YOUR NAME (2016)

Cinta adalah misteri. Ketika semesta merestui maka takdir mempertemukan dua insan, meleburkan keduanya menjadi satu, menghilangkan identitas "aku" dan "kamu", berganti dengan "kita". Setidaknya itulah yang disuarakan Makoto Shinkai ("5 Centimeters Per Second", "The Garden of Words") dalam "Your Name" a.k.a. "Kimi no Na Wa" yang ia sutradarai dan tulis naskahnya selaku adaptasi novel berjudul sama karyanya sendiri. Berhasil memuncaki Box Office Jepang selama 12 minggu (sembilan di antaranya diraih berturut-turut), "Your Name" merupakan suguhan langka tatkala otak dan hati penonton sama-sama dipacu.

Sebuah benda yang nantinya  lewat twist mengejutkan sekaligus meremukkan hati  diketahui sebagai komet yang melintas 1.200 tahun sekali jatuh menembus awan di adegan pembuka. Lalu bergantian kita diperkenalkan pada dua protagonis, Mitsuha dan Taki. Mitsuha tinggal di kota kecil nan sunyi bernama Itomori, hidup menjalankan tradisi setempat. Sedangkan Taki adalah remaja Tokyo yang gemar nongkrong di cafe bersama teman sekolahnya serta bekerja paruh waktu di sebuah restoran Italia. Secara misterius, keduanya kerap bertukar tubuh selepas bangun tidur, terpaksa menjalani keseharian masing-masing, berkomunikasi melalui catatan di handphone, sampai timbul ketertarikan dan keinginan untuk saling bertemu.
Konsep percintaan menembus ruang dan waktu sejatinya bukan hal baru, namun kepintaran Makoto Shinkai menjalin cerita jadi pembeda. Ketimbang fiksi ilmiah, "Your Name" condong ke arah fantasi, membuat penjelasan berdasarkan logika sains tentang fenomena pertukaran tubuh tersebut takkan kita temui. Tapi kepintaran Shinkai mengawinkan imajinasi dengan mitos (keajaiban komet, kemistisan senja) telah cukup sebagai pondasi, memberi jawaban yang meski kurang masuk akal tetapi memuaskan (this is fantasy afterall). Cermat pula cara Shinkai menebar petunjuk di berbagai sudut narasi yang strukturnya ia bolak-balik, memancing penonton memutar otak mengarungi kegiatan memecahkan teka-teki.
Namun "Your Name" bukan sajian high concept "dingin" yang berusaha sok pintar. Seperti manusia yang dianugerahi akal dan perasaan, Makoto Shinkai turut menekankan penggalian rasa lewat balutan metafora mengenai pemaknaan cinta. Berbagai fenomena aneh di sekitar Mitsuha dan Taki punya kaitan mendalam akan dinamika drama romantika. Ada pencarian cinta, proses saling mengenal untuk kemudian mengisi, sampai sisi bawah sadar yang kerap mengundang tanya dalam batin tiap orang: "Siapa dia? Kenapa aku mencintainya?", dan lain-lain. Timbul kehangatan saat bersamaan dengan tertukarnya tubuh Mitsuha dan Taki, mereka sama-sama menyokong, membantu kehidupan satu sama lain, membawa ke arah lebih baik. Ya, sebagaimana semestinya esensi dari ekspresi rasa cinta.

Seiring kedua protagonis makin mengenal, makin terikat kuat, saya pun terbuai, bersimpati, mencintai mereka berdua. Alhasil begitu twist di pertengahan menghentak, hati rasanya ikut teriris-iris. Setelahnya, Shinkai tanpa henti mengaduk-aduk emosi berkat perpaduan tepat antara drama dan komedi. Sewaktu dramanya mencuatkan keindahan mengharukan soal cinta, humor berbasis body swap-nya konsisten memancing tawa (that boobs-grabbing-joke is the best one). Alih-alih inkonsistensi tone, ketepatan timing Shinkai justru menghasilkan keseimbangan berujung kehangatan. Walau tidak sepuitis "The Garden of Words", animasinya tetap solid meramu romantisme senja atau keindahan magis hujan komet. Because love is indeed magical. 

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - SALAWAKU (2016)

Mengambil setting di Kabupaten Seram, Maluku dengan segala keindahan alam termasuk baharinya, “Salawaku” bisa saja berakhir menjadi iklan pariwisata panjang, tapi debut penyutradaraan Pritagita Arianegara ini nyatanya lebih dari sekedar alat promosi guna memancing animo penonton mengunjungi lokasinya. Ada kecermatan membangun interaksi karakter, ada kepiawaian membangun flow penceritaan, ada pula pameran akting memikat. Gambar-gambar eksotis hasil sinematografi Faozan Rizal mungkin bakal memancing minat banyak pihak mendatangi Seram, namun bukan berupa eksploitasi kosong berkat kesesuaian penempatan, substansial dengan guliran kisahnya.

Adegan pembuka memperlihatkan Binaiya (Raihaanun) tengah mendayung perahu seolah tiada tujuan sambil sesekali terdiam, menunjukkan ketakutan dan rasa sakit yang terasa mencengkeram berkat kemampuan sang aktris mencurahkan rasa secara meyakinkan lewat bahasa non-verbal (ekspresi dan gerak tubuh). Filmnya tidak langsung mengungkap apa yang menimpa Binaiya, melainkan diajak melihat sang titular character, Salawaku (Elko Kastanya), adik Binaiya, tengah berkelahi dengan teman sekolahnya karena tidak terima mendengar komentar miring mengenai sang kakak. Kita kemudian tahu bahwa Binaiya menghilang dan Salawaku nekat melakukan pencarian seorang diri menuju Piru, kota yang ia yakini dituju Binaiya.
Namun akhirnya Salawaku tidak sendirian. Ikut bergabung adalah Saras (Karina Salim) yang ditolongnya ketika terdampar di sebuah pulau dan Kawanua (JFlow Matulessy) si kakak angkat. Saras dan Kawanua bukan cuma menemani Salawaku. Keduanya juga menyimpan rahasia, permasalahan personal yang coba dipendam, dan seiring perjalanan ini sama-sama mendapat pelajaran berkaitan dengan permasalahan tersebut. Well, sort of. Iqbal Fadly dan Titien Wattimena selaku penulis naskah sejatinya cermat membangun pondasi karakter, memberi penjelasan masuk akal berkenaan sikap mereka (Saras dan attitude turis ibukotanya, Kawanua dan rahasianya). Tapi tidak soal penjabaran perubahan sikap sebagai dampak pelajaran yang mereka terima sepanjang perjalanan.

