THE HITMAN'S BODYGUARD (2017)

Dalam The Bodyguard (1992), Kevin Costner memerankan bodyguard yang bertugas melindungi Whitney Houston, seorang diva. Sesosok jagoan tangguh menjaga bintang ternama yang tak berdaya. Normal. Namun dalam The Hitman's Bodyguard, Michael Bryce (Ryan Reynolds) harus mengawal Darius Kincaid (Samuel L. Jakcson), salah satu pembunuh bayaran paling berbahaya. Absurditas premis itulah sumber daya tarik karya terbaru Patrick Hughes (The Expendables 3) yang rupanya sampai delapan minggu menjelang pengambilan gambar masih berstatus drama serius. Melihat kelakar Reynolds-Jackson, juga pembawaan over-the-top Hughes, transformasi menuju kekonyolan jelas tepat.

Michael Bryce adalah agen berstatus triple A yang menyediakan proteksi bagi kriminal kelas kakap. Hingga kematian salah satu klien menghancurkan karirnya dan Bryce kini hanya bodyguard untuk penjahat kelas teri atau korporat pecandu narkoba, dengan mobil butut dan botol plastik penyimpan air kencing. Di sisi lain, tengah berlangsung persidangan terhadap diktator keji Belarusia, Vladislav Dukhovich (Gary Oldman) di mana Darius Kincaid jadi saksi kunci. Namun perjalanan membawa Kincaid ke Mahkamah Internasional berlangsung kacau akibat pengkhianatan dalam Interpol, memaksa Agen Roussel (Elodie Yung) meminta bantuan Bryce yang notabene mantan kekasihnya. Masalahnya, Bryce dan Kincaid merupakan musuh bebuyutan yang sudah berulang kali coba saling bunuh.
Konon penulisan ulang naskah buatan Tom O'Connor terjadi pasca Reynolds dan Jackson resmi direkrut. Mudah memahami alasannya. Jackson seperti kita tahu jago bersumpah serapah (khususnya "motherfucker") sedangkan Reynolds piawai melontarkan celotehan bernada sinisme yang teruji lewat Deadpool. Naskah dirombak demi memfasilitasi kelebihan keduanya, alhasil meski beberapa adegan berbasis dialog berlangsung kepanjangan, chemistry Jackson-Reynolds ditambah keahlian plus ketepatan timing komedi mereka cukup solid menjaga dinamika. Terbentuk love/hate bromance relationship kacau (in a good way) yang mengekspresikan benci dengan saling pukul bahkan tembak, dan cinta dengan membunuh musuh masing-masing. 
Di jajaran pemeran pendukung, Salma Hayek sebagai Sonia, istri Kincaid, ikut menggila, dengan mulut tidak kalah busuk, mengeskalasi tingkat humor berkat sikap seenaknya. Baik memakai ucapan atau pukulan, semua pihak dibantai habis, dari teman satu sel di penjara sampai Interpol. Elodie Yung tampil dalam tipikal serupa Salma, hanya saja porsinya lebih minim. Agak disayangkan kala Gary Oldman melalui performa megalomania miliknya banyak menghabiskan waktu duduk di ruang sidang, padahal kegilaan menyenangkan yang paling kita kenal dalam karakter Norman Stansfield di Leon: The Professional kembali terpancar. Satu hal pasti, Hayek, Yung, dan Oldman, sebagaimana dua pemeran utamanya, terlihat bersenang-senang. 

Seolah didorot hasrat yang teredam di The Expendables 3, Hughes meluapkan segala amunisinya, terkait guyonan maupun sekuen aksi. Pondasinya sama, kemunculan di waktu tak terduga. Belum semua berhasil memang. Beberapa momen medioker berseliweran, tapi secara keseluruhan masih efektif menjaga minat menonton berkat keberhasilan menghindari rasa film aksi generik. The Hitman's Bodyguard pun berujung hiburan yang enggan terbatasi sekat-sekat akal sehat. Kejar-kejaran intens melibatkan mobil, motor, dan speedboat misalnya, memperlihatkan kapasitas Hughes membuat set-piece aksi dinamis tanpa perlu mengeksploitasi ledakan. You won't find this movie as a memorable piece of action cinema, but its madness definitely worth the ticket price

THE BATTLESHIP ISLAND (2017)

Salah satu adegan The Battleship Island memperlihatkan Kang-ok (Hwang Jung-min) dan puterinya, So-hee (Kim Su-an) bernyanyi sambil menari di tengah gelap malam, hanya diterangi sorot lampu jalan. Ruang dan waktu seolah hanya milik berdua, ayah dan anak yang saling berbagi kasih sayang. Dalam letupan blockbuster, sensitivitas demikian yang menunjukkan kepekaan sutradara bermain rasa keberadaannya makin langka. Ryoo Seung-wan (Veteran, The Berlin File) jelas menyertakan segenap perasaan kala merangkai tiap keping film ini, entah kehangatan drama ayah-anak lewat momen manis dan jenaka, atau semangat membara bak didasari luka masa lalu sebuah bangsa yang belum seutuhnya sembuh.

