia tampil jenaka, layaknya penampil yang mampu melakukan apa pun, membuat gestur apa saja. Tanpa topeng, sebagai Wade Wilson, meski tetap ada kekonyolan, Reynolds menyuntikkan sisi melankolis tragis dalam diri Wade.
Biasanya dari sini saya akan mengulik satu per satu elemen cerita filmnya, tapi Deadpool 2, dengan kadar kejutan tak kalah dibanding Avengers: Infinity War menyulitkan itu dilakukan. Satu hal yang perlu anda ketahui, bahwa ada banyak kejutan bertebaran, baik berbentuk poin plot, kemunculan dan kematian karakter (so many hilarious death scenes), serta beberapa cameo termasuk kemunculan sekejap mata seorang bintang ternama. Belum termasuk empat mid-credit scenes—dengan tiga adegan terakhir dirangkum jadi satu—yang membuktikan kreativitas gila Ryan Reynolds selaku penulis naskah bersama Rhett Reese dan Paul Wernick.

Karena sulit mengulas alur, mari membahas suguhan aksinya. Memiliki David Leitch di kursi penyutradaraan, meski koreografinya tak sekompleks karya-karya Leitch sebelumnya (John Wick, Atomic Blonde), beberapa porsi laga, khususnya saat mengeksploitasi kegarangan Josh Brolin sebagai Cable, acap kali mengundang decak kagum. Tidak kalah mencuri perhatian yakni Zazie Beetz sebagai Domino si mutan penuh keberuntungan. Beetz adalah talenta langka. Punya fisik atraktif, berkarisma dan tampak tangguh kala melakoni aksi, namun piawai melucu. Apabila suatu hari nanti ada usaha membangkitkan blaxploitation lewat remake judul-judul klasik macam Foxy Brown dan Coffy, Beetz mestinya jadi pilihan utama.
Untuk Deadpool sendiri, Leitch memanfaatkan ketidakmampuan si tokoh meregang nyawa guna memoles aksi kreatif. Dia bisa mencekik musuh dengan lengannya sendiri yang patah, terpotong tubuhnya menjadi dua, sampai hancur berkeping-keping tapi masih sempat mencela Wolverine.  Dia bisa melakukan semua hal kecuali tutup mulut. Dan satu hal yang filmnya tak bisa lakukan adalah berhenti menggila, berhenti melontarkan lelucon-lelucon meta. Deadpool 2 enggan membiarkan satu pun pihak lolos dari caci maki, termasuk Rob Liefeld, sang kreator tokoh Deadpool, Cable, dan  X-Force, yang konon tidak bisa menggambar kaki (silahkan googling Rob Liefeld’s feet). Kegilaan non-stop adalah keputusan tepat, kecuali pada first act, sekitar 10-15 menit awal ketika penonton—setidaknya saya—masih butuh waktu menyesuaikan diri.

Dari Only Time milik Enya yang syahdu, Bangarang-nya Skrillex yang menjadikan perkelahian Deadpool melawan Cable semakin keren, hingga Ashes milik Celine Dion selaku pengiring intro ala James Bond, jadi bukti betapa kegilaan dan daya kejut Deadpool 2 ikut menular ke soal pemilihan musik. Siapa sangka juga versi akustik mellow dari Take on Me dapat terdengar luar biasa manis? Atau lebih tepatnya, siapa sangka film seperti Deadpool 2 mampu tampil manis, romantis, menyentuh, setidaknya di bagian penutupnya? I can’t believe I’m saying this, but yes, I cried watching Deadpool 2!   

OFFICIAL TRAILER DAN POSTER "THE GIFT", KARYA BARU HANUNG BRAMANTYO

Mendengar nama Hanung Bramantyo, kemungkinan besar yang terlintas di benak kebanyakan dari kita adalah sutradara “film komersil”. Tidak sepenuhnya keliru. Hanung sendiri mengakui, sebagai seniman sekaligus pekerja industri, dia mesti bisa memilah, kapan harus membuat film yang ditujukan bagi penonton (baca: berorientasi keuntungan finansial), kapan bisa mengedepankan idealisme dan bertutur sebebas mungkin. The Gift, selaku karya ke-30 Hanung sepanjang 14 tahun karirnya sebagai sutradara, jelas masuk golongan yang disebut terakhir. Hanung sendiri menyatakan, bahwa inilah dirinya dalam kemerdekaan seutuhnya.