Merupakan spoiler bila dipaparkan mendetail. Intinya, saya urung merasakan perubahan tulus. Saras dan Kawanua berubah bak didorong oleh keterpaksaan, akibat tersudutkan situasi ketimbang kesadaran personal. It's not earned. "Salawaku" bagai melupakan esensi road movie tentang proses belajar gradual, kurang menggali proses tersebut dan justru menitikberatkan pada hasil akhir. Kekurangan kekurangan yang sesungguhnya fatal itu tertutupi oleh keberhasilan aspek-aspek lainnya tampil memikat. Di luar kelemahan tersebut, naskahnya baik dalam bertutur, mengungkap perlahan fakta demi fakta, selalu mengungkap poin baru guna mempertahankan daya tarik termasuk beberapa twist mengejutkan. 
Melalui debutnya ini, Pritagita membuktikan kapasitasnya sebagai seorang pencerita ulung tatkala "Salawaku" terhindar dari kesan dragging akibat tempo lambat. Alurnya mengalir lancar nan menghanyutkan hingga akhirnya membuat saya tidak sadar telah menghabiskan waktu hampir 90 menit mengikutinya. Jajaran cast pun berjasa menciptakan satu rangkaian perjalanan mengesankan. Interaksi antara tiga pemeran utama, Karina Salim, JFlow dan Elko Kastanya selalu dinamis, penuh nyawa. Terjalin kehangatan hasil pertukaran kata berbalut emosi, pula kejenakaan penghasil canda tawa. 

Selaku road movie, adalah kewajaran apabila "Salawaku" bergerak dari satu tempat ke tempat lain, menjadikan hadirnya berbagai tempat indah suatu progres natural, bukan paksaan supaya filmnya mendapat jalan sebanyak mungkin mengekspos pemandangan. Paling tidak ada usaha merangkai situasi yang memfasilitasi, sehingga Faozan Rizal tak sekedar memunculkan gambar menawan namun kosong, nihil signifikansi. Sinematografinya sempurna menangkap keindahan panorama, menghadirkan nuansa heavenly (langit, laut, cahaya matahari dan bulan) berkat kehebatan Faozan Rizal memainkan warna, pencahayaan serta sudut pengambilan, menghasilkan film Indonesia paling memikat mata tahun ini.

DAFTAR NOMINASI PIALA MAYA 2016

Mengambil tema "5ELEBRASI", Piala Maya 2016 telah mengumumkan daftar nominasinya pada Rabu, 30 November 2016 lalu. Total ada 31 kategori termasuk kategori baru yakni "Video Musik Terpilih". Film yang dinominasikan adalah film yang dirilis pada November 2015 hingga November 2016. "Athirah" mendominasi dengan 13 nominasi, diikuti oleh "Surat dari Praha" dan "A Copy of My Mind" yang sama-sama meraih 11 nominasi. Bagi saya sendiri, Piala Maya tahun ini terasa spesial karena ulasan saya untuk "Athirah" (dapat dibaca di sini) turut dinominasikan sebagai "Kritik Film Terpilih". Terima kasih untuk Piala Maya atas apresiasinya, juga pada para pembaca yang setia mendukung, memberi saya semangat besar untuk terus menulis sebaik mungkin!

Berikut daftar lengkap nominasi Piala Maya 2016:

KATEGORI TEKNIS FILM PANJANG

FILM CERITA PANJANG / FILM BIOSKOP TERPILIH
A COPY OF MY MIND – Lo-Fi Flicks & CJ Entertainment
ADA APA DENGAN CINTA? 2 – Miles Film, Legacy Pictures & Tanakhir Films
AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA – Film One Production
ATHIRAH – Miles Film
MY STUPID BOSS – Falcon Pictures
SUNYA – Sinema Hari Cipta
SURAT DARI PRAHA – Visinema Pictures, Tinggikan Production, 13 Entertainment
WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1 – Falcon Pictures

SUTRADARA TERPILIH
A COPY OF MY MIND – Joko Anwar
AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA – Herwin Novianto
ATHIRAH – Riri Riza 
SUNYA – Hari Suhariyadi
SURAT DARI PRAHA – Angga Dwimas Sasongko

SKENARIO ASLI TERPILIH
3 SRIKANDI – Swastika Nohara & Iman Brotoseno
A COPY OF MY MIND – Joko Anwar
AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA – Jujur Prananto
SURAT DARI PRAHA – M. Irfan Ramli
TALAK 3 – Bagus Bramanti, Wahana Penulis

SKENARIO ADAPTASI TERPILIH
ADA APA DENGAN CINTA? 2 – Mira Lesmana & Prima Rusdi
ATHIRAH – Salman Aristo, Riri Riza
CATATAN DODOL CALON DOKTER – Ardiansyah Solaiman, Chadijah Siregar
MY STUPID BOSS – Upi
NGENEST – Ernest Prakasa

TATA KAMERA TERPILIH
A COPY OF MY MIND – Ical Tanjung
ADA APA DENGAN CINTA? 2 – Yadi Sugandi
ATHIRAH – Yadi Sugandi
RUDY HABIBIE – Ipung Rachmat Syaiful
SURAT DARI PRAHA – Ivan Anwal Pane

TATA ARTISTIK TERPILIH
3 SRIKANDI – Frans XR Paat 
A COPY OF MY MIND – Windu Arifin 
AACH…AKU JATUH CINTA – Allan Sebastian 
ATHIRAH – Eros Eflin 
SURAT DARI PRAHA – Chupy Kaisuku

TATA MUSIK TERPILIH
ADA APA DENGAN CINTA? 2 – Melly Goeslaw & Anto Hoed 
ATHIRAH – Juang Manyala 
RUDY HABIBIE – Tya Subiakto & Krisna Purna
SABTU BERSAMA BAPAK – Andhika Triyadi 
SURAT DARI PRAHA – Thoersi Argeswara

PENYUNTINGAN GAMBAR TERPILIH
A COPY OF MY MIND – Arifin Cuunk
ADA APA DENGAN CINTA? 2 – W. Ichwandiardono
AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA – Wawan I. Wibowo 
PANTJA SILA: CITA-CITA DAN REALITA – Aline Jusria
SURAT DARI PRAHA – Ahsan Andrian

TATA SUARA TERPILIH
A COPY OF MY MIND – Khikmawan Santosa 
BANGKIT! – Khikmawan Santosa 
COMIC 8: CASINO KINGS PART 2 – Khikmawan Santosa 
RUDY HABIBIE – Khikmawan Santosa & Satrio Budiono 
SURAT DARI PRAHA – Satrio Budiono

TATA EFEK KHUSUS TERPILIH
3 SRIKANDI – Rivai 
BANGKIT! – Raiyan Laksamana 
JUARA – Enspire Studio 
THE DOLL 
WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1 – Epics FX Studios