Judulnya merujuk pada Pulau Hashima, pusat tambang batu bara Jepang yang terletak 15 kilometer dari Nagasaki, dan beroperasi dari 1887 sampai 1974. Bentuknya menyerupai kapal perang, dilengkapi tembok kokoh mengitari pulau. The Battleship Island mengambil masa saat pendudukan Jepang terhadap Korea memasuki babak akhir, tepatnya tahun 1945 jelang Perang Dunia II usai. Ratusan warga Korea dipaksa bekerja di Hashima, diperlakukan tak manusiawi. Tanpa prosedur keamanan, para lelaki hanya mengenakan helm serta kain ala kadarnya yang menutupi bagian bawah tubuh. Ancaman gas bocor dan tambang runtuh enggan dipedulikan. Sedangkan wanita jadi hiburan pemuas nafsu. Dan tidak sedikitpun upah diterima. 
Kang-ok, seorang musisi yang bersama rekan-rekan satu band dan sang puteri, So-hee, berharap mendapat hidup lebih baik di Jepang. Malang, mereka tertipu dan berakhir sebagai budak di Hashima. Ada pula Choi Chil-sung (So Ji-sub) si gangster, lalu Park Moo-young (Song Joong-ki), anggota gerakan kemerdakaan Korea yang mengemban misi menyelamatkan seorang pejuang veteran. Misi Park inilah yang nanti memicu pergolakan besar di Hashima. Walau terinspirasi kondisi nyata, konflik maupun tokoh dalam naskah buatan Ryoo Seung-wan sepenuhnya fiksi. Perlawanan rakyat, peperangan di tengah laut, elemen prison break, semua rekaan. Sebuah skenario "what if" selaku surat cinta bagi masa lalu yang bukan saja berisi empati, pun api perjuangan membara. 

Melalui The Battleship Island Ryoo membuktikan versatilitas sebagai sutradara, khususnya dalam ranah blockbuster paket lengkap yang mampu merasuki beragam ruang emosi penonton: drama menyentuh hati, humor penggelak tawa, aksi bombastis pemacu adrenalin yang juga kaya rasa. Kolaborasi Ryoo bersama sinematografer Lee Mo-gae menghasilkan gambar-gambar sempurna mewakili tiap perasaan dari kehangatan tarian Kang-ok dan So-hee seperti telah dideskripsikan paragraf pembuka, keseraman berbagai siksaan yang diterima rakyat Korea (wanita yang digelindingkan di ranjang paku jadi hal paling menyakitkan), sampai pemandangan menggetarkan saat bendera matahari terbit dibentangkan lalu dirobek. 
Jika Song Joong-ki sebagai Park adalah otak yang pandai berkalkulasi, So Ji-sub melalui machismo kelas satu miliknya merupakan otot, maka Hwang Jung-min dan Kim Su-an adalah hati film ini, perekat ikatan penonton dengan narasi. Bersama keduanya kita tertawa, bersama keduanya kita menangis. Kekuatan terbesar Hwang bersumber dari mata plus senyum yang di satu kesempatan mengekspresikan kekonyolan, lalu di kesempatan berikutnya menyiratkan kasih tulus luar biasa kuat. Begitu pula Kim. Kita akan tergelak menyaksikan bocah 11 tahun ini penuh kekesalan merespon tingkah ayahnya, tapi siapa tidak luluh melihat tangisnya jatuh? 

Tiada momen percuma sepanjang 132 menit durasi roller coaster aneka emosi ini. Ryoo Seung-wan pun piawai membangun atmosfer tak mengenakan hasil suasana kumuh setting hingga kekerasan menyakitkan. Semisal perkelahian di kamar mandi yang amat kasar, brutal, memancing ngilu tiap tubuh membentur lantai keramik. Puncaknya klimaks pertempuran 30 menit terakhir yang enggan berhenti menggedor jantung, menyesakkan dada dari detik ke detik. Kamera bergerak dinamis, bagai terbang bebas mencakup tiap sudut peperangan, musik menghentak gubahan Adam Klemens setia mengiringi, sedangkan naskah Ryoo kerap menyelipkan one liners bernada perjuangan yang sukses membakar hati. Pada titik ini kita telah terkoneksi dengan para tokohnya, alhasil mendapati usaha mati-matian mereka, bahu-membahu bertaruh nyawa demi keselamatan bersama memunculkan dampak emosional yang tak pernah putus sepanjang klimaks bergulir. One of the most epic action sequence in years. The Battleship Island sendiri adalah blockbuster modern sempurna. 

CARS 3 (2017)

Dari semua rilisan Pixar, Cars termasuk salah satu yang paling ditujukan bagi pangsa penonton junior (baca: menjual merchandise). Itu sebabnya dua film pertama kerap jadi kambing hitam. Padahal, andai bersedia menilik lagi, Cars punya konsep pintar soal penerapan kultur serta tetek bengek mobil pada kehidupan manusia, sementara Cars 2 cukup menghibur selaku homage terhadap spionase 70an. Bukan tontonan mengharukan merupakan "kesalahan", satu anggapan yang sejatinya kurang tepat apalagi mengingat Cars adalah animasi anak. Sampai tiba babak pamungkas trilogi, kala Pixar terjebak antara membuat tontonan bocah atau coba memberi sentuhan pendewasaan.