The Gift yang sempat diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada Desember 2017 lalu ini bercerita tentang Tiana (Ayushita Nugraha), seorang novelis yang tinggal bersebelahan dengan Harun (Reza Rahadian), seorang lelaki dengan penglihatan tidak sempurna. Awalnya saling bertengkar, lama-kelamaan mereka mulai dekat, bahkan saling mencintai. Tiana belajar jika di balik ketidaksempurnaan Harun, justru banyak keindahan baru dalam hidup bisa ia temui. Sementara Harun menemukan sosok wanita yang bersedia menerima kekurangannya.

Menengok trailer-nya, langsung terasa peralihan gaya Hanung dibanding kebanyakan karyanya belakangan ini. The Gift tampak sebagai romantika sederhana berbalut pemaknaan kehidupan, yang alih-alih mempersenjatai diri dengan gempuran dramatisasi, memilih pendekatan kontemplatif. Walau baru nampak sekilas, pun Reza Rahadian menjanjikan performa meyakinkan nan alamiah sebagai pria tuna netra. “Damai dan cantik”. Mungkin itu kesan spontan yang saya dapat selama menyaksikan trailer The Gift, yang tentu saja saya harapkan juga muncul kala menyaksikan hasil akhir filmnya. Untuk merasakan kesan serupa, silahkan saksikan trailer-nya berikut ini, atau bisa dengan menunjungi kanal YouTube resmi “The Gift Movie ID”.


Dibintangi juga oleh Dion Wiyoko (Terbang: Menembus Langit), Christine Hakim (Kartini, Guru Bangsa Tjokroaminoto), Rukman Rosadi (Love for Sale, Arini), dan Annisa Hertami (Aach...Aku Jatuh Cinta, Soegija), The GIft akan tayang di bioskop mulai 24 Mei 2018.

RAAZI (2018)

Dalam thriller spionase tentang agen ganda, bagian paling intens tidak pernah jauh dari usaha protagonis berpacu dengan waktu dan celah peluang sempit untuk menjalankan misi sambil melindungi penyamarannya. Kita tahu bahwa kemungkinan besar ia bakal berhasil, dan di mayoritas kesempatan memang demikian hasilnya. Tapi dalam Raazi yang diangkat dari novel Calling Sehmat buatan Harinder Sikka, yang mana terinspirasi dari peristiwa nyata, aksi kecoh-mengecoh itu membuat saya mencengkeram kursi sembari menahan nafas. Begitu menegangkan sampai saya sejenak lupa kalau hasil akhirnya telah diketahui. Rasanya seperti dibawa terjun langsung ke tengah peristiwa saat itu juga. This, ladies and gentlemen, is a high-class thriller.

Dalam film serupa, merupakan konflik biasa tatkala muncul kepedulian sang agen ganda terhadap target operasi, di mana ada jalinan emosi yang menghasilkan bias. Tapi, seperti yang belum lama ini saya tuturkan melalui ulasan 102 No Out, perfilman Bollywood tengah bagus-bagusnya membungkus drama. Terjadi pula di sini sewaktu duo penulis naskah, Bhavani Iyer dan Meghna Gulzar, mengedepankan unsur cinta, nilai kekeluargaan, serta bagaimana jika keduanya dibenturkan dengan patriotisme. Awalnya, Raazi terasa sebagai usaha terlampau gamblang guna menyuarakan patriotisme. Hidayat (Rajit Kapur), yang menjalin persahabatan dengan Brigadir Pakistan demi mengorek informasi bagi India bersedia memberikan nyawa bagi negerinya. Hal itu ia ucapkan secara verbal, bukan nilai tersirat yang akan dipetik penonton.
Begitu tumor paru-paru ganas membuat usianya tak lagi lama, Hidayat mengirim puteri tunggalnya, Sehmat (Alia Bhatt) untuk melanjutkan misi tersebut. Sehmat bakal dinikahkan dengan putera sang Brigadir, lalu diam-diam menyuplai informasi kepada intelijen India. Seperti ayahnya, Sehmat lantang berkata bahwa tidak ada yang lebih penting ketimbang tanah air. Apabila anda berasal atau dekat dengan keluarga militer, pasti tahu jika patriotisme turun-temurun macam ini wajar terjadi, bukan ketidaklogisan naskah filmnya. Namun perlahan, khususnya setelah mencapai konklusi, Raazi mengungkap “wajah aslinya”. Ini bukan propaganda pendukung patriotisme buta. Sebaliknya, Raazi menunjukkan betapa kebutaan itu dapat menghapus rasa kemanusiaan, memporak-porandakan cinta bahkan keluarga. “Dia cuma melakukan itu demi negara”, sebut seorang tokoh. Saat itulah nurani dipertanyakan.