TATA KOSTUM TERPILIH
AACH… AKU JATUH CINTA – Retno Ratih Damayanti 
ATHIRAH – Chitra Subyakto 
NEGERI VAN ORANJE – Quartini Sari 
RUDY HABIBIE – Retno Ratih Damayanti 
WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1 – Aldie Harra, Upay

TATA RIAS WAJAH & RAMBUT TERPILIH
3 SRIKANDI – Ebah Syebah 
ATHIRAH – Jerry Octavianus 
MY STUPID BOSS – Eba Sheba, Adi Wahono 
RUDY HABIBIE – Darto Unge 
WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1 – Adi Wahono, Tomo

DESAIN POSTER TERPILIH
A COPY OF MY MIND (official theatrical poster)
ATHIRAH (official theatrical poster)
COMIC 8: CASINO KINGS PART 2 
NAY 
WINTER IN TOKYO (official theatrical poster)

LAGU TEMA TERPILIH
3 SRIKANDI “Tundukkan Dunia” – Bunga Citra Lestari – Cipt: Andi Rianto, Arie S.W. 
ADA APA DENGAN CINTA? 2 “Ratusan Purnama” Melly Goeslaw & Marthino Lio – Cipt: Melly Goeslaw & Anto Hoed  
ATHIRAH “Ruang Bahagia” – Endah n Rhesa 
SINGLE “Sementara Sendiri” – Geisha 
SURAT DARI PRAHA “Nyali Terakhir” – Julie Estelle & Tyo Pakusadewo – Cipt: Glenn Fredly


KATEGORI    PEMERANAN

AKTOR UTAMA TERPILIH
Abimana Aryasatya – WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1
Chicco Jerikho – A COPY OF MY MIND
Reza Rahadian – MY STUPID BOSS
Tyo Pakusadewo – SURAT DARI PRAHA
Vino G. Bastian – WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1

AKTRIS UTAMA TERPILIH
Bunga Citra Lestari – MY STUPID BOSS 
Christine Hakim – IBU MAAFKAN AKU
Cut Mini – ATHIRAH 
Laudya Cynthia Bella – AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA
Sha Ine Febriyanti – NAY

AKTOR PENDUKUNG TERPILIH
Adi Kurdi – CATATAN DODOL CALON DOKTER 
Arie Kriting – AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA 
Chew Kinwah – MY STUPID BOSS 
Christoffer Nelwan – ATHIRAH 
Deva Mahenra – SABTU BERSAMA BAPAK

AKTRIS PENDUKUNG TERPILIH
Acha Septriasa – SHY SHY CAT 
Adinia Wirasti – ADA APA DENGAN CINTA? 2 
Chelsea Islan – 3 SRIKANDI
Titiek Puspa – INI KISAH TIGA DARA
Widyawati Sophiaan – SURAT DARI PRAHA

AKTOR PENDATANG BARU TERPILIH
Arman Dewarti – ATHIRAH
Bisma Karisma – JUARA 
Hery “Omo Kucrut” Purnomo – GILA JIWA
Kevin Anggara – NGENEST 
Richard Kyle – INI KISAH TIGA DARA

AKTRIS PENDATANG BARU TERPILIH (Piala Tuti Indra Malaon)
Annisa Rawles – SINGLE 
Hany Valery – JINGGA 
Lala Karmela – NGENEST 
Sheryl Sheinafia – KOALA KUMAL 
Tatyana Akman – INI KISAH TIGA DARA

AKTOR / AKTRIS MUDA (CILIK / REMAJA) TERPILIH
Ajil Ditto – THE FABULOUS UDIN 
Caitlin Halderman – ADA CINTA DI SMA 
Dionisius Rivaldo Moruk – AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA
Jefan Nathanio – AKU INGIN IBU PULANG 
Sinyo – WONDERFUL LIFE

PENAMPILAN SINGKAT NAN BERKESAN (Piala Arifin C. Noer)
Adipati Dolken – KOALA KUMAL 
Ence Bagus – WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1 
Jennifer Arnelita – SABTU BERSAMA BAPAK 
Nova Eliza – AACH…AKU JATUH CINTA 
Tora Sudiro – ADA CINTA DI SMA


KATEGORI NON-BIOSKOP

FILM PENDEK TERPILIH
AMELIS – Sutradara: Dery Prananda
BUNGA DAN TEMBOK – Sutradara: Eden Junjung
KITORANG BASUDARA – Sutradara: Ninndi Raras
MANUK – Sutradara: Ghalif P. Sadewa
MEMORIA – Sutradara: Kamila Andini
NOMOPHOBIA – Sutradara: Caecilia Sherina
ON THE ORIGIN OF FEAR: Sutradara: Bayu Prihantoro Filemon
PANGREH   – Sutradara: Harvan Agustriansyah

FILM DOKUMENTER PENDEK TERPILIH
BIBI SITI SWITI – Sutradara: Cynthia Natalia 
J(M)UJUR – Sutradara: Ghalif P. Sadewa
MAMA AMAMAPARE – Sutradara: Yonri S. Revolt & Febian Kakisina
MATA ELANG Sutradara: Wisnu Dewa Broto
TEATER TANPA KATA : SENA DIDI MIME – Sutradara: Getar Jagatraya

FILM DOKUMENTER PANJANG TERPILIH
INDONESIA KIRANA – Sutradara: Febian Nurrahman Saktinegara
PANTJA-SILA : CITA-CITA DAN REALITA – Sutradara: Tino Saroengallo & Tyo Pakusadewo
SIHUNG – Sutradara: Esa Hari Akbar

FILM ANIMASI TERPILIH
ANG – Sutradara: Michaela Clarissa Levi
#KAMITIDAKTAKUT – Sutradara: Irsan Permana
SURAT UNTUK JAKARTA – Sutradara: Andri  Sugianto, Aditya Prabaswara, Ardhira Anugrah Putra
LAKUNA – Sutradara: Yulio Darmawan
THE CHOSEN GENERATION – Sutradara: Ariel Victor

KRITIK FILM TERPILIH
Aef Anas – NGENEST : PENERIMAAN RASIAL
Catra Wardhana – ULASAN ADA CINTA DI SMA
Paskalis Damar – A COPY OF MY MIND : A COPY OF JOKO ANWAR’S MIND
Rachmat Hidayat Mustamin – REVIEW UANG PANAI
Rasyid Harry – ATHIRAH : KEKUATAN DI BALIK KELEMBUTAN

PIALA IQBAL RAIS : DEBUT SUTRADARA BERBAKAT
Agus Makkie – WONDERFUL LIFE
Ernest Prakasa – NGENEST
Ginanti Rona Tembang Asri – MIDNIGHT SHOW
Harvan Agustriansyah – PANGREH  
Iman Brotoseno – 3 SRIKANDI

KOLEKSI DVD TERPILIH
ADA APA DENGAN CINTA? Remastered
ADA APA DENGAN CINTA? 2 – Box Set
KAPAN KAWIN?