"Kami ingin tetap meraup keuntungan hasil penjualan merchandise, tapi merasa wajib menjaga reputasi menghasilkan karya berbobot", mungkin begitu pikir para petinggi Pixar. Jadilah Cars 3 menyoroti Lightning McQueen (Owen Wilson) si legenda kejuaraan balap Piston yang kini mulai meredup, dikalahkan mobil-mobil muda yang jauh lebih prima. Tidak keliru, malah sesuai jalur natural perkembangan sang protagonis. Lalu hadir Cruz Ramirez (Cristela Alonzo), mobil wanita muda yang awalnya bertugas melatih McQueen, sebelum terungkap ia memiliki mimpi masa lalu yang gagal terwujud, membawa kisah trilogi ini full circle, kembali ke awal segalanya, melengkapi perjalanan tokoh utama.
Butuh waktu lama untuk filmnya mencapai poin utama penceritaan. Terlalu lama malah. Sebelum akhirnya membawa McQueen pada kesadaran bahwa kelemahan fisik akibat usia bisa diatasi oleh kecerdikan hasil tempaan pengalaman, naskah ciptaan trio Kiel Murray, Bob Peterson, dan Mike Rich mondar-mandir menyoroti hal-hal yang kurang mendukung proses belajar McQueen. Latihan di tepi pantai, keikutsertaan dalam demolition derby (salah satu sekuen paling menarik) jadi sekedar selingan. Benar beberapa berguna membangun penokohan Cruz, tapi berujung mengorbankan kesolidan proses McQueen. Saat tiba waktunya McQueen disorot, film telah melewati separuh durasi, menghasilkan paruh kedua yang dipenuhi beragam progres instan nan penuh sesak. 

Balik soal tujuan filmnya, apa yang dapat dinikmati penonton anak? Terselip tuturan gender yang cukup bermakna, namun untuk kisah McQueen sendiri, bukan lagi coming-of-age, melainkan growing old. Lebih tepat dilontarkan bagi kalangan dewasa kecuali anda berniat memberi pelajaran "saat kamu tua nanti, sadari kelemahanmu, berikan tongkat estafet pada yang lebih muda". Pula teknis visual yang cenderung fokus menghadirkan genangan air, pepohonan, atau gundukan tanah hyper realistic daripada gempuran keceriaan warna-warni yang bakal lebih selaras dengan dunia mobil imajinatif filmnya. Bocah takkan peduli pemandangan demikian. Setidaknya beberapa humor cukup menggelitik.
Bolehkah menciptakan animasi berkonten dewasa teruntuk penonton dewasa? Jelas boleh. Pixar khususnya, telah berulang kali sukses melakukannya (Up and Inside Out are among the best animated movies for adult). Namun Cars bukan sarana tepat. Cars adalah luapan tingkat tinggi meracik dunia imajiner alih-alih media paparan kontemplasi yang sepenuhnya mencuri kemeriahan daya imajinasi itu. Dan kalau mau menyentuh ranah dewasa yang lebih cerdas, mengapa Jackson Storm (Armie Hammer) tetap dijadikan sosok klise antagonis "hitam"? Perseteruan kontras hitam melawan putih tidak sesuai usaha tampil dewasa dan pintar. This is a sport competition. There's no need to makes it a battle between good and evil unless it's for children

Sebagaimana McQueen tak lagi menjadikan balapan aktivitas menggembirakan, Cars 3 ikut mengesampingkan kemasan momen balapan menarik yang bagai dikerjakan setengah hati, asal menyuguhkan mobil melaju sampai garis finish. Kecuali demolition derby, adu kecepatan mobil lainnya berlalu minim impresi Terkait fokus ke arah drama, tiada pula film ini menyimpan kekuatan rasa. Meski peristiwa kecelakaan McQueen di awal cukup mencengkeram hati, sisanya hanya kekosongan drama kontemplasi yang disajikan setengah matang. Cars 3 jadi usaha Pixar memaksakan diri menjaga reputasi sebagai studio penghasil animasi dengan cerita pintar sekaligus penuh emosi penyentuh ragam sendi kehidupan. Terlalu dewasa bagi anak, terlalu di permukaan bagi penonton dewasa pencari makna mendalam, terlalu membosankan bagi pencari hiburan seru. Diperuntukkan bagi siapa Cars 3?

ATOMIC BLONDE (2017)

Atomic Blonde digadang-gadang bakal menjadi John Wick versi wanita. Wajar, mengingat filmnya dibuat oleh David Leitch selaku salah satu sutradara film tersebut. Pun trailer-nya yang menampilkan ketangguhan Charlize Theron menghajar habis sederet musuh sembari diiringi kombinasi lagu Blue Monday, Personal Jesus, dan Black Skinhead memancing kesan serupa. Sehingga mengejutkan tatkala produk akhirnya berupa cold war espionage di mana nuansa dingin, percakapan penuh kecurigaan, aktivitas sadap menyadap, atau investigasi bukti tersembunyi, lebih mendominasi ketimbang baku hantam. This isn't "the next John Wick", this is "John Wick meets Tinker Tailor Soldier Spy".

Berlatar detik-detik menuju keruntuhan Tembok Berlin pada 1989, Lorraine Broughton (Charlize Theron), seorang agen MI6, diberi tugas merebut daftar nama-nama agen di Soviet. Daftar tersebut sejatinya dipegang oleh agen MI6 lain, James Gasciogne (Sam Hargrave), namun James terbunuh, dan daftar itu jatuh ke tangan agen KGB. Konon ada keterlibatan agen ganda bernama Satchel yang berkhianat serta sudah bertahun-tahun menyuplai informasi ke Soviet. Seiring memanasnya konflik dua sisi Jerman, Lorraine, dibantu oleh kontaknya di Berlin, David Percival (James McAvoy), mesti secepat mungkin mengungkap jati diri Satchel.
Pemilihan setting menjelang reunifikasi Jerman menguatkan kesan bahwa di tengah peristiwa bersejarah pencuri sorotan dunia nyatanya terjadi pula hal dengan urgensi tak kalah besar nan menentukan tanpa diketahui banyak pihak. Bahkan mereka yang terlibat pun urung memahami kebenarannya. Tuturan spionase memang penuh rahasia. Tidak semua dapat dipercaya, berpotensi saling tikam dari belakang. Terpancar jelas saat Lorraine dinterogasi (alurnya bergerak bolak-balik antara interogasi dan misi Berlin) oleh atasannya, Eric Gray (Toby Jones) dan agen CIA, Emmett Kurzfeld (John Goodman). Siapa jujur, siapa sepenuhnya beraksi demi negara, siapa membawa kepentingan lain, semua misteri. 