Seperti telah disebut, sumber adaptasinya mengambil inspirasi dari kisah nyata, tepatnya Perang India-Pakistan tahun 1971. Jangan khawatir akan tersesat apabila kurang familiar dengan salah satu babak sejarah tersebut, meski tidak ada salahnya membaca satu-dua sumber terlebih dahulu. Setelah lima menit awal yang diisi pemaparan fakta dan nama beruntun, Raazi cenderung mudah dicerna. Karena walau berlatar konflik internasional, fokus alurnya terjaga, setia bertahan di lingkup misi Sehmat, sambil sesekali menggali drama keluarga pemicu dilema dalam dirinya. Bhavani Iyer dan Meghna Gulzar urung tergoda menyentuh ranah yang lebih luas nan bombastis. Memanasnya konflik India-Pakistan merupakan latar, sedangkan kisah utamanya tetap personal.
Sebagai intelijen, demi mejaga kerahasiaan jati diri, Sehmat mesti menempuh berbagai jalan rumit guna menjalankan misi. Dia mesti menghafalkan sandi morse, kode nama untuk tiap-tiap pihak Pakistan, sandi, serta identitas para agen lain yang siap memberi bantuan. Rumit, tapi kerumitan itu dijaga supaya cukup ada di kepala Sehmat semata. Kita, penonton, tidak ikut dibuat pusing karenanya. Semua berkat naskah ditambah kemampuan bercerita secara rapi milik sang sutradara, Meghna Gulzar (Just Married, Talvar). Pun Meghna dibantu penyuntingan dinamis Nitin Baid, yang acap kali melahirkan kesempurnaan timing penyulut ketegangan tingkat tinggi. Banyak unsur “tiba-tiba” yang mampu menggedor jantung berkat elemen tersebut. Momen Sehmat diam-diam menyalin berkas sang mertua contohnya.

Digawangi oleh penulis naskah dan sutradara wanita, Raazi pun turut menjelma jadi kisah pameran kekuatan seorang wanita, yang mengalami transformasi, dari mahasiswi yang tak sanggup melihat seekor tupai terlindas mobil, menjadi agen rahasia tangguh yang bersedia melindas tubuh manusia dengan mobil. Alia Bhatt menjual perkembangan karakter itu dengan baik, meyakinkan sebagai intelijen yang taktis sekaligus cerdik dalam menyelesaikan tugas. Biar demikian, momentum terbaiknya selalu terjadi kala bersinggungan dengan porsi drama emosional. Sebab pada momen-momen itu juga, kita melihat kekuatan terbesar Sehmat. Bukan soal merenggut nyawa atau menipu lawan, melainkan tetap bertahan sebagai manusia berperasaan meski dihimpit situasi.

PERILISAN OFFICIAL TEASER WIRO SABLENG

Setelah merilis official first look 4 bulan lalu, disusul sederet poster bagi tiap-tiap karakter, Wiro Sableng akhirnya merilis teaser perdananya pada Jumat (11/05) sore. Saya ingat betul, semasa kecil dulu karakter ciptaan mendiang Bastian Tito ini rutin menemani di layar kaca, lengka dengan lagu tema ikonik yang pasti dihafal semua kalangan, dari orang dewasa sampai siswa SD seperti saya waktu itu. Saya pun antusias meyambut pengumuman pembuatan versi layar lebar yang diproduksi oleh Lifelike Pictures (Tabula Rasa, Modus Anomali, Pintu Terlarang), serta digarap oleh salah satu sutradara terbaik negeri ini, Angga Dwimas Sasongko (Filosofi Kopi, Surat dari Praha). Sementara naskahnya ditulis oleh Tumpal Tampubolon (Tabula Rasa), Sheila Timothy (juga bertindak sebagai produser), dan Seno Gumira Ajidarma (Pendekar Tongkat Emas).

