BAD GENIUS (2017)

8 komentar
Mengerjakan soal ujian adalah aktivitas melelahkan nan memusingkan, tapi jika ditambah menyontek, tercipta suasana yang sama sekali berbeda. Keringat dingin hasil ketegangan menentukan timing presisi, kekhawatiran jika pengawas memergoki, semua tumpah ruah. Terinspirasi dari kasus kecurangan tes SAT di Cina, Bad Genius selaku persembahan terbaru GDH 559 dengan Nattawut Poonpiriya (Countdown) duduk di kursi penyutradaraan, mampu menyulap aktivitas tersebut jadi suguhan heist intens, membuat karakter-karakter siswa SMA bagai kelompok pencuri ulung bawahan Danny Ocean. Bedanya, bukan brankas berisi ratusan juta dollar yang diincar, melainkan jawaban ujian.

Lynn (Chutimon Chuengcharoensukying) merupakan siswa teladan bernilai akademik sempurna plus beragam prestasi lain, menjadikannya bisa diterima di suatu sekolah prestisius sekaligus menerima beasiswa yang meringankan beban ekonomi sang ayah (Thaneth Warakulnukroh). Di sekolah, Lynn berteman dengan Grace (Eisaya Hosuwan) yang tidak sepertinya, jauh dari definisi jenius. Ketika datang saat ujian, mendapati sahabatnya kesulitan ditambah kegeraman atas praktik "bagi-bagi soal" sang guru memutuskan memberi contekan. Terjadi di ruang kelas biasa pula hanya melibatkan sepatu dan penghapus, momen sederhana  yang mungkin banyak dari kita pernah lakukan  ini memperlihatkan kapasitas Nattawut merangkai intensitas sekaligus gaya lewat pemanfaatan slow motion, iringan musik klasik, juga perpindahan gambar taktis.
Keputusan membantu teman itu tanpa Lynn duga bakal berbuntut panjang, berujung tindak menyontek masif nan terstruktur berkedok les piano yang melibatkan puluhan siswa, setumpuk uang, dan metode kreatif. Apakah metodenya terlalu rumit? Bisa jadi, namun tanpanya takkan hadir keasyikkan ala heist, di mana semakin kompleks, (biasanya) semakin seru. Dan naskah karya Nattawut bersama Tanida Hantaweewatana dan Vasudhorn Piyaromna telah menyiapkan beragam teknik menyontek yang bakal mendorong penonton terperangah sebab hanya akan terpikir oleh orang sejenius (dan senekat) Lynn. Puncaknya adalah tes STIC yang skalanya tereskalasi sampai taraf internasional sembari menambahkan satu lagi tokoh siswa jenius bernama Bank (Chanon Santinatornkul). Berbeda dengan Lynn, walau sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu (bentuk eksplorasi film atas kondisi sosial masyarakat Thailand), Bank menjunjung tinggi kejujuran.

Third act yang membentang sejak perencanaan sampai eksekusi dipacu cepat oleh Nattawut sambil tetap konsisten memacu ketegangan dilengkapi beragam kekhasan heist sebutlah kejutan hingga konflik pengkhianatan. Duduk diam terpaku, mencengkeram pegangan kursi, atau menggigit kuku sampai kandas jadi aktivitas wajar kala menyaksikan Lynn dan kawan-kawan menjalankan aksi nekat mereka. Mencapai titik puncak memang terkesan terlampau banyak permasalahan bertubi-tubi menghalangi jalannya rencana, tetapi kemasan dinamis Nattawut menjaga filmnya urung keluar jalur dan tidak berlarut-larut. Setumpuk persoalan itu berujung bumbu penyedap penambah intensitas yang cepat datang kemudian pergi, secepat penyuntingan yang dilakukan Chonlasit Upanikkit sebagai editor. 
Bad Genius turut bertindak selaku kritik terhadap sistem pendidikan yang tak hanya bisa diaplikasikan di Thailand, juga seluruh dunia. Para penyedia edukasi yang konon menjunjung tinggi kejujuran lewat tindakan mengecam kegiatan saling contek siswa yang kerap terjadi didorong asas kesetiakawanan tapi justru melakukan kecurangan jauh lebih besar tau boleh dibilang lebih terkutuk diberi sindiran. Meski halus, sindiran itu amat menampar, menghasilkan ambiguitas moral mengiringi perjalanan karakternya menyadari kebusukan dunia sekitar yang turut selaras dengan tone film, di mana paruh awal kental rasa high school drama penuh kehangatan canda pertemanan, lalu bergerak makin serius (meski tak menjurus kelam) mencapai akhir. 

Membicarakan soal moral value mempengaruhi pilihan konklusi yang sejatinya agak kurang mewakili semangat film heist. Namun bisa dimaklumi mengingat salah satu tujuan Bad Genius adalah mengkritisi tindak kecurangan dunia pendidikan. Menekankan pada nilai moral alih-alih glorifikasi atas kriminalitas wajar dilakukan, lagi pula naskahnya memastikan resolusi tersebut menjadi proses natural karakternya. Bad Genius juga diperkuat penampilan apik jajaran pemain mulai Chutimon Chuengcharoensukying melalui kejeniusan meyakinkan dalam tiap tuturan verbal maupun non-verbal penuh kalkulasi, Eisaya Hosuwan dengan mata bulat berbinar yang menyiratkan bahwa Grace hanya remaja baik-baik yang terhimpit keadaan, sampai kontribusi kekuatan dramatik oleh Thaneth Warakulnukroh. Bad Genius is a nail-bitting, stylish heist that you should watch 


Review Bad Genius juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_126Mj

8 komentar :

Comment Page:
Yanuar Abdillah mengatakan...

Nonton dimana bang

Rasyidharry mengatakan...

Jumat & Sabtu kemarin kan ada sneak preview midnight di CGV & Cinemaxx :)

Muji Subagja mengatakan...

gue di batam, liat schedulenya di CGV... kagak ada disini... huft

Rasyidharry mengatakan...

Emang baru tayang reguler tanggal 23 Agustus kok, kemarin baru sneak preview, harusnya weekend besok ada lagi :)

Febrian Prisley mengatakan...

mas kira2 a ghost story bakal tayang di bioskop ga ya

Rasyidharry mengatakan...

Kecuali bioskop berani ambil resiko besar untuk rugi atau dianggap bohong sama penonton, ya nggak akan tayang hehe

Febrian Prisley mengatakan...

mksdnya dianggap bohong gmna y mas

Rasyidharry mengatakan...

Haha nggak, bercanda kok itu. Tapi tahu sendiri banyak penonton kita sering aneh-aneh & malas cari info. Baca judul/lihat poster 'A Ghost Story' bisa dikira straight horror. Sudah sering kejadian. Tapi alasan terbesar sulit diimpor ya karena nggak akan laku.