DUBSMASH (2016)

3 komentar
Mengangkat fenomena kultur populer ke dalam film tergolong langkah menjanjikan, karena popularitasnya dapat menarik perhatian penonton sebanyak mungkin sembari membuka kesempatan eksplorasi kultural bagi naskahnya. Tapi perilisan Dubsmash jelas mengherankan, mengingat maraknya penggunaan aplikasi tersebut di media sosial tanah air mencapai puncaknya pada medio pertengahan hingga akhir 2015 lalu, alias sudah berlalu. Tidak menjadi masalah apabila filmnya coba melakukan penggalian mendalam teruntuk fenomena tersebut, namun pada kenyataannya, film garapan sutradara Indrayanto Kurniawan dengan naskah karya Aviv Elham ini sekedar berniat mendompleng ketenaran dubsmash melalui kedangkalan romantika remaja penuh intrik super klise.

Alkisah, seorang seleb instagram asal Filipina, Teejay (Teejay Marquez) baru pindah ke Indonesia dan memancing kehebohan gadis-gadis di SMA barunya. Teejay sendiri akhirnya menjalin kedekatan dengan Elsa (Jessica Mila) yang merasa kurang mendapat perhatian dari pacarnya, Marvel (Verrell Bramasta). Sebagaimana saingan cinta protagonis film romansa kelas teri kebanyakan, Marvel adalah asshole egois , pencemburu, posesif yang seketika menimbulkan tanya "mengapa Elsa bisa jatuh cinta padanya?" Sebagaimana  saingan cinta protagonis film romansa kelas teri kebanyakan pula, Marvel menantang Teejay bertanding suatu hal yang jadi kelebihannya demi mempertahankan sang kekasih, di mana hal itu tak lain adalah basket. 
Mari bicarakan dahulu mengenai penggunaan kata "dubsmash" sebagai judul. Teejay terkenal berkat dubsmash dan beberapa kali kita diperlihatkan video miliknya, pula usahanya membuat Elsa terhibur lewat aksi-aksi memalukan menggunakan dubsmash, tapi adakah korelasi dengan plot? Tidak. Teejay mampu menghadirkan tawa bagi Elsa, tapi sejatinya sang gadis tertarik karena Teejay bersedia meluangkan waktu lebih dibanding Marvel. Saya takkan menyinggung fakta bahwa jika tingkah serupa diterapkan di dunia nyata bisa saja wanita pujaan Teejay justru menganggap aksinya memalukan, toh mungkin Elsa suka dipermalukan plus mempermalukan dirinya di muka umum  bertengkar di tengah lapangan basket. Masalahnya, untuk apa mengusung judul Dubsmash jika jangankan mengandung eksplorasi, pengaruh signifikan pada plot saja nihil?

Mengincar target pasar remaja SMA dengan cinta monyet mereka yang "datang dan pergi begitu saja" walau tidaklah keliru, bukan berarti filmnya bisa bebas seenaknya memposisikan Elsan dan Teejay jatuh cinta begitu cepat meski baru beberapa waktu berkenalan. Atau bisa jadi Dubsmash memang menawarkan satir penyindir kekonyolan cinta masa muda? Andai benar seperti itu, naskahnya sungguh cerdas mengingat nyaris semua adegan terasa cringeworthy akibat motivasi karakter maupun eksposisi konflik yang tak kalah menggelikan terlebih saat seolah kehidupan tiap tokoh hanya diisi percintaan. Mereka sedih karena cinta, bahagia karena cinta, basket karena cinta, bermusuhan akibat cinta, sekolah pun untuk bercinta. Besar kemungkinan faktor ini merupakan kesengajaan, paparan satir mengenai remaja masa kini selaku "generasi galau cinta".
Tatkala naskah termasuk eksplorasi romantika suatu film lemah, akting beserta jalinan chemistry dua pemeran utama mampu menyuntikkan sedikit nyawa, sayangnya Teejay Marquez dan Verrell Bramasta tidak capable mengemban tugas sebagai lead actor walau sudah barang tentu paras rupawan mereka bakal menghipnotis gadis remaja. Teejay berusaha tampak cute plus energetic  berakhir cengeng dan memalukan  sedangkan Verrell selalu melotot demi menghidupkan sosok antagonis khas sinetron. Untungnya akting Jessica Mila tergolong lumayan, cukup kuat sehingga deretan line serta karakterisasi menggelikan naskahnya agak terselamatkan berkat kepiawaiannya bermain emosi. Jessica Mila adalah aktris muda berbakat, sayang ia kerap terjerumus dalam pilihan film buruk seperti Dubsmash dan Pacarku Anak Koruptor (review).

Industri perfilman Indonesia jelas butuh drama/romansa "putih abu-abu" berkualitas lagi, suatu kebutuhan yang belum dapat film ini penuhi. Bahkan sampai kapan pun kebutuhan tersebut takkan bisa terpenuhi andai tema serupa selalu dieksekusi dangkal, berisikan karakter remaja budak cinta seolah tiada hal lain mengisi hidupnya, serta komponen-komponen formulaic lain semisal unsur persahabatan yang sekedar "tiruan" berkualitas rendah dari AADC? Pada akhirnya, Dubsmash hanyalah kombinasi pop culture tak berarti akibat pengangkatan fenomena yang sudah lewat masa puncaknya  dan tanpa korelasi untuk plot  dengan roman SMA klise menggelikan. Satu-satunya aspek layak tonton di sini berupa akting Jessica Mila. 


Ticket Powered by: Bookmyshow ID

3 komentar :

Comment Page:
Unknown mengatakan...

Menurut saya film ini bagus & layak utk ditonton... Karena ada si cantik Jessica Mila ❤

Hendra Siswandi mengatakan...

Ini cocoknya buat FTV yang tayang hari Minggu jam 23.00. Terlalu klise.

Rasyidharry mengatakan...

Indeed :)