Melegakan pula mendapati Vino G. Bastian, putera Bastian Tito, memerankan Wiro. Artinya, warisan sang penulis ada di tangan yang tepat. Pun ada faktor lain mengapa Wiro Sableng adalah proyek yang sangat potensial. Saya jarang menyebut “bangga, karya anak bangsa” atau semacamnya. Bagi saya, film adalah film, tidak peduli buatan anak siapa atau bangsa mana. Tapi Wiro Sableng lain cerita. Keterlibatan Fox International Productions, selaku anak perusahaan 20th Century Fox membuat film ini bukan lagi “sebatas film”. Agustus 2018 ketika filmnya rilis (maju dari rencana awal) jadi event yang patut dirayakan. Karena, jalan industri perfilman nasional menuju kancah internasional lebih terbuka lebar. Joint promotion Wiro Sableng dengan Deadpool 2 beberapa waktu lalu jadi bukti. Proyek-proyek besar lain pun bukan bisa segera bermunculan.

Selain Vino G. Bastian, turut terlibat yakni Sherina Munaf sebagai Anggini, Fariz Alfarazi sebagai Bujang Gila Tapak Sakti, Yayan Ruhian sebagai sosok penjahat Mahesa Birawa, Ruth Marini sebagai Sinto Genden, dan Andy /rif sebagai Dewa Tuak. Nama yang disebut terakhir mengalami transformasi fisik yang mengejutkan berkat tata rias memikat. Ya, menilik teaser yang baru dirilis, Wiro Sableng memang menjanjikan beragam tata artistik memukau, dari kostum hingga desain produksi yang menampilkan nuansa khas sajian kolosal nusantara termasuk guratan motif batik di Kapak Naga Geni 212. Simak teaser-nya berikut ini dan perhatikan berbagai elemen yang saya sebutkan.


Untuk info lebih lanjut, kunjungi akun Instagram filmnya di @wirosablengmovie
#SiapSableng di bulan Agustus?

EL (2018)

Dafychi (Aurelie Moeremans) adalah gadis berkepribadian ganda, kondisi yang membuatnya dianggap aneh dan ditakuti teman-teman sekolahnya. Mario (Achmad Megantara) adalah pengusaha muda sukses yang galak, sikap yang membuatnya dianggap aneh dan ditakuti para bawahan. Keduanya bertemu, jatuh cinta, lalu saling menyembuhkan kondisi masing-masing. Gangguan psikis Dafychi si gadis bandel—yang tiap mendengar bunyi ledakan bakal berubah menjadi Dafyna si gadis manis—bisa dipahami. Sebuah trauma menekannya. Tapi Mario? Dia kaya, sukses dalam bisnis, pun tak kekurangan kasih, sebab meski eksentrik, sang ibu (Meriam Bellina) menyayanginya. Mengapa ia begitu sinis, bahkan kadang bagai tanpa perasaan?

Haruskah ada alasan di balik karakteristik Mario itu? Tidak juga. Masalahnya terletak pada konsistensi. Apa Mario seorang anti-sosial? Melihat antusiasmenya kala kembali bertemu si kawan lama, Ando (Dimaz Andrean), rasanya tidak. Walau gangguan psikologis dimiliki Dafychi, Mario justru lebih sulit dipahami. Di suatu malam, Mario dan Dafychi bertemu Alena (Dara Warganegara), mantan pacar Mario yang masih kukuh mengejarnya. Alena memamerkan pacar barunya (jelas guna memanas-manasi sang mantan), yang Mario balas dengan mengenalkan Dafychi sebagai “adiknya Ando”. Itu kebodohan yang sulit dipercaya dapat dilakukan pria dengan pengalaman pacaran tidak nihil.
Tapi Djaumil Aurora (Mata Dewa, Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi), yang bertugas menulis naskah adaptasi novel berjudul sama karya Luluk HF, bisa berdalih bahwa hal di atas tidak mustahil. Ya, saya akui probabilitasnya belum mencapai 0%. Saya memilih ikut serta, pasrah mau dibawa ke mana oleh EL. Saya cuma berharap disuguhi komedi-romansa manis, menggelitik, nan bernyawa. Potensi komedinya besar. Bayangkan tokoh sekaku Mario disandingkan dengan gadis “seliar” Dafychi. Belum lagi ketika dihadapkan pada perubahan drastis pada kepribadian Dafychi-Dafyna. Beberapa comic timing agak kacau akibat penyuntingan berantakan yang didasari niatan menyusun tempo cepat, namun justru berakhir tak memberi kesempatan penonton meresapi kelucuannya.