Dan merangkai fakta sesungguhnya bukan perkara mudah, baik bagi para tokoh maupun penonton. Sebagaimana umumnya cold war espionage, Kurt Johnstad melalui naskah hasil adaptasi novel grafis The Coldest City karya Sam Hart, enggan gamblang menjelaskan jawaban. Apa yang dicari kemudian didapat, arti sebuah temuan, sampai kejutan-kejutan, ditebar bagai keping puzzle yang harus penonton rangkai sendiri. Rumit. Perlu ketelitian. Sedikit terlewat, rasanya seperti diperlihatkan sesuatu yang kita tak merasa tengah mencarinya. Namun juga menantang. Atomic Blonde layaknya ujian sulit yang makin memuaskan begitu mampu memecahkan persoalannya. 
Masalah terletak di kemampuan David Leitch bercerita. Sang sutradara tersesat dalam benang kusut yang ciptaan sendiri. Beragam momen memunculkan kerumitan tak perlu, mengalir kasar akibat lebih mementingkan gaya berupa gambar memikat berhias neon aneka warna. Lain halnya eksekusi aksi. Walau tidak seberapa sering, sekalinya hadir, keindahan koreografi bela diri brutal ditemani hentakan soundtrack era (mostly) 80an tampil mengesankan. Not as atomic as its trailer but still a hard-hitting action. Puncaknya long take beberapa menit kala Lorraine berdarah-darah membabat lawan, entah dengan tangan kosong, pistol atau perkakas. Kemampuan Leitch dan sinematografer Jonathan Sela menata gerak dinamis kamera di antara koreografi perkelahian kompleks dalam ruang sempit (tangga, mobil) layak diganjar riuh tepuk tangan.

Charlize Theron mendefinisikan "badass action hero". Khusus untuk long take di atas, bukan saja pamer kehebatan melakoni bela diri sendiri, Theron membuat adegan itu meyakinkan berkat ketepatan ekspresi kelelahan dan rasa sakit. Secara bertahap kita dapat melihat Lorraine yang awalnya tangkas semakin kepayahan seiring bertambahnya lawan juga luka tubuhnya. Di samping ketangkasan aksi, Theron bagaikan magnet super kuat dengan penuturan kalimat dingin, tatapan tajam nihil keraguan, sampai hisapan rokok penuh kepercayaan diri. Ketika orang lain dibayangi ketidaktahuan, Lorraine menonjol, tampak mengerti segalanya, bisa melakukan apa saja, seolah dunia ada dalam genggamannya.


Review Atomic Blonde juga tersedia di tautan ini 

THE UNDERDOGS (2017)

The Underdogs adalah film tentang ambisi para remaja meraih kesuksesan sebagai Youtubers sekaligus menampilkan Young Lex. Sederhananya, film ini mudah dibenci bahkan oleh mereka yang tidak atau belum menonton. Walau tidak seluruhnya, saya pribadi terkadang menyimpan sentimen negatif terhadap obsesi generasi masa kini mengejar popularitas melalui kanal yang katanya lebih dari televisi ini. Dangkal. Begitu pikir saya. Sampai The Underdogs datang, menyadarkan justru keengganan saya (atau mungkin kita) menilik dari perspektif lain lah yang dangkal. 

Empat sekawan, Ellie (Sheryl Sheinafia), Dio (Brandon Salim), Bobi (Jeff Smith), dan Nanoy (Babe Cabita) merupakan korban bullying, dianggap pecundang di sekolah. Kondisi itu bertahan hingga lulus. Keinginan memperbaiki nasib terjawab pasca melihat kesuksesan S.O.L: Sandro X (Ernest Prakasa), Oscar (Young Lex), dan Lola (Han Yoo Ra), trio Youtubers yang sukses berkat video rap mereka. Terinspirasi, keempat protagonis kita mengikuti jalur serupa, membentuk channel rap memakai nama The Underdogs sambil berharap mengubah nasib di tengah beragam deraan masalah pribadi termasuk keluarga.
Naskah garapan Alitt Susanto bersama Bene Dion Rajagukguk memegang kunci. Saya (atau lagi-lagi, mungkin kita) terbiasa menganggap jajaran Youtubers terdiri atas sosok-sosok haus atensi berotak dangkal yang besar kepala pasca keberhasilan direnggut. Naskah The Underground menjelaskan betapa banyak dorongan lain. Ellie dengan pertengkaran sehari-hari orang tuanya, Bobi yang dipaksa melanjutkan pabrik tahu sang ayah atau Dio yang selalu diragukan ibunya akibat belum dianggap dewasa. Motivasi tersebut bukan saja simpatik, juga relatable. Poinnya, bisa jadi di luar sana, ada Youtubers berangkat dari alasan serupa yang terlanjur menghadapi hujatan akibat publik ogah lebih mencari tahu. 

