MANTAN (2017)

10 komentar
"Mantan" mungkin menjadi salah satu kata paling mengerikan bagi remaja sekarang. Menariknya, ketika mayoritas dari mereka memilih menghindar, Adi (Gandhi Fernando) yang segera melangsungkan pernikahan justru mengunjungi lima mantan kekasihnya untuk mencari tahu, apakah ada di antara kelimanya yang merupakan soulmate-nya. Mungkin banyak penonton bakal bertanya apa perlunya melakukan itu. Mengapa harus membuka lembaran lama penuh luka jika tengah bersiap mengarungi masa depan? Namun sejatinya demikianlah gambaran generasi masa kini yang gemar mempermasalahkan tetek bengek "mantan" dan "pacaran".

Mengusung hal di atas, debut penyutradaraan Svetlana Dea ini telah menjadi cerminan tepat soal percintaan para millenial, di mana romansa masa lalu kerap memancing keributan dan membebani. Dalam film ini, Adi mengunjungi kelima mantan di berbagai kota. Daniella (Ayudia Bing Slamet) di Bandung, Frida (Karina Nadila) di Yogyakarta, Juliana (Kimberly Ryder) di Bali, Tara (Luna Maya) di Medan, dan Deedee (Citra Scholastica) di Jakarta. Pemilihan beragam tempat tersebut sebenarnya tanpa substansi terkait narasi sebab kita takkan menemui perbedaan yang dipengaruhi kultur (penokohan, konflik). Pun hanya sekilas penonton diperlihatkan lingkungan sekitar mengingat pertemuan selalu terjadi di kamar hotel, yang mungkin bentuk penyiasatan bujet.
Sisi positifnya, kamar hotel mampu membangun ruang personal, sehingga memfasilitasi obrolan intim, jujur, hati ke hati. Kemudian kita dibawa mempelajari bahwa terdapat alasan berbeda-beda yang memicu berakhirnya hubungan Adi dengan masing-masing dari mereka. Semakin banyak kita tahu, semakin sulit bersimpati kepada Adi beserta segala kesalahan juga kengototan memaksa mengembalikan kenangan menyakitkan di benak mantan-mantannya. Tapi toh film ini tak berniat menjustifikasi perbuatan Adi baik dulu maupun sekarang. 

Adi menyatakan ingin "clear the air", namun berulang kali pula ketimbang menyiasati perdamaian, ia mengungkit kesalahan para mantan. Kalimat-kalimat dari mulutnya pun terdengar berlawanan dengan niatan move on. Setiap pertemuan berujung pertengkaran, yang seperti disebut Juliana, berputar di satu titik, tak melangkah maju. Apa tujuan Adi? Seperti telah disebutkan, Adi bak mewakili generasi kekinian yang berlebihan dibingungkan oleh persoalan mantan karena terlampau senang menengok ke belakang. Mencapai destinasi, setumpuk masalah mungkin nihil resolusi, tapi satu hal pasti, Adi merasa tenang, memperoleh kepastian akan pilihannya. Mantan adalah kisah seseorang menempuh perjalanan akibat didorong ketakutan atas masa lalu. Adi tak tentu arah, bingung mesti berbuat apa, sebab sejatinya, tanpa sadar ia "hanya" ingin mendapat penguatan terhadap suatu keputusan.
Ditulis sendiri oleh Gandhi Fernando, naskah Mantan lebih kuat di tataran konsep ketimbang eksekusi. Premis seorang pria mengunjungi lima mantan kekasih memang unik, tapi di sisi lain sulit melakukan penggalian mendalam dengan jumlah tokoh pula konflik sebanyak itu, apalagi lewat durasi 75 menit. Ragam aspek mulai paparan hubungan Adi dan tiap mantan sampai alasan putus kurang solid dijabarkan, tenggelam di tengah dialog yang sesungguhnya berisi banter menarik namun acap kali tumpang tindih. Belum matangnya Svetlana Dea menyusun adegan juga berperan, di mana sang sutradara kerap kerepotan menangani momen pertengkaran secara rapi. Kurang tepatnya beberapa pilihan musik (orkestra dramatis yang tak selaras dengan nuansa low-key film kadang menyeruak) dan transisi adegan kasar  entah disebabkan penyuntingan lemah atau stock footage minim  turut melemahkan momentum.

Didominasi interaksi karakter di satu lokasi, Mantan tentu amat bergantung pada kualitas jajaran cast guna menyulut daya tarik. Ayudia Bing Slamet yang menggelitik melalui amarah tanpa henti dan komentar pedas, terdengar naturalnya lantunan kalimat Kimberly Ryder, Luna Maya dengan sisi glamornya, Citra Scholastica yang penuh semangat, hingga Karina Nadila selaku penampil paling memikat lewat sex appeal didukung interpretasi kompleks yang ia berikan bagi tokohnya, semua saling mengisi, meracik hiburan asyik. Berada di antara wanita tersebut, Gandhi Fernando memberi akting terbaik dalam karirnya sejauh ini, melontarkan kata, humor, serta emosi bersenjatakan antusiasme yang menyenangkan disimak. Begitu film berakhir, jangan buru-buru beranjak, karena ada mid-credit scene singkat yang mengungkap jati diri salah satu sosok penting filmnya.

10 komentar :

  1. Anonim12:20 AM

    bro, review film Curious cases of Benjamin Button bro:D dan menurut bro rasyid, brad pitt itu aktor yang bagaimana? he's my favorite actor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah maaf ya, sepertinya untuk review film lama sudah nggak sempat sekarang. Brad Pitt itu salah satu aktor paling karismatik yang bisa bikin adegan minum soft drink keren luar biasa :)

      Hapus
    2. Anonim2:35 PM

      wah begitu yaa, oke bro but that movie is really recommended to watch lho. pasti adegan WWZ ya itu hehe.......

      Hapus
    3. Yap, and he was good in Benjamin Button, favorit saya tapi tetep antara 12 Monkeys & Burn After Reading :)

      Hapus
  2. ini film syuting nya dr kapan ya?

    BalasHapus
  3. ***SPOILER ALERT***


















    Jadi adi itu gay ato gimana ya?

    BalasHapus
  4. Anonim10:01 PM

    Review berbayar yah huehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Luar biasa sekali tingkat suudzon saudara/i anonim ini :D

      Hapus