VIDEO KLIP MUSIK TERPILIH
CINTA – Penyanyi : Gamaliel Audrey Cantika – Sutradara : Gamaliel Tapiheru 
KALI KEDUA – Penyanyi : Raisa – Sutradara : Davy Linggar
MENDEKAT MELIHAT MENDENGAR – Penyanyi : MALIQ & D’Essentials – Sutradara : Joey Christian
RUANG BAHAGIA – Penyanyi : Endah n Rhesa – Sutradara : Aditya Ahmad 
RUANG SENDIRI – Penyanyi : Tulus – Sutradara : Galih Mulya Nugraha

Malam penganugerahan Piala Maya akan dilangsungkan di Ballroom Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan pada Minggu, 18 Desember 2016.

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - HUSH (2016)

"Speak your silence. And make them listen!". Begitu usungan tagline film hasil kolaborasi Djenar Maesa Ayu dan Kan Lume ini. Djenar memang selalu menggunakan karya-karyanya untuk menyuarakan secara jujur dan lantang keresahann soal hak perempuan. Harapannya, penonton dapat tertampar, sadar, lalu membuka mata akan isu tersebut. Karena sebagaimana narasi awal "hUSh" mengiringi setumpuk footage CCTV mengiris hati berisi tindak kekerasan, perkosaan, dan segala macam kebejatan laki-laki terhadap perempuan, sudah waktunya kita berbuat sesuatu demi perubahan, bukan hanya diam terkurung ketidakpedulian. 

Kali ini penolakan diam Djenar ia wujudkan dengan memberi wadah bagi penyanyi Cinta Ramlan (adik Olla Ramlan) untuk bercerita segamblang mungkin tentang sudut pandangnya akan nasib perempuan Indonesia serta gaya hidupnya yang oleh banyak pihak bakal disebut tak bermoral (seks bebas, narkoba, alkohol, tato di sekujur tubuh). Selama 90 menit, Cinta dibebaskan bertutur kata tanpa sedikitpun dibatasi, mengisahkan bagaimana ia jengah atas diskriminasi di mana perempuan bakal disebut pelacur bila bertingkah liar, sebaliknya laki-laki justru dipandang jantan. Sementara itu filmnya menangkap keseharian Cinta kala berada di Gili, pesta alkohol di siang hari sampai mencari pasangan acak di malam hari ketika hasrat seksual tak lagi tertahankan.
"hUSh" sama sekali tidak menahan diri menyuarakan opini dan itu sesuai dengan pesan yang diutarakan. Semangat kebebasan dicurahkan penuh letupan energi sebagai perlawanan keras atas kemunafikan. Masalahnya keliaran tersebut tak hanya berujung ekspresi nihil opresi melainkan turut memunculkan ketidakteraturan pada filmnya. Karena ketiadaan batasan bagi apa yang Cinta utarakan, seringkali terdapat repetisi kalimat. Kata demi kata terulang, bergulir hingga terlalu panjang, tak jarang menghadirkan kekacauan disengaja yang menghilangkan penekanan bagi poin utama. 
Djenar dan Kan Lume mengemas "hUSh" bak dokumentasi perjalanan, apa adanya tanpa bantuan efek visual yang kerap dimanfaatkan dokumenter guna membantu paparan data dan fakta plus mempercantik tampilan. Pilihan tepat, menguatkan kesan "mentah" catatan harian seorang perempuan yang jadi tujuan film. Di mayoritas durasi, Cinta bicara ke arah kamera yang statis, seolah tengah berinteraksi langsung dengan kita. Walau memungkinkan penonton memasuki sisi personal Cinta, begitu seringnya hal itu dilakukan kembali membuat "hUSh" terasa repetitif pula minim penekanan. Saya berharap lebih sering dibawa langsung melihat kegiatan yang Cinta bicarakan sambil sesekali mampir ke ruang pribadinya, mendengarkan hal-hal personal semisal curahan emosional mengenai aborsi. Dengan begitu dampak emosi bakal lebih kuat.

Bagi penonton berpikiran terbuka, "hUSh" dapat mudah dinikmati, tapi bagi mereka yang pola pikirnya sempit, film ini berpotensi dipandang sebagai justifikasi maupun glorifikasi terhadap gaya hidup bebas. Saya memandang ini suatu kekurangan, sebab seperti pernyataan di awal film, kini sudah waktunya berbuat sesuatu demi menyadarkan masyarakat perihal hak perempuan, dan untuk itu dibutuhkan proses bertahap termasuk membuka mata para ignorant dan hipokrit melalui berbagai cara termasuk media film. "hUSh" memang sukses menjadi curhatan lantang juga menarik di mana keberanian Cinta Ramlan amat perlu diapresiasi. Namun lebih dari itu semestinya Djenar Maesa Ayu dan Kan Lume mampu memancing pemikiran atau perenungan andai belum mampu mengubah perspektif banyak pihak.

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - ISTIRAHATLAH KATA-KATA (2016)

Saya menyaksikan "Istirahatlah Kata-kata" karya Yosep Anggi Noen dengan ekspektasi tinggi. Kemudian film dimulai, kesunyian mencekat bergulir, gambar-gambar berbicara, suara-suara bersenandung, terdengar silih berganti termasuk dibacakannya sederet puisi berisi keresahan seorang Wiji Thukul. Emosi tidak pernah dipacu kencang namun bagai pelukan kasih sayang, dijamah pelan sampai tanpa sadar ada gejolak yang merambat perlahan dan akhirnya menguasai perasaan. Ketika usai, kredit bergulir ditemani sisa isak tangis Sipon (Marissa Anita), saya duduk diam. Mengistirahatkan kata-kata, membiarkan rasa bermain, lalu menyadari baru saja menyaksikan film Indonesia terbaik tahun ini yang jauh meninggalkan pencapaian para "pesaing".