Alurnya bergerak tak hanya rapi, pun ikut mendukung keterikatan akan karakter. Contohnya waktu Bobi menyulut perpecahan begitu The Underdogs mencapai ketenaran. Enggan berlarut-larut, sutradara Adink Liwutang secara cepat nan tepat seketika menggiring penonton menuju pemahaman tentang persoalan pribadi Bobi, menghalangi kesempatan penonton kesal kepadanya. Walau cukup disayangkan, perjalanan ke arah resolusi mengenai konflik keluarga agak terburu-buru sekaligus menggampangkan, seolah tanpa proses. Pengorbanan yang dilakukan demi memfasilitasi penyelesaian masalah lain, sebutlah persahabatan. Lalu pada konteks lebih luas terkait kultur internet, The Underdogs turut menyampaikan bagaimana media sosial dapat luar biasa bermanfaat andai dimanfaatkan tepat.
Komedinya memang bukan berisi humor yang mampu menancap di benak penonton lama seusai film berakhir, tetapi berhasil tampil konsisten. Meski hadir beruntun, gelontoran banyolan The Underdogs rutin memancing tawa atau setidaknya senyum lebar. Parodi brand atau program di sana-sini sampai nasib buruk tanpa ujung yang menimpa Babe Cabita (sekali lagi ia jago memerankan penderita kesialan akut) lebih dari cukup menjalin hiburan. Pun mencuri perhatian yakni Sheryl Sheinafia lewat banyak pembawaan deadpan hingga Dodit Mulyanto yang hobi dirapikan rambutnya sembari sesekali berkata "asu kowe". Young Lex? Well, he's just chilling out here and there.

Mengangkat kisah Youtubers yang memilih jalur video rap, sudah barang tentu The Underdogs diisi sederet nomor yang cukup menghibur telinga, khususnya lagu berlirik jenaka milik The Underdogs. Adink Liwutang tidak ketinggalan memasukkan visualisasi selaku (ceritanya) video klip lagu-lagu tersebut, menjadikan filmnya paket lengkap mengenai Youtube. Walau masih dibarengi kekurangan-kekurangan, The Underdogs di luar dugaan lebih dari menghibur, juga sanggup memancing agar bersedia menyikapi fenomena Youtubers dari sudut pandang lain yang pastinya lebih positif.


Review The Underdogs dapat dibaca juga di tautan ini 

A: AKU, BENCI, DAN CINTA (2017)


Perbedaan tipis benci dan cinta, gangguan-gangguan mengesalkan yang ternyata bentuk ekspresi malu-malu atas perasaan suka, tentu kita familiar dengan rupa-rupa gejolak asmara kawula muda semasa SMA di atas. Dalam A: Aku, Benci, dan Cinta, kondisi serupa dialami Anggia (Indah Permatasari) dan Alvaro (Jefri Nichol). Anggia setengah mati membenci Alvaro, cowok paling populer di sekolah sekaligus ketua OSIS dengan Anggia sebagai wakilnya. Baginya Alvaro tak berotak maupun hati, hanya playboy bermodal tampang penggoda belasan cewek naif yang telah menjadi korbannya. Apalagi, Alvaro kerap sengaja memancing amarah Anggia.


Polanya bisa ditebak. Alvaro sejatinya menyimpan cinta, begitu pula Anggia yang akhirnya luluh juga. Keduanya hanya terlalu ragu atau gengsi mengakui apalagi mengungkapkan isi hati. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Alvaro menyimpan rahasia tentang persahabatan dengan Alex (Brandon Salim) dan Athala (Amanda Rawles), bagaimana tiga sahabat itu terpecah akibat cinta segitiga, serta kondisi Athala yang telah beberapa lama koma di rumah sakit. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Wulanfadi, debut penyutradaraan Rizki Balki ini mengandung setumpuk potensi pembeda bila dibandingkan mayoritas romansa putih abu-abu. 
Komedinya segar. Dasar ide dari naskah buatan Alim Sudio (Surga Yang Tak Dirindukan 2, Jilbab Traveler, Pesantren Impian) mampu diwujudkan oleh Rizki Balki menjadi serangkaian sempilan momen absurd hasil imajinasi karakternya, misal saat Anggia dikuasai rasa malu sampai ingin loncat dari atap sekolah. Didukung pula kebolehan Indah Permatasari memerankan cewek galak cenderung kasar yang jangankan marah sambil berteriak, bogem mentah pun tidak ragu dia lemparkan. She could be our future romcom queen. Para pembuatnya sadar betul keunggulan sisi komedik filmnya, menumpahkannya sebanyak mungkin, yang saking efektifnya, kerap mendistraksi aspek dramatik.

A: Aku, Benci, Dan Cinta seolah bingung menentukan waktu pula cara untuk tampil serius. Bahkan penjelasan sebab Athala koma pun berujung kelucuan disengaja yang seharusnya tak perlu ada. Tensi pertikaian mengenai cinta segitiga yang dua kali menimpa Alvaro dan Alex urung mencapai titik maksimal, khususnya karena persahabatan yang telah berlangsung lama pun konon demikian solid itu tak pernah terasa meyakinkan. Konflik Alvaro-Alex-Athala dan kisah Alvaro-Anggia yang akhirnya bersinggungan bagai dua gagasan yang saling bertabrakan mencuri fokus tanpa sanggup membaur bersinergi. 
Begitu juga paparan percintaan. Walau diberkahi insting humor mumpuni, Rizki Balki kurang cakap merangkai sisi manis romantisme remaja. Lihat ketika Alvaro dan Anggia berduet menyanyikan lagu ciptaan berdua (Alvaro membuat melodi dari puisi Anggia). Mixing jernih ala suara CD mengundang kesan artificial, menghilangkan ungkapan emosi, melemahkan momentum. Segala interaksi protagonis bakal berlalu tak berbekas andai tiada Indah Permatasari dan Jefri Nichol di jajaran lead. Bersenjatakan jangkauan emosi semakin luas dibandingkan performanya pada Dear Nathan, Jefri makin piawai memainkan sosok berandalan dengan tingkah seenaknya, tapi punya pesona kuat guna menggaet hati baik karakter lain atau penonton. 