Untung tidak seluruhnya demikian. Beberapa mampu memancing tawa, meski lebih disebabkan energi seorang Aurelie. Energi yang begitu tinggi sampai naskah, penyutradaraan Findo Purwono HW (Suster Keramas 2, Eyang Kubur), maupun akting Achmad Megantara tak mampu mengimbangi demi menciptakan dinamika yang saling mengisi. Sang aktris berdiri seorang diri menopang filmnya dari keruntuhan total. Bicara soal pasangannya, Achmad Megantara berusaha amat keras, acap kali terlampau keras malah, untuk terlihat, terdengar, dan terasa sebagai pria serius, ketus, kaku, juga keren. Segala tujuan itu tak ada yang tercapai karena penampilannya nampak dibuat-buat. Atau sosok aslinya memang demikian? Itu lebih celaka.
EL mengangkat persoalan kepribadian ganda, yang sangat jarang dijamah perfilman negeri ini. Walau agak menyayangkan, saya tidak terkejut saat mendapati filmnya urung memberi pemahaman baru terkait kondisi tersebut. Menjadi patut disayangkan tatkala keadaan unik itu gagal dimaksimalkan untuk menambah dinamika interaksi kedua tokoh utama. Paruh awalnya cukup menarik. Mario yang kerepotan menghadapi kebandelan Dafychi, kemudian disusul kemunculan Dafyna yang membuatnya semakin bingung. Memasuki paruh kedua, keliaran Dafychi justru ditekan, konflik pun bergeser ke ranah lebih generik. Apalagi kalau bukan tentang kecemburuan dan cinta segitiga.

Ada satu sub-plot mengenai Sivia (Brigitta Cynthia), sahabat Dafychi di kelas sekaligus korban tindak kekerasan oleh sang ayah. Cerita sampingan ini hanya punya dua substansi: menciptakan klimaks dan membuka jalan bagi terselesaikannya seluruh konflik. Setidaknya dari situ kita berkesempatan melihat Verdi Solaiman dalam salah satu peran antagonisnya yang paling gampang menyulut kebencian meski cuma muncul sejenak. Verdi dann Aurelie jelas layak berada di film yang jauh lebih baik. Bahkan sesungguhnya, melihat beragam potensi yang ada, EL berhak memperoleh eksekusi yang lebih mumpuni.

BASED ON A TRUE STORY (2017)

Art imitates life. Karya seni mengimitasi realita. Istilah tersebut sebenarnya erat kaitannya dengan metode seorang seniman mengais inspirasi, yakni bersumber dari dunia nyata. Tapi dalam perjalanannya, penciptaan karya, yang juga merupakan proses penciptaan kehidupan di tatanan fiktif, dapat memunculkan efek berkebalikan apabila sang pembuat karya mulai terseret terlampau jauh menuju kreasinya. Terjadilah life imitates art. Hal ini jadi pokok bahasan Based on a True Story yang menampilkan kolaborasi Roman Polanski (The Pianist, Chinatown, Rosemary’s Baby) dan Oliver Assayas (Personal Shopper, Clouds of Sils Maria) sebagai penulis naskah. Hanya saja, proses observasi itu ditambahi bumbu thriller.

Seorang novelis yang baru meraih kesuksesan perdana, tersiksa akibat kebuntuan menulis, lalu bertemu penggemar misterius seiring dengan memudarnya batasan fantasi dan realita sang novelis. Premisnya familiar, apalagi bagi kedua penulis naskah. Film terakhir Polanski, Venus in Fur (2013) serta judul-judul lamanya kerap membahas soal itu, sementara Assayas, hampir di tiap karyanya, gemar bertutur tentang krisis eksistensial. Paruh awalnya bekerja layaknya drama psikologis observasional pada umumnya, ketika Delphine (Emmanuelle Seigner, istri Polanski) berkenalan dengan Elle (Eva Green), si penggemar berat yang ia rasa amat mengerti isi hati dan pikirannya. Dari penggemar-idola, hubungan keduanya cepat berkembang menjadi persahabatan.
Delphine bersedia menunjukkan ringkasan novel terbaru yang tengah susah payah ia tulis, memberitahu kata sandi komputernya, bahkan mengizinkan Elle tinggal di apartemennya sementara waktu. Kehadiran Elle dirasa mampu melucuti beban Delphine, yang bukan cuma buntu, pula sedang menghadapi teror dari surat misterius yang menuduhnya mengeksploitasi aib keluarga lewat novel. Semakin jauh kisahnya bergerak, nuansa thriller makin kental merasuk, bahkan mencapai third act, Based on a True Story mulai terang-terangan merujuk pada Misery (1990), lengkap dengan penulis yang kakinya terluka dan mesti terus berbaring.

