IN THIS CORNER OF THE WORLD (2016)

2 komentar
Sudah banyak film menunjukkan penderitaan rakyat sipil di Jepang ketika Perang Dunia II pecah, khususnya terkait peristiwa ledakan bom atom di Hiroshima. Untuk jajaran animasi, mungkin Grave of the Fireflies jadi yang paling dikenal. In This Corner of the World selaku adaptasi manga berjudul sama karya Fumiyo Kono juga mengetengahkan kondisi serupa. Bedanya, sekaligus alasan mengapa filmnya spesial, walaupun secara alamiah duka pasti menghampiri narasi (this is a wartime movie afterall), kesengsaraan tanpa akhir bukanlah menu utama. Tidak pula film ini lantang menyatakan diri sebagai sajian anti-war.

Dalam In This Corner of the World, tanpa kesan justifikasi, perang dijadikan medan pengembangan diri Suzu (Rena Nonen) sang tokoh utama, di mana ia menggembleng diri melatih kemampuan bertahan di tengah keterbatasan, kemudian belajar tentang kasih sayang pula rasa syukur. Kisah membentang dari tahun 1930-an, sejak Suzu yang gemar menggambar masih bocah dan tinggal bersama keluarganya di Hiroshima, lalu berkulminasi di era 1940-an (tepatnya 1944-1945) ketika dia pindah ke Kure setelah menikah muda dengan anggota angkatan laut sipil bernama Shusaku (Yoshimasa Hosoya). 
Kehidupan barunya memaksa Suzu bekerja lebih keras guna mengurus kebutuhan rumah tangga, apalagi semenjak perang meletus, Kure kerap dibombardir serangan udara musuh. Alih-alih mengeksploitasi derita, alurnya menekankan bagaimana Suzu  dengan suka hati  memutar otak mengakali situasi. Saat makanan menipis misalnya, penonton bukan dijejali pemandangan keluarga yang kelaparan melainkan cara mereka memanfaatkan apa yang ada. Pun sentuhan humor konsisten dipertahankan hingga makin menguatkan aura positifnya. Suzu yang clumsy dengan senyum kecutnya jadi sosok likeable yang selalu mampu memancing tawa berkat tingkahnya. 

Sunao Katabuchi selaku sutradara sekaligus penulis naskah (bersama Chie Uratani) berusaha menampilkan betapa di tengah tragedi pilu sekalipun, selalu tersimpan keindahan. Animasinya mendukung niat tersebut. Visual yang tersusun atas goresan warna lembut dan gaya sederhana (dalam arti bukan tiga dimensi penuh detail realita kompleks) memberi keintiman pula mewakili kepolosan protagonisnya. Sejak pertama kita bertemu sampai ia tumbuh, Suzu seolah menetap tak beranjak dewasa. Bahkan di satu waktu, prajurit Amerika memberi cokelat karena mengiranya anak-anak. Poin ini disengaja supaya film bak tampil melalui perspektif bocah yang playful dan bisa menemukan keindahan di antara keburukan. Termasuk saat pengeboman terjadi, sewaktu Suzu melihat ledakan di langit serupa cipratan cat air. 
Namun In This Corner of the World juga enggan tampil terlampau naif dengan menampik fakta sisi tragis peperangan. Seiring memanasnya perang dan meningkatnya bahaya, film bergerak makin serius, mulai memeras perasaan penonton. Dan karena kentalnya kebahagiaan yang terus diangkat, begitu kegelapan menaungi dampak emosi yang dihasilkan, pula kengerian menatap terjebaknya rakyat sipil di bawah hujan bom demikian besar. Ditambah lagi Katabuchi tidak ragu memakai visual eksplisit pembangun kesan miris meski (untungnya) belum mencapai taraf eksploitasi, masuk batas wajar gambaran imbas perang. Merupakan proses alami, itulah mengapa aliran tone-nya lancar, suatu kelebihan yang gagal diikuti oleh perjalanan narasi.

Alur acap kali melompat kasar antar potongan-potongan momen pendek yang berlangsung beberapa detik saja. Pun narasi bergerak episodik, merangkum sederet peristiwa singkat di tahun tertentu yang tak seberapa substansial bagi keseluruhan kisah. Banyaknya selipan ini berujung durasi mencapai 128 menit walau dapat dituturkan utuh tidak sampai dua jam. Katabuchi memilih meminimalisir transisi. Metode ini menguatkan komedi melalui kelucuan dengan timing tak terduga, tapi melemahkan penyampaian cerita. Bukan tanpa maksud, sebab sang sutradara hendak mengemas filmnya seperti memori yang sepintas terbersit dalam benak. Masa lalu Suzu, entah kehangatan makan malam bersama keluarga atau pengalaman melihat hantu tersimpan sebagai kenangan yang sesekali "dikunjungi", sementara skenario ideal yang urung terjadi tak ubahnya mimpi indah. Semua sama, membantunya menemukan tujuan hidup berkat cinta kasih.

2 komentar :