A: Aku, Benci, Dan Cinta merupakan komedi romantis masa SMA yang lebih ampuh menggelakkan tawa daripada memancing gejolak rasa manis asmara. Toh cukup mengasyikkan dikonsumsi sebagai hiburan ringan. Di sisi lain turut memberi panggung bagi Indah Permatasari dan Jefri Nichol menunjukkan kapasitas mereka lebih jauh. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan, Jefri Nichol akan kokoh jadi raja film SMA yang selalu memancing jerit histeris penonton remaja. Sementara Indah Permatasari membuktikan bahwa ia perlu mendapat pengakuan, layak dipercayakan memikul beban pemeran utama. 

FRANTZ (2016)

Frantz punya setting tahun 1919 alias setahun pasca Perang Dunia I berakhir, merupakan adaptasi bebas dari naskah teater L'homme que j'ai tué karya Maurice Rostand pula versi Bahasa Inggrisnya yang masing-masing dipentaskan pada 1930 dan 1931, pula sebuah remake "tidak sengaja" untuk film rilisan 1932, Broken Lullaby   François Ozon tak menyadari eksistensi film karya Ernst Lubitsch itu kala membuat Frantz   yang dibuat berdasarkan dua pertunjukan tersebut. Singkatnya, film ini adalah kisah dari masa lampau. Biar demikian, jarak puluhan tahun rupanya bukan jurang pemisah. Frantz justru mewakili kondisi mencemaskan kala xenophobia menguasai masyarakat dunia sekarang. 

Quedinburg, Jerman, 1919. Anna (Paula Beer) kehilangan tunangannya, Frantz (Anton von Lucke) di medan perang. Kini ia tinggal di rumah kedua orang tua Frantz, bersama-sama coba beranjak dari duka. Sampai datang Adrien (Pierre Niney), mantan prajurit Prancis yang mengaku sebagai sahabat Frantz dari Paris. Adrien rutin meninggalkan bunga di makam Frantz lalu mengunjungi rumah keluarganya. Walau ayah Frantz, Doktor Hoffmeister (Ernst Stötzner) membenci dirinya   sebagaimana banyak orang tua di Jerman yang merasa orang Prancis membunuh putera mereka di peperangan   tidak demikian dengan sang ibu, Magda (Marie Gruber) dan Anna yang menyambut Adrien ramah, mengundangnya ke rumah.
Sikap awal Hoffmeister, kemudian tindak protes rekan-rekannya di bar kala mendapati sang Doktor mulai melunak pada Adrien, meski berkonteks Perang Dunia I, nyatanya begitu dekat di kondisi sosial masyarakat kini. Kedekatan berbuah ikatan rasa menyaksikan ragam peristiwa itu muncul, sebab seperti kita tahu, kebencian atas "antek asing" tengah menyerang seluruh dunia (berlandaskan agama di Indonesia, white supremacy di Amerika, dan lain-lain). Melalui naskahnya, Ozon dan Philippe Piazzo mengangkat sisi kemanusiaan berlandaskan kenangan serta hubungan para tokoh dengan Frantz. 

Membicarakan humanisme terkait peperangan otomatis mencuatkan rasa anti-war yang dalam film ini diposisikan lembut melatari sikap karakter. Ozon tak lantang apalagi agresif menentang perang, tapi diajaknya penonton memahami, merenungkan perspektif lain. Contoh terbaik terletak pada monolog Doktor Hoffmeister mengenai ironi selebrasi kemenangan perang di antara setumpuk kematian. Bagi Ozon, tidak peduli meski terjadi saat perang, kematian tetap kematian, menghadirkan kehilangan dan duka bagi yang ditinggalkan, bukan elu-elu heroisme didasari semangat nasionalisme. Mewakili gagasan ini adalah kerapnya lukisan Le Suicidé karya Edouard Manet diperbincangkan. Oleh Manet, lukisan tersebut jadi luapan ekspresi bahwa kematian di karya seni tak melulu tentang pengorbanan atau heroisme. Kematian adalah kematian.
Itu pula tujuan dua momen saat Adrien mendengar warga Jerman menyanyikan Deutschlandlied, sementara Anna di Prancis terjebak di tengah semangat rakyat sekitar mengumandangkan La Marseillaise. Lagu kebangsaan ketika/pasca perang biasanya menghadirkan gemuruh rasa perjuangan kental nasionalisme. Namun di sini justru kecanggungan bercampur kepedihan yang terasa. Bayangkan anda menjadi Adriane, terluka akibat perang, mendengar bait "Germany above all, Above all in the world", atau sebagai Anna, mendapati "The roar of those ferocious soldiers. They're coming right into your arms. To cut the throats of your sons, your women" dinyanyikan setelah kekasih tercintanya meregang nyawa akibat desing peluru. Dan keduanya mengalami itu di tempat di mana mereka dipandang penuh kebencian akibat status kewarganegaraan. 