Di tangan Polanski selaku sutradara, Based on a True Story lebih condong ke ranah slow-burning thriller ketimbang drama meditatif sebagaimana pendekatan Assayas sebagai sutradara. Pun tak mengejutkan ketika aroma psikoseksual samar-samar tercium di balik interaksi Delphine dan Elle. Kadang kamera Polanski bergerak terlampau lambat, namun ada kalanya perpindahan sekuen terlalu cepat. Hasilnya sama. Potensi ketegangan urung memuncak. Klimaksnya sendiri menghadirkan usaha Polanski mengajak penonton mengecap atmosfer film suspense era 70-80an, dilengkapi orkestra mencekam Alexandre Desplat yang kental membawa rasa dari masa tersebut.
Satu hal yang Polanski tahu pasti, bahwa Eva Green mampu menciptakan intensitas. Kamera pun seolah begitu mantap menangkap setiap ekspresi sang aktris. Berkat sang aktris pula, mudah memahami alasan Delphine tetap terobsesi kepadanya walau telah melalui sejumlah pertengkaran, kekangan, dan perilaku histerikal Elle. Green memiliki sorot mata menghipnotis, yang sekalinya mencengkeram, sulit untuk melepaskan diri darinya. Terkadang, Polanski pun memanfaatkan Green guna memproduksi creepy factor, sewaktu diam-diam sekaligus tiba-tiba, dia sudah berada di satu sudut ruangan.  Kedua penampil utama sama-sama memamerkan transformasi dengan gradasi bertahap. Green dari penggemar antusias yang tak jarang seduktif, sementara Seigner perlahan semakin kehilangan pegangan atas realita.

Penutupnya menyimpan twist yang dapat terlihat jelas bahkan sedari menit pertama jika anda familiar dengan karya-karya Polanski maupun Assayas. Tapi twist itu bukan semata soal daya kejut, karena Based on a True Story bicara mengenai bagaimana kesuksesan dan ketenaran dadakan menciptakan tekanan, kebuntuan penulis yang mengikuti kesuksesan itu, juga proses mengkreasi kehidupan. Semua ini adalah soal observasi terhadap proses, bukan hasil akhir. Pun filmnya memancing pertanyaan, “bukankah tiap bentuk karya seni, jika dilihat dari aspek tertentu, sejatinya dibuat berdasarkan kisah nyata?”.

102 NOT OUT (2018)

Film Indonesia, khususnya melodrama, patut mencontoh pendekatan sineas-sineas Bollywood belakangan, dalam usaha menguras air mata penonton. Kecenderungan film lokal (ingat, “kecenderungan”, bukan “semua”) bakal menempatkan tokoh utama di titik terendah maupun penyakit terparah. Dia menangis, meratap, terus berjuang, tapi sungguh perjuangan yang teramat berat. Penonton mesti dibuat merasa betapa menderita perjuangan tersebut. Produk Bollywood, punya kecenderungan sebaliknya, di mana tokoh utama memilih tersenyum, mencari sisi positif sembari mencari jalan keluar yang seringkali unik. Bukan kesedihan karakter yang menyentuh, tapi bagaimana ia enggan berkubang di kesedihan meski dihantam beragam problematika.