Bertindak juga selaku penulis naskah, Anggi menyoroti masa saat Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) bersembunyi dari kejaran pemerintah di Pontianak pada 1996. Keterasingan itu digunakan Anggi untuk mengajak penonton memasuki sisi personal Wiji Thukul, bagaimana ia bersembunyi di balik kegelapan sembari tetap berusaha menulis meski dikuasai ketakutan akibat teror aparat dan kerinduan akan sang istri, Sipon beserta kedua anaknya. Rasa takut tersebut seringkali menyulitkan proses berkarya, membawanya pada pertempuran melawan opresi walau kali ini pergolakan hati menjadi salah satu musuh terbesar Wiji. Kita takkan mendapati Wiji Thukul sang aktivis perlawanan, melainkan manusia biasa yang takut, ragu, rapuh, menghabiskan waktu di malam hari minum tuak bersama teman-temannya. Dia tidak sempurna.
Daripada lantang penuh kobaran semangat perjuangan, semua puisi dibacakan lirih cenderung sendu. Justru karena itulah tiap kalimat terasa personal dan jujur. Bahkan tatkala membicarakan penindasan maupun pergolakan politik, puisinya tetap terdengar intim. Sekali lagi, fokus film memang kepada Wiji Thukul sebagai manusia. Sesekali kondisi politik mencuat tapi sekedar lewat pembicaraan singkat atau siaran radio. Pemaparan situasi politik dan negara berfungsi memperkuat latar saja, bukan fokus utama, yang mana pilihan tepat sebab banyak film biografi kita kehilangan hati, bak visualisasi buku sejarah lalu melupakan observasi karakter akibat ambisi berlebihan merangkum seluruh sisi kehidupan sang tokoh.

Kata-kata memang cenderung diistirahatkan. Bukan seutuhnya dihilangkan melainkan dipakai tepat guna, muncul sewaktu diperlukan. Alhasil timbul dampak signifikan, entah membangun dinamuka cerita atau karakter. Teknisnya dikemas menggunakan pendekatan serupa. Penataan kamera Bayu Prihantoro Filemon lebih banyak statis menangkap peristiwa minim pergerakan. Begitu pula jarangnya musik karya Yennu Ariendra menyeruak masuk. Namun kediaman gambarnya nampak puitis juga menyimpan setumpuk kisah. Adegan close-up di tengah kegelapan kamar kala Wiji berulang kali menutup lalu membuka mata memunculkan probabilitas kisah tanpa batas dalam benaknya. Sedangkan musiknya cerdik membaurkan efek suara selaku lantunan musik (berubahnya gema suara shuttlecock menjadi ketukan ritmis jadi contoh terbaik).
Yosep Anggi Noen jeli menyelipkan simbol (semut di air gula, lukisan perjamuan terakhir) untuk menyiratkan kejadian yang kelak hadir. Selain simbolisme, kematangan penyutradaraan Anggi terbukti melalui terciptanya kesunyian suasana tanpa harus berujung datar. Ada ketegangan merambat kala di tempat pangkas rambut, seorang tentara (Arswendi Nasution) menanyakan identitas Wiji dan rekannya, Martin (Eduwart Boang Manalu). Bahkan pada situasi santai, aparat bersikap pongah, intimidatif, menekan. Anggi tak lupa menghantarkan romantisme ketika Wiji Thukul dan Sipon kembali bertemu (pertama kali sepanjang film), di mana kehangatan terasa lewat kesederhanaan macam senyum simpul, pemberian oleh-oleh, bahkan pengucapan nama Wiji Thukul oleh sang istri setelah sebelumnya ia selalu dipanggil menggunakan nama samarannya, Paul. 

Suguhan akting kelas wahid diberikan oleh Gunawan Maryanto dan Marissa Anita. Gunawan bukan sekedar berusaha memiripkan tampilan fisiknya dengan Wiji, tapi meresapi untuk kemudian mampu mengungkapkan sisi terdalam sang tokoh memakai ekspresi mikro, sehingga dalam diam pun terdapat variasi emosi yang teramat kaya. Marissa Anita yang baru banyak berperan di paruh kedua pun sama baiknya memamerkan kesubtilan olah rasa yang bisa tercurah hanya oleh mimik muka. Keduanya kuat berinteraksi, bertukar emosi hingga mencapai akhir durasi saat Anggi menutup film dengan metafora penuh makna. Di situ Sipon mencurahkan segala kekalutan hatinya, dan sejurus kemudian tanpa kita sadari Wiji Thukul menghilang tanpa pernah nampak lagi. Saya terpana. Hati teriris-iris, air mata mengalir deras mendapati ending terkuat yang dimiliki sinema negeri ini. "Tidurlah kata-kata. Kita bangkit nanti". 

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - MOAMMAR EMKA'S JAKARTA UNDERCOVER (2016)

Pada awal penerbitannya tahun 2003, "Jakarta Undercover" karya Moammar Emka memancing kontroversi, bahkan masih berdampak sampai beberapa waktu setelahnya. Saya ingat kala duduk di bangku kelas satu SMP (2004) menyebut judul bukunya saja sudah dianggap tabu, tapi di saat bersamaan semua anak diam-diam mencari. Mungkin situasinya serupa fenomena "Bandung Lautan Asmara" dahulu. Namun selang 13 tahun kemudian, tatkala informasi tentang keliaran dunia seks "bawah tanah" begitu gampang diakses, tentu "Jakarta Undercover" tak lagi memberi efek kejut yang sama, sehingga keputusan Fajar Nugros tidak berfokus pada seks  selain demi menghindari gunting LSF  sejatinya sudah tepat.

Selain topeng-topeng kepalsuan warga ibukota, melalui naskah tulisannya bersama Piu Syarif, Fajar turut menyelipkan curahan personal mengenai anak daerah yang merantau ke Jakarta demi mengejar mimpi (Fajar berasal dari Jogja) dalam diri tokoh utamanya, Pras (Oka Antara). Pras berasal dari Jombang, pergi ke Jakarta dengan harapan menjadi jurnalis di bawah bimbingan Djarwo (Lukman Sardi), pimpinan redaksi suatu majalah. Perkenalannya dengan penari striptease bernama Awink (diperankan Ganindra Bimo yang tak hanya sukses berkomedi, turut pula memberi hati) membawa Pras memasuki dunia gelap Jakarta yang berisi aneka macam party, prostitusi sistematis, sashimi girl dan lain sebagainya, memancingnya diam-diam menulis artikel tentang semua itu. 
Walau beberapa kali menunjukkan sisi norak seputar kebutaannya atas gaya hidup bebas, sedari awal kita telah melihat Pras lupa menelepon sang ibu, meninggalkan solat dan kecanduan bir, bukan sepenuhnya bocah kampung polos, sehingga proses realisasinya terhadap kenyataan tidak berdampak kuat. Naskahnya kurang kuat soal penggalian karakter termasuk interaksi antara mereka. Akibat harus membagi fokus penceritaan dengan banyak subplot, pertemanan Pras dan Yoga (Baim Wong) sang raja pesta hingga romansanya dengan Laura (Tiara Eve) model merangkap pelacur milik Mama San (Agus Kuncoro) berakhir hambar, meniadakan dampak emosional kala kekacauan memuncak di penghujung durasi. 