Turut bicara soal white lie membawa Frantz pada serangkaian kejutan mengenai rahasia para tokoh, khususnya yang ditutupi oleh kebohongan mereka. Takkan jadi rahasia mengejutkan apabila anda jeli memperhatikan gerak-gerik karakter. Namun toh sajian twisty bukan tujuan utama François Ozon, melainkan drama seputar jiwa-jiwa yang mencari kedamaian, berusaha melangkah pergi dari kekangan duka masa lalu. Frantz tersaji melankolis, bergaya visual hitam-putih yang sesekali jadi berwarna tatkala flashback, atau tepatnya saat kebahagiaan hasil memori indah tentang sosok tercinta merasuki karakternya. Pula kisah saling menguatkan antar manusia guna menghilangkan pilu hingga tendensi bunuh diri yang dirangkai lembut nan elegan, sebagaimana sinematografer Pascal Marti perlahan menggerakkan kameranya. 

BAD GENIUS (2017)

Mengerjakan soal ujian adalah aktivitas melelahkan nan memusingkan, tapi jika ditambah menyontek, tercipta suasana yang sama sekali berbeda. Keringat dingin hasil ketegangan menentukan timing presisi, kekhawatiran jika pengawas memergoki, semua tumpah ruah. Terinspirasi dari kasus kecurangan tes SAT di Cina, Bad Genius selaku persembahan terbaru GDH 559 dengan Nattawut Poonpiriya (Countdown) duduk di kursi penyutradaraan, mampu menyulap aktivitas tersebut jadi suguhan heist intens, membuat karakter-karakter siswa SMA bagai kelompok pencuri ulung bawahan Danny Ocean. Bedanya, bukan brankas berisi ratusan juta dollar yang diincar, melainkan jawaban ujian.

Lynn (Chutimon Chuengcharoensukying) merupakan siswa teladan bernilai akademik sempurna plus beragam prestasi lain, menjadikannya bisa diterima di suatu sekolah prestisius sekaligus menerima beasiswa yang meringankan beban ekonomi sang ayah (Thaneth Warakulnukroh). Di sekolah, Lynn berteman dengan Grace (Eisaya Hosuwan) yang tidak sepertinya, jauh dari definisi jenius. Ketika datang saat ujian, mendapati sahabatnya kesulitan ditambah kegeraman atas praktik "bagi-bagi soal" sang guru memutuskan memberi contekan. Terjadi di ruang kelas biasa pula hanya melibatkan sepatu dan penghapus, momen sederhana  yang mungkin banyak dari kita pernah lakukan  ini memperlihatkan kapasitas Nattawut merangkai intensitas sekaligus gaya lewat pemanfaatan slow motion, iringan musik klasik, juga perpindahan gambar taktis.
Keputusan membantu teman itu tanpa Lynn duga bakal berbuntut panjang, berujung tindak menyontek masif nan terstruktur berkedok les piano yang melibatkan puluhan siswa, setumpuk uang, dan metode kreatif. Apakah metodenya terlalu rumit? Bisa jadi, namun tanpanya takkan hadir keasyikkan ala heist, di mana semakin kompleks, (biasanya) semakin seru. Dan naskah karya Nattawut bersama Tanida Hantaweewatana dan Vasudhorn Piyaromna telah menyiapkan beragam teknik menyontek yang bakal mendorong penonton terperangah sebab hanya akan terpikir oleh orang sejenius (dan senekat) Lynn. Puncaknya adalah tes STIC yang skalanya tereskalasi sampai taraf internasional sembari menambahkan satu lagi tokoh siswa jenius bernama Bank (Chanon Santinatornkul). Berbeda dengan Lynn, walau sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu (bentuk eksplorasi film atas kondisi sosial masyarakat Thailand), Bank menjunjung tinggi kejujuran.

Third act yang membentang sejak perencanaan sampai eksekusi dipacu cepat oleh Nattawut sambil tetap konsisten memacu ketegangan dilengkapi beragam kekhasan heist sebutlah kejutan hingga konflik pengkhianatan. Duduk diam terpaku, mencengkeram pegangan kursi, atau menggigit kuku sampai kandas jadi aktivitas wajar kala menyaksikan Lynn dan kawan-kawan menjalankan aksi nekat mereka. Mencapai titik puncak memang terkesan terlampau banyak permasalahan bertubi-tubi menghalangi jalannya rencana, tetapi kemasan dinamis Nattawut menjaga filmnya urung keluar jalur dan tidak berlarut-larut. Setumpuk persoalan itu berujung bumbu penyedap penambah intensitas yang cepat datang kemudian pergi, secepat penyuntingan yang dilakukan Chonlasit Upanikkit sebagai editor. 
Bad Genius turut bertindak selaku kritik terhadap sistem pendidikan yang tak hanya bisa diaplikasikan di Thailand, juga seluruh dunia. Para penyedia edukasi yang konon menjunjung tinggi kejujuran lewat tindakan mengecam kegiatan saling contek siswa yang kerap terjadi didorong asas kesetiakawanan tapi justru melakukan kecurangan jauh lebih besar tau boleh dibilang lebih terkutuk diberi sindiran. Meski halus, sindiran itu amat menampar, menghasilkan ambiguitas moral mengiringi perjalanan karakternya menyadari kebusukan dunia sekitar yang turut selaras dengan tone film, di mana paruh awal kental rasa high school drama penuh kehangatan canda pertemanan, lalu bergerak makin serius (meski tak menjurus kelam) mencapai akhir. 