102 Not Out yang diangkat dari pertunjukan panggung buatan Saumya Joshi (juga merangkap penulis naskah filmnya) menampilkan tokoh utama seorang kakek berusia 102 tahun yang berjiwa muda. Dattatraya Vakharia (Amitabh Bachchan) namanya. Kakek ini sedikit “gila”, tapi bukan tipikal tokoh pria tua mesum macam yang diperankan Robert DeNiro dalam Dirty Grandpa (2016) misalnya. Dattatraya gemar bersenang-senang, tapi lebih dari itu, ia ingin sang putera, yang juga telah menginjak usia senja, merasakan kesenangan serupa. Berbanding terbalik dengan sang ayah, Babulal “Babu” Vakharia (Rishi Kapoor) yang “baru” 75 tahun, hidup dengan kekakuan rutinitas membosankan.
Pengecekan medis rutin walau tak menderita sakit, menu makanan sehat, bahkan lama waktu di bawah shower pun dibatasi tak boleh mencapai 15 menit dengan cara memasang alarm, sebab lebih dari itu, ia yakin penyakit bakal menyerang. Sudahkah saya menyebut Babu tidur memakai selimut yang sama selama 60 tahun? Maka tersentaklah ia begitu sang ayah mengacaukan segala rutinitas itu kala mengumumkan niat memecahkan rekor dunia sebagai manusia tertua. 118 tahun, alias 16 tahun lagi jadi target. Di sini kekonyolan mulai mengisi. Meyakini bahwa tinggal bersama kekakuan Babu bakal membuatnya cepat mati, Dattatraya melakukan hal mengejutkan: mengirim puteranya sendiri ke panti jompo!

Sutradara Umesh Shukla (All Is Well, Oh My God) membuka 102 Not Out dengan sekuen animasi ditemani lagu jazz Kuch Anokhe Rules yang dibawakan Armaan Malik. Kombinasi tersebut menghasilkan suasana ceria yang menegaskan tone film secara menyeluruh, meski membahas perihal serius soal masa tua dan hubungan ayah-anak. Seperti judul lagu di atas yang berarti “beberapa aturan unik”, Dattatraya memberi berbagai persyaratan tak biasa yang harus dijalankan Babu supaya ia diperbolehkan tetap tinggal di rumah. Syarat-syarat aneh yang membuat bukan cuma Babu, tapi penonton pun garuk-garuk kepala, pula berfungsi memancing tawa di awal. Namun begitu intensi tiap persyaratan itu diungkap, 102 Not Out mulai memancing bentuk emosi lain: haru.
Tentu ada dramatisasi di situ, namun air mata yang mengalir di pipi saya (serta banyak penonton lain bahkan setelah lampu teater dinyalakan) disebabkan hal-hal murni yang mudah membuat penonton terikat karena amat mungkin terjadi di kehidupan nyata. Sebuah napak tilas masa-masa indah yang telah lalu tatkala senyum bahagia masih menghiasi bibir karakternya. Rishi Kapoor menangani masing-masing napak tilas itu dengan sensitivitas tinggi. Melihatnya, saya ikut terlempar menuju memori atas kenangan-kenangan serupa. Sedangkan Amitabh Bachchan menyimbangkan absurditas pria 102 tahun penuh energi dengan paparan kasih sayang seorang ayah. Menjalani reuni setelah terakhir berkolaborasi di Ajooba pada 1991 (ini kali keenam mereka berduet), keduanya menjalin chemistry ayah-anak solid meski selisih usia mereka cuma 10 tahun dan belum lama ini terlibat konflik akibat tudingan Rishi Kapoor dalam otobiografinya bahwa Amitabh tak mengharai para co-star.

Sepanjang 102 menit (kesamaan judul dan durasi yang entah disengaja atau tidak), intensitas mampu terjaga konsisten berkat permainan tempo efektif Umesh Shukla yang memaparkan tiap titik seperlunya tanpa perlu berlarut-larut. Tangis haru kemungkinan besar bakal hadir, tetapi anda takkan berujar “this is so sad, I want to cry”, melainkan “what a beautiful relationship, what a beatiful life”. Keindahan itu yang akan menyajikan haru. Pun twist yang menanti di ujung bukan dipandang selaku eksploitasi penderitaan, namun satu lagi alasan mengapa hidup wajib dijalani dan dirayakan.  

SAJEN (2018)

“Ini yang bikin editnya nggak ketawa?”, celetuk seorang penonton di depan saya saat menyaksikan klimaks Sajen, yang menandai kembalinya sutradara Hanny R. Saputra (Heart, Mirror) setelah tiga tahun absen pasca menggarap Dejavu: Ajian Puter Giling. Memasuki sepertiga akhir durasi, tepatnya ketika elemen horor yang jadi jualan utama mulai mendominasi, saya, dan sepertinya mayoritas penonton, sudah menyerah menganggap serius film ini. Kami hanya bisa tertawa melihat lemparan kotak pensil Minati Atmanegara ke arah hantu yang merangkak dari televisi layaknya Sadako, atau Rachel Amanda selaku pustakawan yang lebih sering membagikan tisu ketimbang mengurus buku.