Paparan investigasi jurnalistik pun lemah, di mana penyelidikan rahasia Pras nyaris tanpa perbedaan dibanding jika protagonisnya sebatas orang biasa yang terjerumus ke dunia gelap. Filmnya lebih menekankan pada "petualangan" Pras ketimbang usahanya mengolah pengalaman tersebut menjadi suatu berita. Secara keseluruhan, penceritaan milik "Moammar Emka's Jakarta Undercover" kurang mendalam, tapi Fajar sendiri tampak sengaja memposisikan filmnya bukan sebagai observasi kompleks melainkan hiburan ringan. Dunia yang disoroti memang kelam, tapi filmnya menolak tampil depresif, di mana komedi senantiasa mengiringi. Bahkan hampir setiap Pras dan Laura bertemu di minimarket, sesosok orang gila setia "menemani" keduanya sembari konsisten memancing tawa penonton.
Meski tak sampai eksploitatif, Fajar nyatanya tidak ragu menampilkan momen vulgar seperti alat kelamin wanita maupun seks tanpa busana (Nikita Mirzani and Vicky Burky scene that looks like the parody of "The Raid: Berandal" is the wildest). Dibantu sinematografi gemerlap penuh warna garapan Padri Nadeak, Fajar sukses memvisualisasikan dunia malam underground penuh euforia nan menyilaukan mata, memberikan penonton sensasi, pula kekaguman serupa yang dialami oleh Pras. Kita bak dibawa memasuki dunia lain, dibuat ingin memejamkan mata, menari, terhanyut oleh dentuman musik seraya melupakan realita.

Sayang, memasuki babak akhir penceritaannya keteteran. Di samping ketiadaan dampak emosional, pilihan konklusinya bermain aman, memaksa menjalin kebahagiaan. Resolusi seputar hubungan Pras dan Laura pun dipaparkan terlampau panjang, diisi banyak dialog repetitif. Namun setidaknya pilihan menaruh harapan sekaligus teriakan "Kangeeen!" Oka Antara yang memancing gemuruh tawa penonton (entah disengaja atau tidak) sejalan dengan apa yang dibangun sepanjang "Moammar Emka's Jakarta Undercover" bergulir: dumb yet fun and playful entertainment. Apabila anda tidak mampu (atau ingin) menjadikan seks selaku bahan observasi mendalam, menjadikannya hiburan ringan merupakan keputusan tepat. 

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - SIHUNG (2016)

Apapun usungan temanya, meski sensitif sekalipun, saya selalu beranggapan sudah semestinya dokumenter berlaku jujur, terbuka, apa adanya merangkum kenyataan. Namun sebuah karya merupakan curahan rasa pula pikir yang menjadi alat bagi penciptanya menyuarakan sesuatu baik keresahan maupun opini. Dokumenter pun memiliki permasalahan, dan mengingat dalam tiap permasalahan selalu ada setidaknya dua sisi, seorang sineas mesti jelas menyampaikan ada di sisi mana dirinya berpijak (bisa juga menciptakan sisi dan perspektif baru). Bukan bermaksud memihak, tapi karya seni dalam perannya sebagai ekspresi personal sang pengkarya bakal kehilangan bobot, kosong tanpa hal tersebut. Sayangnya begitulah "Sihung" karya Esa Hari Akbar.

Dewasa ini kesadaran masyarakat seputar perlindungan terhadap hewan semakin meningkat, sehingga "Sihung" yang mengetengahkan kebiasaan "ngadu bagong" warga pinggiran Kota Bandung sejatinya merupakan karya penting. "Ngadu bagong" adalah kegiatan di mana beberapa anjing diharuskan melawan seekor babi hutan. Adegan pembukanya sudah cukup gamblang menjelaskan betapa mengerikannya adu tersebut. Taring anjing mencengkeram leher babi dan sebaliknya, tubuh anjing juga ditembus tanduk sang babi. Keduanya sama-sama menjerit, jatuh bersimbah darah. Tentu para penonton memasang taruhan untuk pertarungan itu. Mudah mengutuk tindakan brutal manusia tersebut, namun menjadi dilematis tatkala alasan kultural telah dikemukakan pelaku.
Bagaimana "Sihung" mengambil sikap? Jawabannya kurang jelas. Konklusinya saat keluarga tokoh utama terdiam meratapi nasib bagai Esa pakai sebagai pernyataan bahwa mereka menerima hukuman atas perilakunya. Masalahnya, butuh dilakukan pengolahan fakta demi mendukung suatu simpulan, yang mana tak dimiliki "Sihung" tatkala paruh tengahnya (babak kedua biasanya berfungsi memperdalam cerita) terasa kosong, minim momen signifikan. Esa seperti kehabisan ide yang nampak pula dari pendeknya durasi (65 menit) walau terdapat setumpuk poin lain yang menarik untuk dipaparkan (Esa berniat membuat dua sekuel). Sesekali kita melihat perburuan babi atau proses melatih anjing, tapi mayoritas waktu dihabiskan mengamati proses tawar menawar atau tokoh utama mengajak anjing jalan-jalan. 
Jangan salah, sorotan menuju kegiatan sehari-hari juga dapat membangun dinamika khususnya kedekatan penonton dan tokoh. Namun sebagaimana Esa yang menyatakan kesulitannya menjalin hubungan dengan subjek, kamera hanya sebatas mengikuti ke mana mereka pergi tanpa sekalipun masuk lebih dalam, menelusuri sisi personal. Akhirnya, tertinggal dinding psikologis tebal, memisahkan jauh penonton dan subjek. Saya pun kurang mendapati sensitivitas Eka sewaktu dia hampir tidak pernah membiarkan para anjing "berbicara". Kamera beberapa kali ditempatkan di samping dan belakang, tapi tak sekalipun di depan mata anjing (mereka tak bisa bicara jadi mata merupakan jendela perasaan yang bisa dimasuki), lalai membiarkan penonton terhubung dengan mereka. 

Momen-momen terkuat "Sihung" bertempat kala menyoroti luka-luka anjing maupun jeritan babi saat ditangkap, tertangkap oleh perangkap warga. Begitu pula ending berdarah pengiris perasaan. Esa Hari Akbar punya insting kuat soal gambar-gambar impactful, tapi berujung percuma sebab ia gagal memberi pernyataan lantang. Pada sesi Q&A, Esa menuturkan bahwa demi menjalin kedekatan dengan warga, ia ikut membeli anjing, melatihnya untuk "ngadu bagong". Apakah sesunggunya ia tidak bermasalah atau bahkan mendukung praktik ini? Bila benar begitu, maka berbagai bentuk kebrutalan milik "Sihung" tak lebih dari sekedar shock value, eksploitasi kekerasan ketimbang curahan kecemasan suatu isu sosial. Setidaknya persepsi saya tergiring ke arah sana.