Membicarakan soal moral value mempengaruhi pilihan konklusi yang sejatinya agak kurang mewakili semangat film heist. Namun bisa dimaklumi mengingat salah satu tujuan Bad Genius adalah mengkritisi tindak kecurangan dunia pendidikan. Menekankan pada nilai moral alih-alih glorifikasi atas kriminalitas wajar dilakukan, lagi pula naskahnya memastikan resolusi tersebut menjadi proses natural karakternya. Bad Genius juga diperkuat penampilan apik jajaran pemain mulai Chutimon Chuengcharoensukying melalui kejeniusan meyakinkan dalam tiap tuturan verbal maupun non-verbal penuh kalkulasi, Eisaya Hosuwan dengan mata bulat berbinar yang menyiratkan bahwa Grace hanya remaja baik-baik yang terhimpit keadaan, sampai kontribusi kekuatan dramatik oleh Thaneth Warakulnukroh. Bad Genius is a nail-bitting, stylish heist that you should watch 


Review Bad Genius juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_126Mj

RAFATHAR (2017)

Karya Umbara Bersaudara senantiasa kaya ambisi. Berkiblat pada blockbuster Hollywood, tercipta deretan alur fantastik walau kerap memaksakan pun kurang masuk akal, visual bergaya keren walau sering melupakan substansi, hingga kuantitas pemakaian CGI tinggi meski kadang urung dibarengi kualitas. Selalu muncul kata "tapi" dan tidak jarang hasil akhirnya memecah penonton menjadi dua kubu, biar demikian, keberanian memasuki area yang jarang disentuh sineas tanah air jelas layak diapresiasi. Sekilas Rafathar bagai sekedar usaha Raffi Ahmad memanfaatkan rasa gemas publik akan puteranya yang baru dua tahun, namun bisa juga dipandang selaku angin segar, karena sejauh ini belum ada film Indonesia bertema petualangan dengan tokoh utama bayi.

Cerita high concept khas Umbara Bersaudara langsung nampak sejak adegan pembuka kala Profesor Bagyo (Henky Solaiman) kabur dari suatu laboratorium canggih. Di waktu bersamaan, Jonny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) tengah melancarkan aksi perampokan. Akibat kebetulan bercampur kekonyolan, dua peristiwa ini saling bersinggungan, memberi kesempatan Profesor Bagyo meninggalkan Rafathar (Rafathar Malik Ahmad) di depan pintu aktris sinetron asal Malaysia, Mila (Nur Fazura). Bagi Mila beserta sang suami, Bondan (Arie Untung), kemunculan Rafathar adalah anugerah setelah bertahun-tahun pernikahan tanpa dikaruniai anak, tanpa tahu bahwa Rafathar bukanlah bayi biasa.
Kemudian kisah menyoroti Jonny dan Popo menjalankan misi dari Bos Viktor (Agus Kuncoro) untuk menculik Rafathar. Pada paruh ini filmnya mengusung pola serupa Baby's Day Out, di mana dua penculik minim kompetensi dibuat kerepotan oleh seorang bayi. Bedanya, si bayi bukan dinaungi keberuntungan melainkan punya kekuatan besi berani. Jadilah banyolan berupa Jonny dan Popo dihujani segala macam perabot mendominasi. Walau sentuhan slapstick-nya tak sampai memancing tawa menggelegar, keputusan sutradara Bounty Umbara memanfaatkan CGI demi menambah kadar "siksaan" terhadap duo penculik bodoh itu agak menolong. Setidaknya timbul kegilaan pemancing senyum.

Di luar unsur slapstickRafathar sebagai komedi masih cukup menghibur. Materi dari naskah buatan Bounty Umbara bersama Bene Dion Rajagukguk sebenarnya tergolong hit-and-miss, tapi tiap kali kena sasaran, tawa sejenak dapat hadir termasuk berkat sokongan para pemain. Sewaktu Raffi Ahmad lebih banyak berteriak-teriak atau menggerutu tak lucu meski secara mengejutkan lumayan baik di satu momen dramatik, Babe Cabita sebagai karakter yang setipe dengan seluruh peran di karir keaktorannya sesekali menyegarkan suasana. Demikian pula gaya hiperbolis Agus Kuncoro sebagai penjahat multi logat.
Masalahnya, persentase hit-and-miss komedinya setara, sehingga tatkala humor gagal mengena, praktis Rafathar kehabisan daya. Bagi film komedi keberadaan plot kuat bukan kebutuhan utama, namun lain cerita ketika dua per tiga durasi nyaris kosong melompong, semata-mata mengandalkan lelucon yang tidak selalu berhasil. Sebaliknya, menjelang akhir mendadak setumpuk poin alur ditumpahkan, termasuk konspirasi bertaraf internasional ditambah sederet kejutan yang seluruhnya menggelikan karena sulit diterima nalar. Film ini bertutur soal bayi mutan, membuatnya sah jika diisi aspek yang melawan logika andai diiringi kesadaran atas kebodohan miliknya daripada semata-mata bentuk pemaksaan hasrat supaya terlihat keren. 

Kualitas CGI-nya terhitung lumayan sampai tiba klimaks pertarungan Rafathar melawan robot kulkas dan ATM, saat acap kali susah mencerna apa yang tengah berlangsung akibat CGI kasar. Belum lagi penonton hanya disuguhi tiga robot (yang katanya) senjata perang kelas satu bergerak secara canggung, saling tabrak, saling lempar, bagai minim usaha memberi sentuhan estetika dalam koreografi pertempuran. Sekali lagi film ini patut diapresiasi karena mengusung konsep yang belum dijamah film tanah air, meski soal kualitas, Rafathar adalah ambisi tinggi yang amat lemah dieksekusi. Paling tidak Rafathar Malik Ahmad masih bocah dua tahun super menggemaskan.


Review Rafathar juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_PXdL