Padahal, naskah buatan Haqi Achmad (Ada Cinta di SMA, Meet Me After Sunset) menyenggol pokok bahasan serius berupa bullying di lingkungan sekolah. SMA Pelita Bangsa namanya. Sebuah sekolah swasta elit nan unggulan yang anehnya mau mempekerjakan penjaga sekolah berpenampilan ala dukun yang bertugas meletakkan sajen di berbagai tempat peristirahatan terakhir siswa-siswi yang tewas bunuh diri karena tersiksa akibat penindasan. Lebih aneh lagi melihat sekolah sebesar itu bak cuma punya dua tenaga pengajar plus seorang pembagi tisu...ah, maksud saya pustakawan.
Tokoh utamanya bernama Alanda (Amanda Manopo), siswi berprestasi yang berniat membongkar kasus bullying di sekolah, yang mana dirinya turut menjadi korban. Bianca (Steffi Zamora) beserta gengnya, juga sang kekasih, Davi (Jeff Smith) adalah para pelaku. Konfliknya mengikuti formula mayoritas film bertema serupa, di mana penindasan terhadap Alanda yang makin lama wujudnya makin parah jadi sorotan utama. Caranya tidak baru, namun kritik yang dilontarkan penting untuk didengar, khususnya kala menyentil keengganan pihak sekolah bertindak tegas. Disokong performa Amanda Manopo yang memeras emosi sekuat tenaga, paruh awal Sajen sejatinya menjanjikan.

Sampai tiba momen yang telah diprediksi: Alanda bunuh diri. Di sinilah titik kejatuhan Sajen,—yang awalnya pelit mengumbar penampakan bahkan cenderung lebih dekat ke  drama ketimbang horor sepenuhnya—yang ironisnya terjadi sejak kedatangan teror yang telah penonton nantikan. Pemakaian rasa tradisional lewat bunyi angklung dan gamelan dalam musik buatan Andhika Triyadi (Benyamin Biang Kerok, #TemanTapiMenikah) merupakan poin positif yang sesekali jadi obat di antara deretan jump scare nir-timing. Diperparah penyuntingan kacau, saya pun ingin mengikuti nasihat Riza (Angga Yunana) untuk banyak-banyak berdoa dan mengucap istighfar. Produksi Starvision, termasuk yang kelas wahid macam Cek Toko Sebelah, memang kerap bermasalah soal transisi kasar antar adegan. Entah disebabkan pasca-produksi yang buruk atau minimnya stok rekaman.
Mungkin ingin menandingi keperkasaan Sadako, hantu Alanda bukan cuma bisa merangkak keluar dari televisi, pula mencuatkan kepala dari layar telepon genggam. Davi jadi korban modus operandi kaya inovasi itu. Jika saya mengalaminya, dijamin saya bakal berteriak kencang sambil memasang ekspresi ketakutan yang berbanding 180 derajat dengan definisi “ganteng”. Tapi Davi, sebagai siswa populer juga kapten basket tentu tak ingin terlihat jelek. Alhasil, situasi absurd tersebut tak membuat raut wajahnya berubah. Dia hanya berlari bagai sedang terlibat perlombaan marathon. Toh itu tidak ada apa-apanya dibanding reaksi seisi sekolah di klimaks filmnya, di tengah pelaksanaan prom.

Pernah menonton Carrie? Pasti anda ingat betapa kacau prom ketika Carrie mengamuk. Tapi siswa-siswi SMA Pelita Bangsa rupanya amat bernyali. Melihat hantu Alanda menampakkan wajah rusaknya di tengah panggung, melempar seorang siswi ke sana kemari, mereka cuma berdiri, memasang wajah tenang, bergerombol layaknya menonton perkelahian remaja. Fakta bahwa klimaks konyolnya masuk ke produk akhir, yang berarti ada pihak pengambil keputusan yang memberi persetujuan, adalah sebuah misteri tersendiri. Sama misteriusnya dengan apa perlunya karakter Ratu (Rachel Amanda) diceritakan sedang melakukan riset. Biarkan dia membagikan tisu...ah, maksud saya mengurus buku-bukunya.