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - KNIFE IN THE CLEAR WATER (2016)

Berdasarkan survei tahun 2010, penganut Islam di China sebesar 1,7%, hanya lebih tinggi dari Taoism (0,8%). Tidak mengherankan apabila media film masih jarang menjadikannya sentral cerita, sehingga debut penyutradaraan Wang Xuebo ini terasa menyegarkan, menyoroti sudut Negeri Tirai Bambu yang jarang diangkat ke permukaan. Bertempat di kawasan pegunungan di Provinsi Ningxia, "Knife in the Clear Water" berkisah mengenai Ma Zishan (Yang Shengcang), seorang pria tua yang istrinya baru meninggal dunia. Tentu ia berduka, namun ada alasan lain di balik kegamangan hati Ma Zishan, yakni persiapan peringatan 40 hari meninggalnya sang istri.

Bukan masalah ekonomi yang mengganggu Ma Zishan, melainkan kehendak anaknya (Yang Shengcang, aktor berbeda) menyembelih kerbau kesayangannya sebagai suguhan untuk para tamu. Setelahnya penonton diajak mengamati sang tokoh utama menenggelamkan diri dalam kesendirian, merenungi situasi. Naskah hasil tulisan Shi Shuqing, Wang Xuebo, Ma Jinlian, dan Ma Yue selaku adaptasi novel karya Shi Shuqing tak hanya menampilkan kesendirian karakter secara literal, tapi juga di tataran batin, sewaktu interaksinya dengan orang-orang di sekitar selalu berisi pertanyaan perihal acara peringatan. Tidak heran hati Ma Zishan makin tak menentu.
"Knife in the Clear Water" bukan ingin menggugat tradisi keagamaan, tapi memancing pertanyaan melalui ironi. Putra Ma Zishan begitu sibuk menyiapkan peringatan 40 hari, mencurahkan segala daya upaya bahkan meluangkan uang cukup banyak meski bukan tergolong keluarga berada. Kondisi kampung pun digambarkan tengah dilanda kekeringan. Timbul tanda tanya soal mereka yang hidup dan yang telah mati. Tepatkah segala pengorbanan bagi almarhumah dilakukan kala kehidupan sendiri sedang sulit? Pertanyaan lembut tapi tajam yang pantas direnungkan. 

Sayang, gagasan tentang hidup-mati tersebut  yang semestinya jadi poin utama  dituangkan terlampau minim, mendangkalkan eksplorasi. Filmnya justru lebih sering mengetengahkan kesendirian Ma Zishan, berusaha menyatukan penonton dengan rasa itu lewat penyampaian kesehariannya seperti mandi, berjalan seorang diri, atau sesekali merawat kerbau. Namun kedekatan sang protagonis dengan peliharaan kesayangannya itu hadir ala kadarnya, tidak cukup membuat penonton percaya apalagi turut merasakan ikatan keduanya. Kita hanya dibuat yakin Ma Zishan tengah dirundung kemuraman.
Wang Xuebo bertutur menggunakan gaya khas arthouse. Alur bergerak dalam tempo sangat pelan, penuh keheningan minim dialog, kamera statis, serta emosi "tertahan" nihil dramatisasi. Selain melelahkan, gaya ini adalah klise bagi sinema sidestream. Wang bagai terjebak klise, bahwa paparan "film seni" harus lambat dan berisi kontemplasi mengenai kesepian. That kind of treatment is getting repetitive and predictable. Untung konklusinya kuat berkat semburat emosi yang terpancar kuat dari mata berkaca-kaca Yang Shengcang saat karakternya membaca Al Qur'an di tengah kegelapan, semalam sebelum penyembelihan. Suatu momen sederhana yang intim sekaligus lebih efektif mempresentasikan isi hati sang tokoh ketimbang kehampaan sepanjang film.

Setting bukan sekedar panorama menghibur mata, melainkan serupa karakter yang ikut menyokong keseluruhan penceritaan. Sinematografi garapan Wang Weihua merangkum dua jenis setting. Indoor memaksimalkan pencahayaan ala pertunjukkan panggung lewat spotlight, menempatkan fokus di tengah layar, membiarkan sekelilingnya gelap supaya penonton memahami kesan terisolir Ma Zishan. Sedangkan outdoor banyak memunculkan kabut dan lahan kering guna memvisualisasikan buruknya kondisi tempat tinggal mereka yang masih hidup. 

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - TURAH (2016)

Kita menjadikan film sebagai escapism. Ledakan bombastis, aksi pahlawan super hingga romantika penuh kesempurnaan jadi alat pelarian dari kepenatan hidup sehari-hari. Tapi di sisi berlawanan, film memiliki fungsi lain yakni jendela bagi penonton guna menilik realita, entah yang biasa ditemui, terlupakan atau memang jarang diungkap ke permukaan. "Turah" selaku karya debut sutradara/penulis naskah Wicaksono Wisnu Legowo menyuguhkan fungsi kedua, tepatnya menuturkan kisah hidup warga sebuah kampung yang berdiri di atas tanah timbul di Tegal bernama Kampung Tirang. Jangankan masyarakat luas, warga Tegal pun banyak yang tak tahu keberadaan kampung tersebut.

Judulnya merujuk pada nama protagonis, Turah (Ubaidillah), yang seperti penduduk Kampung Tirang lain adalah orang miskin dan mencari nafkah sebagai bawahan Darso (Yono Daryono) juragan setempat. Turah diposisikan menjadi jembatan antara penonton dengan penghuni kampung lain, ada Kanti (Narti Diono), istri Turah yang enggan memiliki anak, Kandar (Bontot Sukandar) si pengurus kambing, Pakel (Rudi Iteng) tangan kanan Darso, Sulis (Siti Khalimatus Sadiyah) gadis cilik yang sendirian merawat neneknya, hingga Jadag (Slamet Ambari) yang doyan mabuk, berjudi, dan main perempuan. Wisnu cermat menggerakkan alur, mengajak mampir ke tiap rumah secara bergiliran (konon hanya ada 10 keluarga di sana), menciptakan pemahaman menyeluruh akan kondisi serta dinamika sosial latarnya bagi penonton.
Jadag beserta emosi meluap-luap dan ambisinya melawan Darso memang mendominasi, bahkan punya peranan lebih ketimbang tokoh utamanya sendiri (poin minus filmnya), tapi bukan berarti keberadaan Turah tidak signifikan. Selain menjembatani penonton dan film, Turah yang digambarkan baik hati dan penyabar merupakan hati bagi film ini. Di tengah kemiskinan, kerap ditemukannya mayat selaku penguat beratnya kehidupan penduduk (di suatu adegan miris nan creepy Turah menemukan mayat busuk bayi tengah mengambang), sampai dominasi amarah tanpa henti Jadag, Turah bak penyeimbang, angin segar yang membuatnya tidak nampak terlampau suci. Rasa peduli kepada sang tokoh pun mudah tercipta.

Teknik sinematiknya tanpa gimmick, tapi sang sutradara yang berasal dari Tegal kentara punya pemahaman mendalam soal kehidupan juga kultural setempat. Alhasil bagi saya yang sempat tinggal tak jauh dari perkampungan miskin dengan bahasa Jawa ngapak sebagai logat merasa familiar dengan suguhan di layar. Bagaimana pola pikir mereka dalam menyikapi situasi  seperti saat Jadag mempertanyakan mengapa tidak naik jabatan walau sudah bekerja selama belasan tahun  pula kondisi ketika terjalin interaksi termasuk pertengkaran, semua tampak nyata, dikemas dalam realisme tinggi bermodal kedekatan plus kecintaan sineas akan objek penceritaan.
Para aktor berperan besar atas terciptanya realita. Contohnya pertengkaran Jadag dengan istrinya, Rum (Cartiwi). Totalitas ekspresi dan sumpah serapah Slamet Ambari ditambah luapan emosi serta "tantangan" Cartiwi agar sang suami membunuhnya lah alasan mengapa momen tersebut begitu intens, seolah saya tengah menyaksikan langsung sebuah pertengkaran dahsyat suami-istri. Obrolan Jadag dan Turah pun selalu menghadirkan tontonan menarik berupa barter dialog yang saling melengkapi antar dua pembawaan berbeda. Slamet berapi-api, sedangkan Ubaidillah penuh ketenangan menghanyutkan. 

Deretan cast-nya merupakan aktor teater. Wisnu tidak menyia-nyiakan fakta ini, merangkum beberapa obrolan dalam satu take panjang tanpa putus layaknya pertunjukan panggung. Konteks adegan berupa obrolan masyarakat kelas bawah di tempat kerja atau rumah pun memang cukup identik dengan panggung teater. Para aktor piawai menangani gaya pengadeganan tersebut, bersenjatakan emosi konsisten nan kontinu, dinamika pun hidup. Semakin dinamis tatkala Wisnu tak lupa menyuntikkan humor, mengerti bahwa pendekatan realis memerlukan kejenakaan, sebab di antara beratnya kehidupan dunia nyata canda tawa tetap sesekali menyeruak hadir. Gerakan kamera dan kebocoran suara yang disengaja selaku momen penutup membaurkan fiksi film dengan dunia nyata, seolah menyatakan bahwa apa yang penonton saksikan adalah realita. 

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - HARMONIUM (2016)

Bersama tapi tidak bersatu, begitulah bentuk keluarga yang coba Koji Fukada perlihatkan di "Harmonium" karya terbarunya yang berhasil memenangkan Jury Prize dalam seksi Un Certain Regard, Cannes Film Festival. Film dibuka dengan aktivitas makan malam Toshio (Kanji Furutachi) bersama sang istri, Akie (Mariko Tsutsui) dan putrinya, Hotaru (Momone Shinokawa). Makan bersama merupakan salah satu situasi di mana hubungan keluarga dapat diamati. Toshio sekeluarga memang berkumpul, namun Fukada menunjukkan ada "ketidakberesan". Ketika Aike dan Hotaru berdoa (penganut Protestan), sang ayah tak ikut serta, asyik menyantap makanan. Saat putrinya bercerita panjang lebar pun, nihil respon dari Toshio.

Suatu hari Toshio kedatangan Yasaka (Tadanobu Asano), kawan lamanya yang meminta diberi pekerjaan di machine shop miliknya dan tempat tinggal sementara. Toshio langsung menyanggupi tanpa berunding dahulu dengan Akie. Bahkan ia tidak memberi tahu sang istri jika Yasaka baru keluar dari penjara akibat kasus pembunuhan, juga rahasia kelam lain mengenai pertemanan keduanya dulu. Ketertutupan ini dipakai Fukada untuk menanam benih konflik, perlahan meruntuhkan keluarga tersebut. Yasaka cepat membangun impresi baik, bersedia membantu Hotaru berlatih memainkan harmonium sekaligus jadi lawan bicara menyenangkan bagi Akie, dua hal yang tidak pernah diperbuat Toshio.
Awalnya alur "Harmonium" terkesan predictable: kedatangan sosok asing yang merebut keluarga seorang pria. Namun Koji Fukada menolak mengikuti pola paparan klise perjuangan suami mendapatkan kembali keluarganya, sebab hingga akhir kita takkan melihat Toshio memperjuangkan itu. Justru sisi egois dan pengecutnya makin nampak, menggiring filmnya ke arah lebih kelam. Tapi "Harmonium" tak pernah menjadi depresif berkat pilihan Fukada sesekali menyelipkan humor efektif berbasis situasi awkward menggelitik. Keputusan itu meringankan suasan film, membuat drama "Harmonium" mudah dinikmati setiap penonton.
Kemunculan twist di pertengahan babak bukan saja mengejutkan, pula memberi arah baru, dinamika baru untuk diobservasi. Bicara soal kejutan, Fukada begitu mahir mempermainkan asumsi lewat kesuksesan beberapa "alarm palsu" untuk memancing dugaan demi dugaan, mencuatkan ketegangan (keheningan sejenak Toshio di belakang Takashi sampai selimut jatuh dari atap gedung). Koji Fukada memang cerdik, tak hanya di pengadeganan, pula perihal penulisan naskah. Berulang kali Yasaka berkata "kebiasaan lama" sebagai penjelasan terhadap berbagai perilaku uniknya, seperti kecepatan makan atau keluar dari kamar mandi tanpa pakaian. Siapa sangka perkataan tersebut bertindak selaku tease bagi kejutan kelam nantinya.

Poin di atas adalah bentuk kepiawaian Fukada membangun karakterisasi, yang juga ia tunjukkan dalam membangun kejelasan motivasi. Keputusan Toshio menyimpan rapat sejumlah fakta serta fobia Akie terhadap bakteri sama-sama didorong oleh ketakutan dan perasaan bersalah masing-masing. Keberadaan paparan tersebut meskipun subtil makin menguatkan "Harmonium" dalam perannya selaku observasi karakter. Serupa judulnya, Koji Fukada melibatkan alat musik harmonium pada observasi ini, sebagai (salah satu) faktor yang "menjembatani" runtuhnya hubungan sebuah keluarga.